
Sekarang dengan seenak hati Seokjoon menciumku, aku meronta menghentikan itu.
"Maniak gila," teriak ku.
"Jika kau tak menuruti kata ku, aku tak kan engan melepaskan mu," jawab Seokjoon.
Seokjoon masuk ke dalam mobil nya dan berjalan pergi.
"Jika bukan demi mencari rahasia itu, tak akan aku dekat-dekat dengan mu," ucapku dalam hati.
Aku masuk ke dalam rumah, Ayah yang ternyata menungguku di dalam.
"Ayah, mengapa belum istirahat," ucap ku pada Ayah.
Ayah menampakkan wajah gelisah, aku memutuskan menanyakan apa yang sedang baliau fikirkan.
"Yah, ada apa? katakan saja," ucap ku bertanya.
"Hyuna maafkan Ayah, Ayah menyembunyikan ini darimu, A Ayah," ucapan Ayah yang terputus-putus,
Aku menjadi semakin penasaran apa yang Ayah sembunyikan padaku.
"Ayah, katakan saja, Hyuna berjanji Hyuna tidak akan marah," ucap ku sembari menenangkan Ayahku.
"Dua puluh tiga tahun yang lalu, Ibu mu meninggal karna kecelakaan, sebenarnya Ibu mu menyelamatkan cucu dari Bos Ayah pak Hwanjin Park cucu pertama nya, saat itu Ayah mendapat giliran shift malam dan Ibu mu datang untuk mengantar makan malam, kamu di titipkan kepada Bibi Lin, tetangga kita yang dulu suka membuatkan roti jahe, Ibu mu datang dan memberikan Ayah makan malam saat Ibu mu akan pulang hujan turun sangat deras Ayah pergi ke dalam kantor untuk mengambil payung agar bisa di bawa Ibu mu pulang, ternyata saat itu mobil yang di kendarai anak Pak Hwanjin tiba-tiba mengalami rem blong dan tak terkendali menghantam lampu jalan, Ibu mu yang mendengar suara tangis dari dalam mobil berusaha membantunya, Ibumu menolong Park Sohoon putra Pak Hwanjin terlebih dulu karena telah keluar dari dalam mobil, Ibumu dengan sekuat tenaga menyeretnya, mendengar suara tangis anak dengan cepat Ibu mu mengambil anak itu, namun sayang mobil mereka meledak setelah Ibumu pergi tak jauh dari mobil, anak itu terpental dan Ibumu terkena api juga puing-puing mobil, Ayah sudah berusaha lari untuk menyelamatkan Ibu mu namun takdir berkata lain, Nak maafkan Ayah telah menyembunyikan ini, karna sebentar lagi kau akan menikah, Ayah rasa harus mengatakn ini,"
"Jadi Pak Hwanjin memberi jaminan dengan surat perjanjian pernikahan itu?," lanjutku bertanya.
"Pak Hwanjin membalas budi Ibumu dengan menjadikan mu menantu keluarga mereka, agar hudupmu kelak tercukupi," ucap Ayahku.
Alasan di balik perjanjian pernikahan itu ternyata sungguh menyakitkan, namun jika perjanjian pernikahan itu hanya ada rahasia ini, mengapa Yoonji juga bersi kukuh ingin menikahi ku, "ku rasa tidak semudah ini, alasan surat perjanjian pernikahan itu pasti lebih dari ini," batinku yang masih mencerna.
Aku yang selalu mengganggap kematian Ibuku hanya kecelakaan semata, ternyata semua demi keluarga Park itu.
Kebencian ini semakin membesar, aku tak bisa lagi mencintai orang yang menyebabkan Ibu ku meninggal, tentu juga rahasia surat perjanjian yang masih janggal untuk ku.
"Ayah, aku ingin istirahat," ucapku pamit pada Ayahku.
"Nak,"
Aku pergi menuju kamar tak menghiraukan Ayahku yang saat itu juga sangat sedih.
Tekat ku yang bulat untuk masuk ke dalam keluarga Park, mencari rahasia yang masih tersembunyi.
__ADS_1
"Hah, Ibu,"
Tak sadar mataku terpejam, hingga pagi tiba.
Aku bersiap berangkat ke kantor, aku masih mengingat perkataan Ayahku, dan masih mengingat tujuan ku.
Berangkat bekerja, manaiki Bus, sampai ke kantor.
Seperti biasa kegiatan kantor dan pekerjaan ku yang menumpuk karena banyaknya revisi yang aku lakukan.
"Makan siang bersama di Goldacafe" sebuah pesan text dari Seokjoon membuyarkan fakusku.
Aku harus mengikuti alurnya terlebih dahulu, karena aku juga tak mengerti bagaimana aku akan terjebak.
Waktu makan siang tiba, aku pergi ke cafe menemui Seokjoon.
Aku duduk berhadapan dengan nya.
"Mengapa hari ini sangat penurut," ucap Seokjoon.
"Aku lelah, jika aku tak menurutimu maka kau akan terus mengejarku," ucapku acuh.
"Hemm, menarik," balasnya.
"Apa ini?," tanyaku.
Seokjoon membuka kotak tersebut, sebuah cincin pasangan yang terlihat mewah.
Seokjoon mengambil satu cincin dan memakaikan nya di jari ku " ini tanda pertunangan kita," ucap Seokjoon.
"Apakah ini harus?," kataku.
"Akhir pekan keluargaku akan berkumpul, pergi bersama ku dan bertemu kakek," ucap Seokjoon.
"Pertemuan keluarga, sangat pas aku bisa masuk kesana dan mencari tahu semua," batin ku mencari kesempatan.
"Em, baiklah, jemput saja aku nanti," balasku.
Seokjoon mendekati ku, " apa!," teriakku.
"Kamu penurut sekali, katakan apa rencana mu," ucap Seokjoon meragukan ku.
"Ren rencana apa, maksudmu," balas ku sedikit gugup.
__ADS_1
"Hahaha, aku hanya bercanda, makanlah makanan mu," balas Seokjoon yang seakan-akan mentertawakan ku.
Aku memakan makanan ku, dan kembali ke kantor.
Terlihat dari jauh setan kecil yang suka mengganggu.
"Hyuna, kau makan siang dengan siapa, aku mencari mu," ucap Nami.
"Ada urusan mendadak dengan Pak Ketua, jadi kami makan di luar," jawab ku.
"Hyuna, katakan apa hubungan mu dengan Pak Ketua," ucap Nami.
"Rekan kerja," balas ku.
"Hyuna aku bersungguh-sunguh," balas Nami yang masih kekeh.
"Calon suami," jawab ku acuh.
"Hahaha, Hyuna aku bertanya padamu serius, ah kamu tidak asik, akhir pekan kita belanja yuk," ucap Nami tertawa.
"Tidak bisa, aku ada janji," balas ku.
"Hyuna, kau akhir akhir ini sibuk apa kau berkencan," ucap Nami yang penasaran.
"Iya seperti itu," ucapku dingin.
"Ah, sudahlah siapa laki-laki yang kamu sukai itu tak mungkin," Nami yang tak percaya kata-kataku.
Dia pun pergi meninggalkan ku, tentu saja teman ku itu tak mudah percaya, pasalnya setelah putus dengan Seokjoon aku tak pernah kencan dengan laki-laki lain, dan jawabku padanya juga tak seperti sedang serius, Nami meremehkan ku, itu bagus sedikit yang tahu sedikit pula resiko bagiku.
Bagaimana tidak di kantor ini banyak wanita yang tergila-gila dengan Seokjoon.
Karakter yang tegas dan dingin yang dia tunjukkan serta wajahnya yang tampan.
Waktu ku untuk pulang, hari-hari berlalu begitu saja, akhir pekan akan di mulai besok pagi, dan beberapa pekerjaan ku juga telah selesai aku revisi, libur bekerja tapi bagiku ini pekerjaan yang terbaru.
Berkamuflase atau menyamar, entah apa yang bisa terjadi di rumah Park.
Pesan text yang tertuju padaku.
"Aku di mobil depan rumah mu, lekas keluar" dari Seokjoon.
"Apa lagi yang maniak gila ini inginkan," batin ku,
__ADS_1
"Segera aku turun" balsan pesan tertuju pada Seokjoon.