Terjerat Cinta Lama

Terjerat Cinta Lama
Ledakan


__ADS_3

"Hah, seminggu ini adalah surga, akhir pekan yang bahagia," Aku merebahkan tubuh ku seakan akan melayang.


Seminggu ini adalah kebahagiaan yang layak aku dapatkan.


"Nak kamu di dalam?," ucap Ayahku mengetuk pintu.


Aku hampir lupa dengan kencan buta ini " iya Ayah, aku mengingatnya, aku akan bersiap sebentar," kata ku sedikit berteriak.


Kencan buta yang melelahkan, aku sangat malas untuk bertemu dengan orang yang di pilih Ayah ku,


Aku keluar dari kamar, baju blouse hitam dan celana panjang bergaris serta tak lupa tas yang aku bawa untuk menemui pria itu.


"Ayah, aku akan berangkat," pamit ku pada Ayah.


"Iya nak, hati-hati lah di jalan," ucap Ayah mendoakan ku.


Aku hanya mengguk dan berlalu pergi.


Sebelum nya memang aku sudah memesan taxi, dan aku berangkat tanpa ada kendala.


Sampainya di cafe itu, aku melirik dan mencari siapa yang telah Ayah ku pilih, yang terlihat di dalam cafe memang kebnyakan pelangan yang berpasangan.


Mata ku tertuju pada seorang laki-laki di pojok Cafe, aku tak bisa melihat wajahnya karna posisinya yang membelakangiku, aku memutuskan untuk menghampirinya.


Aku melangakah perlahan mendekati nya, saat sampai di sampingnya.


"Aku sudah menunggu lama,"


"Park seokjoon!," aku yang terkejut setengah mati, laki-laki yang Ayah jodohkan padaku adalah mantan kekasih ku.


"Ya ampun, tidak mungkin!," batin ku masih tak percaya.


"Hyuna mengapa kamu berdiri saja, duduk lah," ucap Seokjoon mempersilahkan ku.


Fikiran ku kosong, aku masih tak mengerti apa yang terjadi.


"Seokjoon kenapa kamu?," tanyaku penasaran.


"Kamu ingin pesan apa?," basa-basi.


"Sudahlah tidak usah bertele-tele apa maumu?," tanyaku memperjelas.


Seokjoon tak berkata apa apa, hanya memberi selembar kertas padaku.


"Apa ini?," tanyaku.


"Baca saja," perintahnya.


Aku mulai membaca isi dari kertas yang di berikan Park Seokjoon padaku.


"Jadi kamu harus menjadi istriku, seperti yang di tulis kakek ku di surat perjanjian itu, bahawa kakek ku Park hwanji akan memberikan cucunya sebagai menantu tuan Gunarso yang adalah Ayahmu, dan menjadikan anak tuan Gunarso sebagai nyonya Park," ucap Seokjoon memperjelas.

__ADS_1


"Maksudnya ini, ini," aku yang masih bingung dengan itu semua.


"Ya, surat perjanjian itu di tandatangani langsung oleh Ayahmu juga Kakekku, 18 tahun yang lalu," ucap Seokjoon " jadi aku hanya memjalankan amanah kakekku untuk menikahimu, bukankah Ayah mertua juga sudah setuju dengan ku," lanjut Seokjoon.


"Ayah mertua? otak mu sudah rusak ya? itu karena Ayah ku tidak tau kalau kamu sudah menikah," ucapku tegas.


"Oh iya, apakah kamu punya bukti aku sudah menikah, apakah ada namaku yang sudah menikah di catatan sipil? aku sudah bilang sebelumnya padamu, kau milikku jadi tidak ada kata menikah jika bukan denganmu," ucap Seokjoon dengan senyum smirk nya.


Aku masih belum mencerna itu semua.


"Aku tidak mau," jawabku pada Seokjoon.


"Artinya kau akan mengingkari surat perjanjian ini dan mengecewakan ayah mu," Seokjoon yang mengancamku.


"Ah, ya sudah aku akan memikirkan nya lagi, permisi aku mau pulang," ucap ku berdiri dari kursi dan beranjak pulang.


"Apa ini semua, lagi-lagi aku terjerat pria seperti Seokjoon, aku benar-benar binggung dengan takdirku," batinku yang kesal.


Aku berjalan dengan kekuatan penuh, di penuhi amarah, memikirkan nya saja hatiku terasa panas.


Helaan nafasku meredakan sedkit kesalku.


Tiba-tiba seseorang memanggilku dari belakang.


"Hyuna."


Aku menoleh untuk mengecek sipa yang telah memanggil namaku,


"Hehehe maaf aku mengejutkan mu, kamu sedang apa?," tanya Yoonji padaku.


"Aku mau pulang minggir lah," jawabku ketus mengusir Yoonji.


"Ck, jangan galak-galak, oh ya bagaimana tawaranku?," tanyanya padaku.


"Tawaran apa?," aku yang binggung dan balik bertanya.


"Maukah kau jadi istriku," jawabnya langsung menembak.


"Astaga, kalian keluarga Park sebenarnya ada apa!," ucapku yang kasar pada Yoonji.


"Kenapa, apa kakak ku juga melamarmu?," tanya Yoonji.


"Ah,"


"Kalau kakak ku melamarmu tolak saja dia sudah menikah, lebih baik dengan ku saja," ucap Yoonji sambil mengoda ku,


"Mereka ini benar-benar bikin aku kesal!," batin ku yang sudah akan meledak karena kekesalan yang menumpuk " lebih baik acuhkan saja," lanjut ku dalam hati.


Aku mengacuhkan Yoonji, dan bergegas meneruskan langkah kaki ku, namun Yoonji menarik tangan ku, tak membiarkan aku pergi.


"Apa, lepaskan," ucapku memberontak.

__ADS_1


"Jawab dulu dong," jawab Yoonji memaksa.


"Lepaskan, aku mau pulang."


Tiba-tiba Seokjoon menggengam erat tangan Yoonji.


"Apa kau tak dengar dia bilang lepaskan tangan nya," ucap Seokjoon melototi Yoonji.


Suasana itu sangat suram, melihat dua mata yang seakan akan adu kekuatan, aku melihat aura petir yang menyambar di tengah-tengah tatapan mereka.


"Ah, kakak ku ini sedang menjadi pahlawan ya," ucap Yoonji dengan senyum sinis nya.


"Kau tak usah banyak bicara, lepaskan calon istriku!," ucap Seokjoon tegas.


"Calon istri kakak? bahkan Hyuna belum menyetujui nya," balas Yoonji.


Aura itu semakin kuat, aku menjadi orang tak terlihat di antara mereka.


"Ada masalah apa mereka, ini menakutkan lebih baik aku kabur," batin ku yang saat itu sudah merinding.


"Dengar! Hyuna hanya milik ku, jadi menyerahlah sekarang," ucap Seokjoon saat itu seperti ingin mengeluarkan pedang,


Seokjoon menepis tangan Yoonji. dan tiba-tiba menarik tangan ku.


"Ah,"


Aku seperti sebuah mainan yang di kemparkan ke sana kesini, tatapan mataku tertuju pada wajah seokjoon, mata tajam yang akan menyerang Yoonji, fikirku terletak di situ.


Benar saja Seokjoon menyentuh kepalaku, dan mendekatkan bibirku ke bibirnya, aku lagi-lagi yang terkejut dengan ciuman tiba-tiba itu, hanya bisa melotot meratapi apa yang sedang terjadi.


"Kau masih tidak menyerah Yoonji?," ucapan Seokjoon tertuju kepada Yoonji.


Yoonji hanya membalas dengan senyum sinis.


"Aku sudah menandai nya jadi Hyuna hanya milik ku," lanjut Seokjoon masih dengan tatapan dingin nya.


"kheh, tentu aku belum kalah, aku akan dapatkan Hyuna, tunggu saja kak," kata terakhir Yoonji sebelum pergi meninggalkan kami.


Setelah Yoonji pergi aku memukul keras dada Seokjoon " dasar! seenaknya saja padaku, jawab aku apa kalian taruhan?," tanyaku yang sudah geram dan penasaran.


"Tidak kami tidak taruhan, cuma Yoonji selalu mengambil barang yang bukan milik nya, kali ini pun niat nya sama, dan aku akan menjaga apa yang ku punya," melirik ku dengan senyum smirk nya.


"Apa apaan, senyum itu," batin ku yang mulai tak betah lagi dengan keadaan.


"Terserah lah, aku juga tak ingin jadi bahan taruhan kalian, aku akan pulang," ucapku melanjutkan perjalanan ku.


"Tunggu, aku akan mengantarkan mu," tawar Seokjoon padaku.


"Lebih baik tak usah, aku pulang sendiri," aku menolak kebaikan Seokjoon, tak ingin terlibat lebih jauh.


"Ini sudah malam, ayo kita ke mobil," ucap Seokjoon sambil menarik tangan ku.

__ADS_1


"Yak,"


__ADS_2