
Masalah dengan Yoonji akhirnya selesai, namun benarkah ini berakhir, aku tak mengerti.
"Wakil Devisi datang ke ruangan ku," sebuah voice telfon dari Kepala Devisi.
Aku segera bergegas menuju ruangan Kapala Devisi mengetuk pintu dan segera masuk, dengan beberapa berkas yang ada di tangan ku.
Sudah aku sadari bahwa ini mungkin bukan pertemuan biasa antar pegawai dan atasan.
"Pak ini adalah berkas seminggu yang lalu, mohon untuk di teliti dan pengajuan klaim devisi marketing tinggal di tandatangani," ucap ku menerangkan.
"Aku melihat ada beberapa keuntungan yang bisa merugikan perusahaan dalam beberapa jangka pendek, segera siapkan rapat, dan undang Kepala marketing untuk menghadiri nya, menentukan harga yang cocok dengan ke untungan adalah tugas kita, siapkan sekarang," ucap Seokjon tegas padaku.
Tak kusangka, Seokjon yang fokus pada pekerjaan nya membuat dirinya terlihat sangat keren, dan aku yang sudah membuat fikiran yang negatif padanya hanya bisa terdiam dengan sikap kepemimpinan nya.
Segera aku menyiapkan ruang rapat, membuat undangan dan menyiapkan bahan rapat.
Hingga waktu rapat datang, hening juga hikmat mendengar Seokjoon yang berbicara dengan lantang.
"Harga pasar pasti akan melonjak seiring dengan keterbatasan bahan baku, jika kalian hanya mengambil ke untungan untuk tiga bulan kedepan itu sepadan namun apakah produk kita akan berjalan tiga bulan saja, kita harus melihat keuntungan jangka panjang, sebagai pihak marketing untuk cara penjualan lebih baik mengunakan taktik promosi namun dengan keuntungan yang sama, Devisi keuangan akan menghitung dengan rinci pengeluaran dan hasil agar sebanding dan menentukan harga yang pas menjadi keuntungan, kirimkan kami beberapa dokumen pemasaran, dan faktor lapangan,"
Beberapa kata yang aku ingat dari kepintaran seorang Seokjoon, yang tak ku sangka membuat semua karyawan kagum padanya.
Aku yang hanya melihat nya sebagai maniak tidak waras, juga kagum pada ketegasan nya.
Rapat selama dua jam telah berakhir, aku di tinggalkan untuk mengurus rapat dan merapikan semua nya kembali.
Pekerjaan ku menjadi lebih banyak karena revisi yang baru akan segera ku kerjakan, kembali ke meja dan mulai menata pekerjaan ku.
"Hyuna, ayo ayo cerita, bagaiman Pak Kepala saat rapat tadi," ucap Nami yang tiba-tiba datang ke mejaku.
"Kau seperti setan ya, gentayangan kemana-mana, membuat ku terkejut," ucap ku membalas.
"Ah, Hyuna!," rengek Nami.
"Iya, ya apa yang kau mau," ucapku terpaksa meladeni setan kecil.
"Aku mendengar tentang Pak Kepala saat rapat, dan para karyawan bilang Pak Kepala sangat keren, ah kenapa Pak Kepala tidak masuk di devisi ku saja, huhu," ucap Nami.
"Ya, kali ini memang ku akui, perencanaan Pak Kepala sungguh luar biasa, emm memang keren," ucap ku melantur.
Tiba-tiba dari belakang ku, terdengar suara " aku tau, aku memang keren," ucap Seokjoon membuat ku dan Nami terkejut.
"Ah, Pak Kepala," ucap Nami kaget.
__ADS_1
"Eh, apa yang Pak Kepala lakukan diam diam," kata ku menindih.
Namun Seokjoon malah mendekati ke arahku, membuatku menjauh, dan terhantuk meja Seokjoon yang sangat dekat, berbisik kepadaku " Kau sudah menyukai suami mu ini kan," bisik Seokjoon di telingaku.
Nami yang melihat itu hanya diam menganga membuka mulutnya, membuat ku merasa malu.
"Bekerjalah dengan baik," ucap Seokjoon pada Nami.
Seokjoon berlalu pergi begitu saja, Nami ku yang masih tak sadar, ku pukul tangan nya dengan keras.
"Hyuna! apa aku salah makan pagi ini," ucap Nami.
"Hah,"
"Hyuna, Pak Kepala melihat ku, dia sangat tampan Hyuna, ah aku mau pingsan," ucapan Nami yang melebih-lebihkan.
"Nami, pergi saja dari sini," jawbku kesal padanya.
"Ah, Pak Kepala, eh tunggu sebentar," ucap Nami yang menatap tajam padaku.
"Apa?," kataku.
"Hyuna, apa hubungan mu dengan Pak Kepala? mengapa Pak Kepala mendekati mu sedekat itu, bukan dengan ku huhu, apa Pak Kepala menembak mu, dia bilang apa huhu aku iri," ucap Nami seraya merengek.
"Nami sayang, Pak Kepala hanya bilang untuk. menyelesaikan tugas darinya, jadi sekarang kamu pergi dari sini aku ingin bekerja, Ok!," ucap ku mengusirnya.
"Tapi mengapa mesra sekali Hyuna, aku juga mau huhu," rengeknya.
Aku yang lelah dengan drama kecil ini, berdiri mendorong Nami menjauh dari mejaku.
"Akhirnya setan kecil itu pergi," kataku lega.
Tak lama terdengar dering ponsel, sebuah pesan text masuk.
Seokjoon yang ingin pergi ke rumah ku, mempunyai maksud apa, aku yang berfikir apakah akan memberitahu tentang kami pada Ayahku.
Aku membalas nya agar tidak membahas masalah dulu, karena aku tak ingin Ayah ku mengingat masa lalu ku, itu membuat Ayahku sedih.
Jam pulang kantor aku bergegas membereskan pekerjaan dan langsung pulang, tak ingin hal yang tak di ingin kan datang.
Tanpa pikir panjang aku menghentikan taxi segera pulang.
Di depan rumah terdapat mobil hitam, yang tak asing ku kenal.
__ADS_1
Saat aku mengingat itu adalah mobil Seokjoon, aku lari masuk ke dalam rumah.
"Ayah," teriak ku membuka pintu.
Seokjoon yang sudah duduk bersama Ayahku menyambut kepulangan ku.
"Hyuna masuk nak," ucap Ayah padaku.
"Iya Ayah," jawabku membalas.
Kemudian aku duduk di dekat Ayahku.
"Nak, Seokjoon bilang kalian sudah bertemu kemarin, dan kau mengatakan menerimanya, jika benar seperti itu Ayah akan lega, tapi Ayah ingin kau sendiri yang mengatakan pada Ayah," ucap Ayahku yang lembut.
"Maniak gila ini, pintar sekali mencari cara," batiku yang kesal.
Tentu saja aku tak ingin mengecewakan Ayahku, dengan terpaksa aku menganggukkan kepalaku.
"Iya, Ayah Hyuna sudah bilang Hyuna akan terima jika Ayah yang memilihkan nya," jawabku dengan senyuman terpaksa.
Seokjoon melihat ku dengan senyum smirk yang ada di bibirnya " awas saja aku akan buat perhitungan dengan mu," batinku yang sudah tidak bisa di kontrol.
"Paman, jika begitu Seokjoon pamit, dan terimakasih atas doa paman, aku akan menjaga Hyuna dengan baik," ucap Seokjoon mencari perhatian.
Kata-kata yang membuatku ingin menghajar wajahnya itu.
Seokjoon berpamitan kepada Ayahku, lalu pergi menuju mobil.
"Yah aku akan mengantarnya sebentar," ucapku pada Ayah.
Ayah mengangguk isyarat persetujuan nya.
Aku berlari menghampiri Seokjoon.
"Dasar orang gila, apa perlu kamu sampai seperti ini,"ucapan ku yang tertuju pada nya.
"Tentu saja, agar kau tak bisa kabur dariku," balas Seokjoon.
"Kabur? helo apa kau lupa siapa yang kabur waktu itu," jawabku mengertak nya.
Seokjoon yang mendorong ku, tubuhku yang mencapai mobil tak bergerak karena tangan Seokjoon memegang kedua tangan ku.
"Aku akan menjelaskan itu saat waktunya tiba apa kau tak faham," ucap Seokjoon menantangku.
__ADS_1
"Aku sudah tidak tertarik lagi," sebelum aku selesai mengucapkan kata-kata ku, Seokjoon mencium bibirku.