Terjerat Cinta Lama

Terjerat Cinta Lama
Tenang sesaat


__ADS_3

Apa salahku sebenarnya, aku yang berfikir keras, mengapa aku selalu pergi ke lubang yang sama, aku yang befikir hidupku akan berjalan seperti layaknya orang-orang, namun bayangan itu hancur sebelum aku rasakan.


"Jadi benar kau hanya ke pesta pegawai ya?," tanya Yoonji padaku.


"Apa maksudnya itu?," tanyaku balik padanya.


"Emm, Hyuna mau kan kamu menikah dengan ku, karna kakak ku sudah menikah jadi aku bebas juga untuk menikah," ucap Yoonji mengagetkan ku.


"Apa! kau tidak waras ya, hah aku malas berurusan dengan keluargamu," jawabku pergi meninggalkan laki-laki itu.


Aku berjalan dengan fikiran kosong, aku berfikir akan mencari tempat istirahat, dan ku putuskan untuk duduk di tangga darurat.


"Sebenarnya apa yang aku lakukan dahulu, apakah ini karma atau apa, aku pusing memikirkan nya, hah," helaan nafasku berharap beban fikiran ku berkurang.


"Kemarin kakaknya, sekarang adiknya, aaarrgghh aku ingin teriak." aku yang memegang kepalaku dengan kedua tangan.


"Apa kau butuh pelampiasan?," ucap seseorang yang tiba-tiba keluar dari dinding tangga.


"Hah, Seokjoon! sejak kapan kau di situ?," tanya ku terkejut.


Aku syok melihat Seokjoon yang tiba-tiba muncul di hadapanku seperti hantu, dengan senyum seringainya, itu membuatku merinding.


Dia mendekatiku pelan pelan, aku hanya bisa diam membatu di jarak yang sangat dekat.


"Aku mendengar keluhmu Hyuna, jangan pernah terima Yoonji jadi suami mu kau miliku," ucap Seokjoon semakin mendekatiku.


"Ap apa yang kau k-kau maksud," gugupku yang nampak karena melihat Seokjoon semakin mendekatiku.


"Bukan kah sudah aku bilang kau milik ku, aku sudah menandaimu, atau perlu ku tandai lebih banyak agar kau mengerti, kau hanya boleh menikah dengan ku," bisik Seokjoon di telingaku sembari membelai rambutku.


Entah mengapa hatiku berdegup kencang, seperti saat dulu dia merayuku, rasa bersemangat ini juga muncul, aku takut setelah ini dia akan mencium ku, karena ini lah perasaan yang aku rasakan lagi setelah sekian lama.


Aku akhirnya merasakan perasaan ini, meski aku tau aku salah, namun mengapa diriku tak berdaya ingin melawan aku lemah hanya dengan tatapan matanya.


Wajah Seokjoon dekat sekali dengan ku, dia mulai menempelkan bibirnya padaku, dan mulai mencium mesra bibirku, entah mengapa mataku juga ikut terpejam dengan rasa nikmat yang telah datang.


Tidak boleh terjadi, aku yang bangkit dari kenikmatan itu mendorong badan Seokjoon hingga ciuman itu terlepas.


"Kau, kau sudah gila! hari ini pernikahan mu, kau harus nya malu," ucap ku keras pada Seokjoon.

__ADS_1


"Pernikahan bukan, ini hanya ritual saja untuk bisnis si keparat tua itu," ucap Seokjoon "Hyuna ini hanya sekedar perjanjian bisnis, wanita itu hanya ingin popularitasnya saja," sambung Seokjoon menjelaskan.


"Dengar Seokjoon, aku tidak peduli itu semua apa, untuk siapa, lagi pula kau dan aku kita telah usai, jadi biarkan aku hidup bebas, juga bilang pada adikmu, berhenti mengangguku," ucapku tegas kepada Park Seokjoon.


" Tak apa, aku akan dapatkan mu, asal kau tidak jatuh ke tangan laki-laki itu," ucapnya


Aku yang tak memperdulikan nya berbalik badan dan pergi, namun dari belakang Seokjoon menyentuh pundak ku.


"Aku tau kau menikmati nya, jadi selama ini aku juga masih ada di hatimu, rasa yang dulu ada hanya untuk ku, kau belum memberikanya pada orang lain," bisiknya di telingaku.


Sebelum aku terjerat lebih dalam, aku pergi meninggalkan nya, aku pulang terlebih dahulu ke rumah.


Suara nada sambung ponsel ku tertuju kepada sahabatku yang aku tinggalkan di pesta.


"Hyuna kau dimana, apa kau baik-baik saja?," tanya Nami dalam telpon.


"Aku baik Nami, aku pulang lebih dulu sepertinya aku tidak enak badan, kau bersenang senang lah," ucapku membuat alasan.


"Tapi Hyuna," ucap Nami yang belum selesai karena aku potong.


"Aku lelah, aku tidur dulu bay." kata terakhirku sebelum aku mengakhiri pembicaraan singkat ini.


"Hyuna ini Ayah, kau sudah pulang kan?," ucap Ayahku memanggil.


"Iya Yah, ini Hyuna sebentar Yah," ucapku bergegas menemui Ayah.


Saat aku keluar Ayah sudah menungguku duduk di kursi tamu, dari sorot mata Ayahku sedang serius, aku menjadi penasaran apa yang Ayahku ingin katakan.


"Yah, kenapa tiba-tiba Ayah ingin bicara padaku, ada apa?," tanyaku pada Ayah.


"Nak calon suami mu ingin bertemu dengan mu apa kau mau?," tanya Ayah padaku.


"Kenapa tiba-tiba Yah, ini mendadak sekali," jawab ku yang masih tak ingin menikah.


"Bukan, bukan besok, lusa malam dia ingin menemuimu," jawab Ayah yang sedikit ragu-ragu.


Nampak Ayah dengan nada pelan ragu-ragu untuk memintaku, karena Ayah tau yang terbaik untuk ku adalah diriku sendiri, tapi yang paling penting bagiku sekarang Ayahku, lagi pula aku sudah bilang akan menerima apapun yang Ayahku ingin kan dan siapapun orang nya.


"Yah, Hyuna akan pergi Ayah tidak usah memikirkan itu, Hyuna akan terima apapun yang Ayah berikan," ucapku sambil batin ku berkata " meski aku tak suka."

__ADS_1


Ayah ku yang tiba-tiba memeluk ku, menjadikan hatiku lemah.


Baru kali ini aku membenci mentari, karena aku akan bekerja dan melihat si gila Seokjoon di kantor, aku berangkak mandi dengan lemas karena semangatku sudah hilang bersama mimpi semalam.


"Apa aku melewatkan sesuatu, rasanya kantor ini auranya berbeda dari hari-hari sebelum nya," ucapku heran.


Aku yang mulai masuk ke dalam menunggu di depan lift, merasakan sebuah angin musim semi yang menerjang di sekelilingku.


"Pagi Hyuna?," tanya salah satu rekan kerjaku


"Pagi juga," jawabku dengan semangat.


Entah apa yang kurang, rasanya melegakan kerja di awal pekan.


"Jung Hyuna!," teriak teman ku Nami.


Tentu saja, aku tak ingat dengan malapetaka yang satu ini.


"Apa, ya ampun Nami gendang telingaku hampir pecah," ucapku kesal.


"Hyuna kemarin malam kau pulang tanpa pamit, ada apa? kau masih sakit kah? dimana? cepat beri tahu aku," kata kata teman ku itu aku tak mengerti sama sekali, karena dia mengucapkan nya seperti roller coaster.


"Nami sayang pelan pelan bicaranya, aku lebih memilih lomba academy matematika, ketimabang berbicara dengan mu," jawabku pasrah.


"Huhu, Hyuna syukurlah kau masih teman ku, khiks," air mata buaya teman ku satu ini memang tak perlu di ragukan.


Meski begitu, dia selalu perduli dan tulus, hanya saja mulutnya tak bisa di kontrol membuatku jengkel juga lama bersama dengnya.


"Iya ya, baik aku salah maafkan aku," ucapku mengalah.


"Ah, Hyuna ku," ucap Nami sembari merangkulku "eh, Pak Ketua Devisi tidak bekerja selama seminggu, apa karna masih pengantin baru ya?," ucap nya bergosip.


"Oh, pantas saja hari ini aura negativ hilang," batin ku lega.


"Biarkan saja Nami, mengapa mengurus hidup orang, lihat jam itu pekerjaan kita sudah di mulai, pergi ke mejamu," ucapku mengusir Nami.


"Siap Bu Wakil," pergi dengan cepat.


"Setidak nya aku akan bebas dari rasa khawatir selama seminggu kedepan," batin ku seperti mendapat nomor lotre.

__ADS_1


__ADS_2