Terjebak Cinta Ketua Preman

Terjebak Cinta Ketua Preman
Rencana


__ADS_3

Ponsel Tesla berbunyi, ternyata pesan dari Resma: "Mobil Yanra meledak, Bos. Ada yang ngebom nich!"


"Sialan!" Tesla mengutuk.


"Kenapa, Tes?" ucap Nilan.


"Ada masalah sedikit."


Tesla pun melirik ke Gesya, yang sedang menatap dengan bingung, lalu berdiri.


"Kamu urus Nilan dulu, Ges."


"Mau ke mana?" Nilan menyela.


"Ada urusan bisnis, Lan."


Tesla pun membungkuk kemudian mencium kening Nilan. Ternyata Nilan tak menghindar, melainkan tersenyum.


"Pulang bawa es krim ya, Tes."


Tesla tersenyum lebar.


"Iya, pasti saya bawain."


Kini dia meninggalkan ruang makan, menuju ke garasi; masuk ke mobil hitam, lalu pergi ke tempat Resma berada.


*


"Bos!" Resma memanggil.


Tesla mengangguk, seraya turun dari mobil. Matanya dipenuhi amarah yang tertahan. Dia yakin, bahwa pengeboman tadi sebenarnya tertuju ke Nilan.


"Ada yang masih idup, gak!?” tanyanya.


Resma pun mengangkat bahu.


"Pelakunya udah gue bunuh semua, Tes. Gue juga udah dapet apa yang kita butuh,” Resma menjawab seraya memutar-mutar belati.


"Siapa aja mereka?"


"Biasa, Geng Elang Api."


Geng Elang Api hanyalah salah satu gangster lemah, berharap dikenal di dunia bawah dengan menculik anggota Geng Pundalisa, atau FTP. Pundalisa memang lebih ditakuti dan terkenal. Elang Api melihat peluang, karena mendengar bahwa Tesla punya calon bayi.


"Hubungi Yanra. Saya mau tau segalanya tentang Elang. Bakal saya hapus keberadaan mereka, malam ini juga," ucap Tesla.


Resma mengangguk; memasukkan belati ke sarung lengan, lalu menyambar ponsel dari saku belakang.


Biasanya, Tesla tidak pernah ikut campur dalam urusan gangster. Dia hanya bertugas untuk memberikan perintah saja, sedangkan Gesya punya kelompok sendiri di sekolah, juga dikenal sebagai yang terkuat setelah kelompok Tesla. Namun, karena Nilan sudah diincar, Tesla takbisa tinggal diam sekarang.


Resma menekan nomor Yanra: berdering, tetapi takda yang jawaban. Dia pun ingin menelepon lagi, tetapi ditahan oleh gelengan kepala Tesla.


"Sebentar lagi juga si Yanra datang, jadi gak usah telpon lagi," ucap Tesla.


Resma mengangguk. Benar saja, Yanra langsung datang. Mobilnya melaju kencang ke belakang mobil Tesla.


Yanra turun, lalu merogoh tas. Resma mengernyit, lalu bertanya-tanya: apa yang dibawa Yanra? Ternyata, Yanra mengeluarkan bunga dan lilin, lalu mendekat.


Resma heran, lalu melirik Tesla yang sedang menyiapkan pistol.


“Mobil lo meledak noh, Ra," dia memberi tahu Yanra seraya menunjuk ke bangkai mobil yang terbakar.


Yanra pun menghela napas panjang seraya menggeleng, sedangkan Resma kini menyingkirkan jenazah dua orang musuh; mengambil lilin Yanra, lalu menggunakannya untuk mengiringi kemusnahan mobil.


Yanra merogoh saku celana, dan ... ternyata tak menemukan korek api.


Dia pun menoleh ke Tesla, "Lo punya korek api, Tes?" lalu bertanya.

__ADS_1


“Gue kan gak ngerokok, Ra."


Akhirnya Yanra mendekat ke arah pintu mobil, yang apinya tersisa sedikit lagi; menghela napas, lalu menyalakan rokok.


“Gue pasti bakal ledakin tengkorak orang yang ngelakuin ini!” ucapnya.


Merela semua memang memiliki ikatan hati dengan mobil masing-masing. Jika mobilnya dipakai orang lain, Yanra tidak mengapa. Namun, jika melihat mobilnya terbakar seperti ini, Yanra benar-benar bersedih.


Resma, Yanra, kini berjalan kembali ke tempat Tesla berdiri.


Resma mencelupkan tangan ke saku.


“Ayo kita mulai!”


Tesla dan Yanra pun mengangguk, seraya tersenyum.


*


Dua jam sudah berlalu, kini mereka mendapatkan semua informasi tentang Geng Elang. Ini karena Yanra berhasil meretas. Elang memiliki lima puluh bawahan dan lima atasan, sedangkan yang Resma bunuh tadi hanyalah bawahan. Tesla segera membuat rencana: Resma dan Yanra yang memulai, sedangkan Wili dan Gesya akan bersama Tesla di belakang. Sebenarnya, Gesya tidak disertakan, tetapi dia memaksa turut serta.


Jadi, Wili bisa tinggal di istana untuk menemani Nilan, bersama Hasmi tentunya.


"Nanti malam, kita pergi ke markas Elang. Gak usah peduliin Nilan kalau dia nanya-nanya. Kalian hadapi bawahannya, biar saya hadapin pemimpinnya, Hlhidup atau mati,” ucap Tesla.


Dia duduk di belakang meja seraya mengepalkan tinju.


Yanra menambahkan berita, bahwa Elang adalah bawahan dari kelompok Anazol—musuh bebuyutan Pundalisa. Merekalah yang membunuh Eva Pundalisa—kakak perempuan Tesla, dan sekarang menginginkan kejadian itu lagi, bahkan membuat perlombaan: siapa yang pertama membunuh Nilan, akan mendapatkan hak istimewa untuk bergabung dengan Anazol.


"Saya bakal memburu semua bajingan itu," Tesla menambahkan.


Elang hanyalah permulaan, karena kelompok lain juga akan mengikuti perlombaan. Jadi, Tesla ingin mendahului, sebelum Elang bertindak.


"Ya, kayaknya kita bakal bersenang-senang lagi sekarang," ucap Resma.


Dia memainkan belati dengan jari, yang merupakan senjata favorit, dan dibawa ke mana pun selain kamera.


Tesla mengangguk.


"Kamu gak bisa pergi lama-lama. Nanti Nilan kangen sama kamu. Saya aja gak ngizinin dia ikut. Lagian, ini masalah harga diri keluarga kita, jadi saya juga gak boleh duduk doang.”


Gesya hanya diam karena Tesla mengatakan hal yang benar. Gesya adalah pusat perhatian Nilan sekarang, yang pasti akan dirindukan.


"Ih, ngebosenin jadinya,” ucap Willi.


"Tenang aja, Wil. Lo gak bakal bosan karena ada tiga cewek sama lo. Semuanya bikin sakit kepala," Resma menggoda Yanra sambil tertawa, yang masih kesal karena ditinggalkan dan takboleh ikut bertarung, "harusnya lo cemas, Wil, kakak perempuan lo juga jadi target besar mereka."


"Gue setuju," tambah Gesya.


Yanra memutar mata.


"Gen keluarga gue emang bibit unggul, Resma," dia berkata kemudian melirik ke Gesya, "kapan lo mau nikah sama adik gue, Ges? Biar gue resmi nyambut lo ke dalam Keluarga Kirai."


"Jangan sembarangan ngomongnya, Ra," Resma menyela.


Gesya dengan cepat mengambil belati dari tangan Resma, lalu melemparkannya ke Yanra, hampir saja kena. Yanra pun menelan ludah.


Gesya berdiri, "Jangan sampai kamu ngira kalo saya ada hubungan sama si Yura," lalu berkata sambil meninggalkan ruangan.


"Adik lo galak banget sih, Tes?" ucap Yanra.


Tesla pun tertawa; mengangkat kaki ke atas meja, lalu mengangguk ke arah Resma. Willi tersenyum penuh arti.


Yanra mengernyit.


"Kalian kenapa? tanyanya.


"Ra," Resma nenyahut.

__ADS_1


Yanra menoleh ke Resma yang tampak serius dan dalam mode bisnis, "Kenapa Sena?" lalu bertanya lagi.


"Mau liat mobil lo sebelum meledak gak?" Resma menjawab, "saya ada nih fotonya," sambil mengangkat kamera.


Yanra menghela napas. Resma benar-benar pintar, tahu bagaimana Yanra meratapi mobil.


"Bilang aja, lo mau minta harga, kan?" ucap Yanra yang kini menyandarkan kepala ke sofa.


Willi tertawa keras.


"Tenang, Tesla udah bayar semua," ucap Resma.


Yanra pun melirik ke Tesla yang kini berdeham serta menodongkan pistol.


"Nilan minta sesuatu," ucap Tesla.


Yanra mengernyit.


"Kenapa sama si Nilan?"


"Kayaknya dia suka banget sama mobil kamu yang satunya, Ra."


Yanra tiba-tiba bingung.


"Itu karena gue ganteng, Tes. Gak papa kalo dia mau pakai mobil yang itu, sepuasnya dia aja."


Resma dan Willi terkekeh.


"Nah," Tesla berkata seraya berjalan menuju pintu, "Nilan bakal seneng nanti. Sudah lama dia minta ganti warna mobil kamu, jadi ping, sama motif es krim," lalu kembali ke istana di mana Nilan berada.


Rahang Yanra hampir jatuh. Willi dan Resma tertawa keras.


*


"Makasih ya, Tes," ucap Nilan.


"Iya, Sayang," jawab Tesla yang kini mencium kening Nilan.


Nilan menahan diri agar tak terdorong Tesla, dan jatuh ke tempat tidur. Kini dia memeluk Tesla seraya menyandarkan kepala. Tesla pun membalas pelukan.


Jika bukan karena Yura, Nilan tak akan pernah mencintai Tesla. Sekarang dia sudah jatuh cinta—berkat kamera mata-mata yang dipasang Yura pada Yanra, dia jadi tahu semuanya, juga tahu beberapa orang sedang menginginkannya mati.


Dia beremosi saat mengetahuinya.


"Ya Tuhan! Sudah hamil, malah dengar ancaman," batinnya.


Dia kini menghargai bahwa Tesla akan melakukan apa saja, untuk melindunginya, tetapi kesal karena Tesla tidak mau memberi tahu.


Itulah sebabnya, Yura dan Nilan berencana untuk mengikuti Tesla dan anak buahnya. Yura juga kesal karena mereka tidak mengajaknya. Berbeda dengan Hasmi, yang tentunya diajak Wili menemani.


"Gue gak sabar, mau liat mobil Yanra yang udah dicet jadi ping, Tes."


Tesla tertawa, "Besok juga kamu bakal liat," lalu menjawab.


"Tapi gue boleh ngetir, kan?"


"Gak! Saya yang nyetir."


Nilan mendengkus.


Tesla terkekeh kemudian mencium puncak kepala Nilan.


"Tidur, Eskrim, jangan begadang."


Nilan menekan keinginan untuk memutar mata. Ini baru jam delapan malam, jadi dia mengira, bahwa Tesla menyuruhnya tidur agar bisa pergi.


Dia pun menghela napas; berpura-pura menguap, lalu membenamkan wajah di dada Tesla.

__ADS_1


"Gue tidur dulu, Tes."


__ADS_2