
Nilan langsung menarik diri, meskipun lengan Tesla yang sangat pulas ini tetap di pinggangnya. Nilam melihat sekeliling; keningnya jadi berkerut. Jelas, di sini pasti bukan kamar kosnya, apalagi milik Tesla.
"Sebenarnya di mana sih gue? Kenapa gue bisa ada di sini?"
Tiba-tiba dia ingat tentang kejadian semalam: diculik Furqon, diancam, bahkan hampir ditembak. Namun, Tesla datang kemudian menembak kepala Furqon. Yang terakhir Nilan ingat sebelum pingsan adalah jeritan diri sendiri.
Nilan pun merasa ngeri, karena Tesla telah membunuh di depan matanya tanpa ragu-ragu; merinding, mengingat akan kepuasan yang terlihat di mata Tesla, saat Furqon meninggal; tak menyangka, ternyata ayah dari bayinya adalah seorang kriminal, bahkan berbaring bersama sekarang.
"Ya Tuhan ...."
Nilan bergegas bangun; meliuk, agar keluar dari pelukan Tesla yang tertidur seperti batu. Kaki telanjangnya menyentuh lantai. Dia pun sadar bahwa tubuhnya tak mengenakan gaun semalam, tetapi memakai kemeja Flanel berlengan panjang, sehingga bagian tangan hampir tertutup. Panjang Flanel sampai setengah paha, dan baunya seperti Tesla. Namun, dia takingin membayangkan siapa yang mengganti gaunnya.
"Sialan!" gumamnya, pelan.
Kini dia mengangkat tangan untuk menutup mulut, marena tiba-tiba perutnya melilit. Dia pun menyebrangi ruangan, lalu membuka pintu cepat-cepat, berharap memasuki kamar mandi. Dia menghela napas lega karena melihat mangkuk toilet, jadi segera membungkuk di depannya; muntah, meski perut sangat kosong.
"Mual pagi yang luar biasa!"
Akan tetapi, dia merasa ada seseorang yang mendorong kepala. Karena hanya dia dan Tesla di ruangan ini, pasti orangnya adalah Tesla, pikirnya.
Tesla mengumpulkan rambut Nilan kemudian mengangkatnya. Salah satu tangannya membelai punggung Nilan.
"Kamu kenapa sih, Es Krim?" tanya Tesla, pelan.
Nilan pun terduduk di lantai. Tanpa kata, dia hanya mengangguk.
Tesla kemudian melepaskan rambut Nilan; berdiri; menutup keran, lalu berlutut di depan Nilan. Dia memberi segelas air dan sikat gigi ber-pasta.
__ADS_1
Nilan segera menerima. Dengan kaki goyah, dia berdiri. Tesla memegang tangannya kemudian mendukung.
Nilan pun menggosok gigi, lalu mencuci muka. Dia mengintip wajah di cermin, menatap heran karena matanya seperti mata Pandaβkarena π¦πΊππͺπ―π¦π³ semalam belum dihapus. Dia kemudian mengeringkan wajah dengan handuk, yang barusan diberikan Tesla.
"Ni cowok abis bunuh orang semalam, tapi sekarang bisa peduli banget. Heran gue."
Kini, Nilan grogi dan bingung mau berbuat apa; takut karena taktahu apalagi yang akan dilakukan Tesla. Namun, dia merasa lega karena takada lagi ancaman. Sekarang, setengah dari dirinya kewalahan karena kepedulian Tesla berlebihan, sekaligus khawatir karena Tesla adalah anggota preman. Dia juga tak pernah bermimpi sebelumnya, bahwa ayah dari bayinya adalah sang ketua.
"Kayaknya sih, gue mual karena lagi hamil," jawab Nilan.
Dia melipat handuk; meletakkannya di atas meja, lalu berputar menghadap Tesla. Mereka sudah taksabar membahas sesuatu.
"Okey," Tesla menjawab.
Dia tak banyak bicara, bahkan takada ekspresi di wajahnya. Namun, rahangnya mengeras, menunjukkan bahwa dia sedang menahan amarah.
Nilan bersandar di konter, seraya memperhatikan Tesla yang bersandar di pintu. Lengan Tesla disilangkan di dada yang telanjang. Dia pun melihat perut Tesla yang mirip papan cuci.
"Gini," Tesla berkata seraya menatap Nilan, sedangkan Nilan seketika menelan ludah, "semua jadi kayak gini karena kamu gak jujur sama saya, makanya si bajingan itu culik kamu."
Nilan membungkuk, tak mau menjawab. Kependiamannya membuat Tesla tahu, bahwa dia memang tak berniat memberitahu.
"Kenapa kamu gak bilang kalo lagi hamil anak saya!? Jangan egois dong, Lan."
Nilan mendongak keras kemudian menatap Tesla dengan tajam.
Seraya mengangkat dahi, "Emang! Gue gak nyesel udah bersikap egois! Gue cuma mau ngelindungin anak gue dari orang kayak lo!" dia meledak-ledak, "dan ternyata kalian berdua mau nidurin ****** yang sama!"
__ADS_1
Jika tatapan bisa membunuh, Nilan sudah pasti mati di tempat. Wajah Tesla pun berubah gelap; rahang terkatup; tangan mengepal. Nilan kini melangkah mundur; meski yakin bahwa Tesla tak memukul, tubuhnya tetap menggigil---tersinari mata Tesla yang dingin.
"Kamu gak tau apa-apa, Lan," Tesla merespons, seolah es dingin menutupi suaranya.
Nilan tak sempat menjawab, karena Tesla langsung berbalik dan berjalan ke luar kamar.
'Brak!!!'
Nilan kaget mendengar suara pintu dibanting.
*
Sudah satu jam, Tesla belum kembali. Nilan ingin menanyakan ponsel, karena pikirnya, pasti ada yang mengganti pakaiannya semalam. Dia ingin menelepon Hasmi, karena takut jika dikhawatirkan, terlebih ingin pulang dan sekarang taktahu di mana; berpikir bahwa Wili pasti tahu dan bisa menjemputnya pulang, apalagi sudah sangat kelaparan sekarang, dan ingin makan burger.
Nilan pun menyapu bersih kamar Tesla, tetapi tidak menemukan ponsel sama sekali. Akhirnya, dia memutuskan untuk meninggalkan ruangan; mengotak-atik lemari, untuk menemukan pakaian dalam, karena tak mau keluar jika dengan piama. Jadi, dia memilih celana πππππ hitam, tetapi kepanjangan, sehingga harus dilipat. Kini dia menyanggul rambut, lalu meninggalkan ruangan.
Jantungnya berdebar-debar. Matanya terbelalak. Rumah ini terlihat aneh di matanya. Dia takingin melirik ke mana-mana, karena pria berjas hitam bertebaran di lorong, menarik perhatiannya.
Dia menggigit bibir, gugup melihat mereka semua memegang senjata.
"Ya Tuhan, apa mereka semua preman? Jadi pengen balik ke kamar Tesla aja deh! Soalnya, di sana rasanya lebih aman."
"Kak!"
Hampir saja Nilan melompat, ternyata seorang pria sedang mendekat.
"I iya?"
__ADS_1
"Bos bilang, sarapan Kakak udah siap."
"Hah ...?"