
Hasmi dan Nilan memanfaatkan waktu sebaik mungkin, meskipun Tesla dan Willi selalu mengikuti. Bahkan, Tesla dan Willi diminta untuk membawa belanjaan, hingga keduanya menjadi kesal. Karena terus mengikuti dan tidak memberi ruang, terutama Tesla, keduanya jadi ikut berada di toko pesta pernikahan. Hal yang membuat Nilan kesal, adalah Tesla yang malah menjadi pusat perhatian pelanggan, serta para staf wanita.
"Berhenti bersikap genit, Tesla, kalau gak mau gue lempar troli," Nilan mengancam seraya menatap tajam.
Kini mereka duduk bersebelahan di sofa panjang, Tesla dan Willi duduk di tengahnya. Nilan melakukan perawatan kuku, sedangkan Hasmi berdiri di depan cermin, merubah warna rambut menjadi pirang agar tak mencolok.
Tesla menghela napas kemudian memegang pinggang Nilan, "Eskrim, saya cuma bersikap ramah sama mereka," lalu berkata dengan senyuman menggoda, serta mendekatkan wajah ke telinga Nilan, "kamu tambah seksi kalau cemburu."
Nilan pun menatapnya dengan ekspresi taksuka.
"Gue sih gak cemburu, cuma bayi gue gak suka aja liatnya."
"Bayi kita, Eskrim," Tesla mengoreksi, sambil membelai perut Nilan seraya tersenyum.
"Jadi, Kak Nilan lagi hamil?" wanita yang sedang melakukan pedikur memotong obrolan, dengan terdengar keras, menarik perhatian semua orang di sekitar, yang kini menatap perut Nilan.
Tesla kemudian bergerak ke perut Nilan; membelainya, "Ya," lalu menjawab dengan bangga.
Nilan pun semakin memberikan tatapan tajam kepada Tesla.
Si pedikur jadi terdiam kemudian memalingkan pandangan ke perut Nilan, yang jelas terlihat karena sedang duduk. Nilan mengernyit, bertanya-tanya apa yang ingin ditanyakan si pedikur, lalu menatap sinis. Si pedikur kemudian kembali fokus pada pekerjaan di kaki Nilan. Nilan menggeleng, semakin kesal karena situasi ini. Dia pun melihat sekeliling, merasakan bahwa orang lain masih menatapnya. Beberapa di antaranya menyesali reaksi Tesla. Bahkan, wanita di sofa seberang yang juga sedang melakukan pedikur, memandang Tesla dengan penuh keinginan.
Nilan semakin frustasi. Dia pun kembali menatap Tesla, lalu terkejut karena wajahnya Tesla jadi dekat sekali dengan wajahnya. Mata Tesla kini menembus mata Nilan.
"Berhenti natap gue kayak gitu atau gue pukul lo sekarang," ucapnya, pelan-pelan.
Karena tak mau terlihat terpengaruh, Nilan memutar mata kemudian memalingkan wajah ke luar jendela.
*
Tiga puluh menit pun berlalu, mereka keluar dari salon; sampai di tempat parkir, lalu berpisah.
Hasmi dan Willi hendak pulang ke kos, sedangkan Tesla dan Nilan ingin menuju istana.
"Sampai ketemu lagi ya, Nilan," Hasmi berpamit sambil mencium pipi Nilan.
Dia kemudian duduk di kursi penumpang mobil Willi. Nilan pun tersenyum.
Tesla memegang lengan Nilan kemudian membawanya ke mobil. Dia membuka pintu untuknya, Nilan masuk. Tesla duduk di kursi pengemud, lalu memutar kuncinya. Nilan kemudian mencoba mengenakan sabuk pengaman, tetapi Tesla menghentikannya.
__ADS_1
"Sini gue bantu," Tesla berkata, lalu dengan cekatan membetulkan sabuk pengaman Nilan.
Mereka semakin intim. Aroma parfum Tesla pun kembali menghampiri Nilan. Nilan takbisa menahannya. Dia menghirup aroma ini sehingga Tesla tertawa. Kini Tesla membetulkan sabuk pengaman sendiri kemudian menoleh ke Nilan.
"Kayaknya, kamu udah nafsu banget nih ke saya, bukan ke Gesya, kan?"
"Gak!"
Nilan pun merebahkan kursi untuk mencari kenyamanan; menyilangkan tangan, lalu memalingkan wajah ke luar jendela.
"Gesya wanginya lebih enak," Nilan berbohong dengan mata terpejam.
Dia takingin memberi kesan terpesona kepada Tesla.
**
Tesla melihat Nilan, yang ternyata sudah tertidur. Nilan memang sudah lelah, setelah seharian berbelanja dengan Hasmi. Sekarang Tesla tidak akan meninggalkannya sendirian, karena Nilan sudah menjadi target utama para musuh.
Tesla menggeleng, lalu memusatkan perhatian kembali ke jalan. Betapa saat ini, dia sampai rela membayar, hanya untuk mengetahui pikiran Nilan.
Seiring berjalannya waktu, sikap Nilan jadi semakin murung. Bagi Tesla, Nilan begitu tak terduga. Namun, Tesla takbisa menahan senyum setiap melihatnya cemburu. Meski Nilan belum mau mengakui, Tesla yakin bahwa Nilan memang cemburu. Bahkan, Tesla merasa hampir terbunuh karena dipelototi Nilan, saat ada wanita lain yang tersenyum padanya. Namun, Tesla memaklumi. Pikirnya, itu berhubungan dengan kehamilan Nilan, bahkan Nilan semakin cantik di matanya ketika marah-marah. Tesla pun senang memprovokasinya lebih lanjut.
Gerbang kompleks kelompok Pundalisa terbuka, mobil Tesla masuk. Tesla membuka jendela mobil, lalu mengangguk kepada anak buah yang tersebar di sekitar. Dia melaju menuju rumah, lalu memarkir mobil di depan. Dia tidak membangunkan Nilan, karena yakin bahwa Nilan akan marah jika tidurnya terganggu. Dia pun keluar dari mobil; melemparkan kunci ke satu staf, lalu pergi ke sisi penumpang; membuka pintu; melepaskan sabuk pengaman Nilan, lalu meletakkan lengan kiri untuk menopang kepala dan punggung Nilan, sementara lengan kanan diletakkan di belakang lutut Nilan. Dengan hati-hati, Tesla membawanya keluar dari mobil, menggendongnya masuk ke dalam rumah.
"Kayaknya Bos udah terlalu bikin Nilan lelah," Yanra menggoda sambil tertawa, 'berapa ronde, Bos?"
Jika bukan karena Nilan, Tesla pasti sudah menendang si Yanra. Dia pun tak menjawab. Sebaliknya, dia memindahkan perhatian ke Gesya.
"Ada masalah pengiriman gak?" tanyanya.
"Udah saya urus."
Tesla mengangguk, percaya pada adiknya: tidak ada yang tidak mampu dilakukan oleh adiknya.
"Geng serigala udah diancurin sama Bos Hesya," kata salah satu anak buah.
"Bagus," respons Tesla.
Dia kemudian menggeser posisi Nilan dalam pelukan, merasa bahwa Nilan memegang erat bajunya, serta menempelkan wajah ke dadanya. Nilan benar-benar masih terlelap
__ADS_1
"Mobil Yanra gimana?" Tesla bertanya.
Dia pernah berpesan kepada Resma untuk mengecat ulang mobil Yanra, sesuai permintaan Nilan.
"Tinggal dikasih gambar es krim aja, Bos," Resma menjawab.
Dia menahan tawa karena wajah Yanra kini cemberut.
"Oke, lanjutkan," sahut Teslam
"Bos, gue gak keberatan kalo warna mobil jadi merah muda, asalkan jangan dikasih gambar-gambar kirim aja. Gimana?"
Tesla membungkuk kemudian meletakkan Nilan di tempat tidur.
"Kalau itu maunya Nilan, mau gimana lagi?" jawabnya.
"Gue berencana buat rekam lo waktu nyetir mobil merah muda berhiaskan pernak-pernik es krim. Hahaha," kata Resma.
Yanra memutar mata.
Tesla hanya menggeleng.
***
Sejak Nilan tinggal di sini, dia menguasai kamar Tesla. Bahkan, Tesla pernah diusir dari kamar sendiri saat Nilan marah. Tesla jadi sering tidur di sofa, meski kadang-kadang diperbolehkan tidur di samping Nilan.
Dua bulan pun berlalu. Selama ini Tesla berperan sebagai pasangan Nilan, meski belum berhubungan seksual. Rencananya, Tesla akan menikahinya meski harus memaksa. Baginya, itu adalah hal yang benar demi anak. Dia juga bertekad: hubungan pernikahan takakan berakhir setelah kelahiran anak, siap memberikan keluarga utuh, juga perlindungan yang lebih besar.
Dengan hati-hati, Tesla meletakkan Nilan di tempat tidur, lalu melihat isi lemari. Lemari ini terbagi menjadi dua bagian: sisi kiri untuk pakaian Tesla, sisi kanan untuk pakaian Nilan. Tesla berganti celana olahraga kemudian memilih salah satu kemeja flanel.
Dia tersenyum, berencana untuk mengejutkan Nilan esok hari dengan pakaian baru. Karena ingin memastikan Nilan tidur dengan nyaman, dia berusaha untuk tidak memperhatikan, saat melepas dan memakaikan pakaian. Ini karena pesona tubuh Nilan masih membekas di pikirannya, hingga teringat akan malam pertama di acara pesta.
"Saya jatuh cinta sama kamu, Nilan," bisik Tesla.
Dia pun mencium kening Nilan yang halus; berbaring di samping Nilan, lalu menutup mata, sehingga merasa damai dan bahagia.
Merangkul tubuh Nilan, Tesla jadi merasa tenang. Meski akan ada rintangan dan bahaya di masa depan, Tesla bertekad untuk selalu ada di samping Nilan, melindungi dan mencintai tanpa henti.
Dengan senyuman, Tesla terlelap.
__ADS_1