Terjebak Cinta Ketua Preman

Terjebak Cinta Ketua Preman
Cemburu


__ADS_3

"Eh, udah bangun si Es krim. Selamat pagi, Sayang," ucap Tesla.


Nilan baru saja terbangun, dan langsung bertemu wajah Tesla. Tesla membungkuk kemudian mencium pipinya.


"Aneh banget si Tesla, kenapa dia bersikap kayak orang pacaran?" Nilan berbatin kemudian mendorong wajah Tesla, "Gak usah dekat-dekat, Tes!"


Tesla berlalu dan duduk dibatas meja sebelah.


"Jangan galak-galak dong, Lan. Tadi malam saya tidur di sofa, jadi pagi ini kamu harus ngehangetin badan saya."


Yanra yang duduk di seberang tertawa terbahak-bahak.


"Wah, belum nikah aja, lo udah tidur di luar, Tes, apalagi klo udah nikah? Wakawaka ...," ucapnya.


Tesla pun menghela napas, "Bener, gak kebayang kalo nanti nikah sama dia, betapa kejam sikapnya sama saya," lalu menyahut.


Nilan menyipitkan mata kemudian memandang mereka dengan jahat. Meski mereka berada di depannya, mereka seperti takpeduli kehadiran Nilan.


"Setahu gue, kalian itu cowok pendiam. Kok sekarang ngeselin sih? Lo juga, Yanra. Berhenti cengar-cengir, wajah lo mirip kambing, tau gak!" bentak Nilan; Yanra segera menghapus senyum dari bibirnya; Nilan kini menoleh ke Tesla, "lo juga, Tes. Walau lo bapak dari bayi gue, bukan berarti gue mau nikah sama lo," seraya mengabaikan serealnya.


Tesla menatap Nilan, "Bayi itu harus pakai nama belakang Pundalisa," lalu berkata.


Nilan menjatuhkan sendok, "Gue gak butuh marga lo," lalu menyahut seraya membalas tatapan.


"Tapi anak saya butuh, Lan!"


"Gak! Gue gak mau kalo bayi ini pakai marga lo, nanti dia gak bisa hidup tenang!"


Yanra bersin, mencari perhatian.


"Teman-Teman, gue tahu gue ganteng, tapi tadi cuma bercanda. Kalian gak perlu berdebat masalah gituan, mending abisin sereal lo, Lan," ucapnya.


"Ini memang harus dibahas, Ra. Udah lama gue nunda," Tesla menyela.


Ya, dia memang sudah lama ingin membicarakannya, tetapi selalu gagal karena selalu menunda, atau selalu menghindari percakapan ini.


"Anak saya harus bermarga Pundalisa, Nilan. Saya mau kita nikah secara resmi.”


"Gak mau!"


“Ayolah, plis!"


"Gue gak minat nikah sama lo, Tesla."


"Plis ....”


"Nanti kita bicara lagi," Nilan memungkas.


Dia menatap Tesla dengan buruk, lalu menoleh.


Gesya baru saja memasuki ruang makan. Nilan jadi tersnyum melihatnya. Gesya menguap kemudian meregangkan tubuh seraya memutar mata.


"Ya Tuhan! Dia menggemaskan!" batin Nilan.


Roti sobek di perutnya terpampang jelas karena hanya memakai Boxer.

__ADS_1


Yanra tertawa, lalu berbicara dengan Tesla. Namun, Nilan mengabaikannya. Dia sedang fokus melihat malaikat.


"Selamat pagi, Gesya," Nilan menyapa, lalu menepuk kursi di sebelah, "duduk sini."


“Ya," Gesya membalas kemudian duduk di samping Nilan.


Dia menghela napas seraya menyisir rambut dengan jari.


"Ih ... manisnya!" Nilan berbatin sambil menggigit bibir bawah, "dia ganteng banget! Gak bakal bosen gue liat dia seharian."


“Hahah, kayaknya si Nilan naksir sama adek lo, Tes," ucap Yanra.


“Diam kamu, Ra."


“Wokeee, tapi gue saranin, lo harus cepetan PDKT sebelum bayi lahir, supaya Nilan gak kesal lagi sama kita. Si Gesya memang saingan kegantengan gue nomor dua.”


Mata Tesla menatapnya dengan penuh tanya.


"Nomor satunya ya tetap lo, Tes," tambah Yanra karena ketakutan.


Rahang Tesla mengencang, cengkeramannya di garpu semakin menguat. Tatapan jahatnya seolah sedang menembak.


Nilan tertawa.


“Loh, kok lo kelihatan kayak babunya Gesya sekarang, Lan?” ucap Yanra.


Nilan tak menjawab, tetap fokus ke Gesya.


"Gesya Sayang, lo mau makan apa? Brownis, telur dadar, ikan bakar, apa nasi goreng?”


“Apa aja."


"Oke."


Akhirnya Gesya menghadapi banyak makanan di atas meja.


"Makanlah, Gesya Sayang, biar lo sehat. Bayi saya juga pasti tampan kayak lo nanti, gak kayak mereka itu," Nilan berkata, tetapi sambil sesekali menatap Tesla.


Yanra tertawa terbahak-bahak seperti hampir tersedak. Dia pun meraih segelas air kemudian meminumnya. Otot-otot wajah Tesla berkedut, menahan rasa kesal.


Gesya mulai makan. Nilan menuangkan tiga gelas jus: jeruk, susu, dan teh di depannya.


“Jangan minum kopi ya, Gesya, gue gak mau bayi ini kulitnya cokelat."


Gesya pun mengangguk.


“Bagus! Apa lo mau makan yang lain? Bilang aja, biar gue masakin."


“Saya mau sosis goreng," Tesla menyela.


“Lo diam, Tesla! Gue gak nanya lo."


Yanra tertawa terbahak-bahak lagi. Dia berhenti setelah tatapan tajam Tesla menyerang wajahnya.


“Gak usah repot-repot, Kak," ucap Gesya.

__ADS_1


Mata Nilan berubah bentuk seperti hati berwarna merah sekarang.


“Wah, lo manis banget sih, Ges," pujinya.


Dia meremas kedua pipi Gesya.


Secara perlahan, Gesya melepaskan cengkeraman Nilan, lalu menghela napas. Tesla iri pada Gesya; wajahnya murung.


"Gue emang sengaja buat lo frustrasi, Tesla, biar tahu rasa lo," Nilan pun berbatin.


Tesla mengira bahwa Nilan sedang marah, sedangkan Yanra merasa tersaingi oleh ketampanan Gesya.


Yanra memindahkan kursi kemudian membungkuk di atas Tesla.


"Bos, kayaknya lo harus banyak berdoa," sarannya.


"Kenapa emang?" Tesla menjawab tanpa menatapnya, tetapi sibuk memperhatikan Nilan yang kini menjadi pelayan Gesya.


"Lo tau gak, Ges. Si Nilan itu lagi hamil. Semoga bayinya gak lahir dipenuhi kebencian. Hahaha," Yanra malah memberi penjelasan ke Gesya.


Ini membuat Tesla langsung menodongkan pistol ke arahnya.


"Silakan berdoa juga kamu, Ra," ucap Tesla.


Yanra mengangkat kedua tangan, lalu bergegas ke luar ruangan.


"Yaudah, gue berangkat dulunya," ucapnya.


"Ya," Tesla menjawab; menurunkan pistol, lalu meletakkannya di atas meja.


Matanya masih tertuju pada Nilan, dengan mulut terkatup rapat.


"Umur lo berapa, Ges?" ucap Nilan.


"17 tahun."


"Wow, masih belasan tapi perut udah kotak-kotak!"


"Karena saya kerja."


"Kereeeen!"


Si Tesla pun mengepalkan tinju karena Nilan menyentuh perut Gesya. Nilan memang sedang terpesona sungguhan. Menurutnya, perut Gesya lebih bagus dari milik Tesla, meskipun sebenarnya, milik Tesla terlihat lebih jelas dari milik Gesya. Ini karena hampir setiap hari Nilan melihat perut Tesla, tanpa pakaian. Jad, dia sudah terbiasa dan tak terlalu merasa 'wow'.


"Tesla, awas ya kalo lo larang Gesya buka baju kayak gini. Gue gak mau lo halangin gue liat perutnya!"


"Dih, siapa juga yang punya niat kayak gitu. Kalo dia pakek baju, bukan berarti saya yang larang!"


"Gue lebih suka perut dia!"


"Kamu ini milik saya, Nilan. siapa pun yang berani rebut kamu, bakalan saya bunuh nanti."


"Booo ... mat!" Nilan memungkas kemudian menoleh ke Gesya, "gue naksir sama mata lo, Gesya Sayang, warnanya coklat kayak beng-beng."


Tesla pun menggertakkan gigi. Darahnya mendidih karena mendengarnya. Namun, dia mencoba untuk tetap tenang, karena tahu takada gunanya merengek perhatian.

__ADS_1


Gesya hanya tersenyum.


"Terima kasih, Kak. Kakak juga punya mata yang indah, mirip permata."


__ADS_2