
Hari yang berat telah aku lalui, rasanya aku tidak ingin lagi kerja di perusahaan itu, kabar baiknya besok adalah akhir pekan aku bisa seharian berbaring dan tidur di kasur kesayangan ku ini, aku malas sekali jika bertemu dengan nya lagi.
"Hah, memang benar rumah ku adalah yang terbaik," ucap ku merebahkan tubuhku yang lelah.
Tiba-tiba bunyi ponsel menghancurakan kesunyian ku menikmati kasur empuk kesayangan.
Sebuah pesan text dari grup chat Devisi Keuangan.
"Besok malam kita jadi kan berpesta di pernikahan Pak Ketua?"
"Tentu saja, Pak Ketua kita kan akan menikah padahal aku sudah antri untuk jadi istrinya,"
"Sudah lah Jenie berhenti menghayal,"
"Hahaha Jenie, Jenie Pak Ketua ngak mau sama kamu tau!,"
"Hahaha,"
Singkat beberapa pesan text.
Namun terlilit satu pesan text yang belum terbaca.
"Hyuna, besok temani aku ke pesta Pak Ketua," pesan text baru tertuju padaku.
Ternyata teman ku Nami yang selalu mengusiliku.
"Aku ngak minat," balas ku dalam pesan.
"Yah, ngak mau tau pokoknya temani aku, aku akan menjemputmu," pesan balasan masuk je ponselku.
"Ah, Nami kau tidak tau perasaanku, huhh," gumam ku.
Ku membanting tubuhku lagi ke kasur, memang benar bukan salah teman ku itu karna aku tak menceritakan yang sebenarnya, aku terpaksa hadir di acara pernikahan itu, fikiran ku yang buntu, lebih baik aku tidur dan menenangkan nya.
"Haaaahhh," keluhku.
Pagi ini mentari memang bersinar terang, panasnya yang masuk melalui celah celah jendela kamarku, hawa hangat menyelimuti pagiku, aku merasa hari ini mungkin saja akan baik.
"Lebih baik aku jogging aja, sudah lama aku tidak keluar menghirup udara bersih," ucapku dengan semangat.
Aku menuruni tangga rumah, berjalan keluar menuju pintu dengan celana training dan kaos rambut ku yang aku kuncir agar tidak terlalu gerah saat aku berlari.
Dari trotoar menuju lapangan aku mengeluarkan tenaga untuk berlari, sesekali aku menghirup udara segar di pagi hari, dari jauh aku melihat gerobak sarapan yang sudah ramai pengunjung.
"Yah, panjang banget antrian nya, tapi aku lapar," celotehku.
Aku terpaksa mengantri agar bisa memenuhi keinginan cacing yang ada di perut karna mereka berdemo keras.
Antrian berjalan lancar aku yang semakin dekat dengan kejayaan ku, akhirnya aku memesan roti isi dan susu yogurt untuk mendamaikan isi perutku.
__ADS_1
"Yeah, finally aku akan makan," ucapku senang.
Ternyata tingkah ku yang konyol sedari tadi di lihat oleh seorang pria dari kejauhan.
Saat aku menatap nya lelaki itu berjalan menghampiriku, aku penasaran mengapa sedari tadi dia menatapku dengan tatapan aneh.
lelaki itu mulai mendekat.
"Jung Hyuna?," tanyanya padaku.
"Iya, anda siapa?," jawabku bertanya.
"Saya Park Yoonji, senang dapat melihatmu," sapa nya padaku.
"Hah." aku yang hanya bisa mengedipkan mata karna tak mengerti.
"Kita akan bertemu lagi nanti, sampai jumpa lagi," ucap nya sembari pergi dan melambaikan tangan padaku.
"Apa itu tadi? ah entahlah," aku yang acuh.
Aku mulai memakan sarapanku, dan kembali berlari membakar lemak makananku, sampai nya ke rumah, ayah ku sudah menunggu di kursi ruang tamu.
"Yah, Ayah kenapa? apa ada yang sakit," tanyaku pada Ayahku yang memang sudah tua.
"Hyuna, Ayah ingin kamu segera menikah nak, Ayah tak tau berapa lama Ayah akan bersama. mu," ucap Ayah ku dengan nada lirih.
"Baiklah Yah, aku akan menikah jika Ayah menyuruhku," jawabku menengakan.
Ayah ku hanya tersenyum, dan aku tak tahan ingin memeluknya, ku peluk erat diriya.
"Yah, terimakasih banyak telah menjaga ku selama ini," batin ku yang ingin mengungkap kan itu semua.
"Yah, Hyuna antar ke kamar," bakti yang bisa aku lakukan.
Aku memang sudah mengucap kan itu pada Ayahku, tentu saja akan aku lakukan demi Ayahku, namun entah nanti aku bisa menerima laki-laki itu atau tidak.
Hari mulai menjelang malam, sedari tadi ponsel ku ini terus berdering, aku sebenarnya malas untuk mengangkatnya, karna teman ku satu satunya itu pasti akan ribut soal pesta.
"Apa." jawab ku mengangkat telepon.
"Kau sudah siap? aku sudah menuju rumahmu," jawab Nami, teman ku itu sepertinya bersemangat sekali.
"Tidak, terimakasih kau pulanglah," jawabku ketus.
"Ish, ngak mau tau cepat berdandan dan pergi bersama ku, atau ku pecat jadi sahabatku," ucap Nami merayu.
"Oh, baiklah pecat saja, jangan lupa konpensasi nya," jawabku menambahkan.
"Ah, dasar! cepat aku sudah hampir sampai rumahmu." ucapan terakhir Nami mematikan telepon.
__ADS_1
Ku buang telepon ku lalau pergi mandi, meski aku seperti itu pada teman ku, namun aku juga susah untuk menolaknya.
Bel pintu berbunyi, aku sudah tau dan aku segera turun, sebelum itu aku menghampiri Ayah ku untuk berpamitan.
"Yah, Hyuna pergi ke acara pesta kantor ya, Ayah jaga diri baik-baik, jika ada apa-apa Ayah telepon Hyuna," ucapku pada Ayah.
Ayah ku hanya membalas dengan anggukan.
Aku membuka pintu, dan melihat teman ku sudah menatap ku dengan senyum menyeramkan.
"Hyuna, kau memang sahabat baik ku," ucap nya sambil memeluk ku.
"Hentikan atau aku masuk ke rumah lagi!," ancamku.
"Baik baik, yuk let's go," ucapnya semangat.
Kami menuju acara pesta pernikahan itu, Nami yang menyetir di sebelahku dengan sebuah musik jazz yang mengalun di dalam mobil.
Akhirnya yang aku benci, kami sampai di gedung pesta, tentu kami masuk ke dalam acara, meski ramai tamu tamu hanya para wartawan dan karyawan dari kantor.
Mata ku yang sudah kesana kemari mencari keberadaan mempelai wanita, sejauh mataku melihat pengantin wanita tak dapat aku temukan.
"Hyuna, ayo masuk kenapa di depan pintu saja," Nami yang menyeret ku masuk dengan kasar.
Dan juga Sojoon aku juga tak melihat nya, meski lega bagiku tak melihat pria itu, entah mengapa aku juga sakit.
Teman-teman semua menikmati acara dengan tarian, aku hanya duduk dan meminum minumaku.
Tiba-tiba bahu ku di tepuk seseorang dari belakang.
"Jung Hyuna," ucapnya padaku.
Aku yang reflex menengok dan melihat siapa yang telah mengejutkan ku.
"Hah, kau?," ucapku heran.
Dia adalah Park Yoonji lelaki yang bertemu dengan ku pagi tadi di kedai roti.
"Kau juga datang kesini Hyuna?," tanyanya sok akrab.
"Anda sendiri mengapa datang kesini?," jawabku juga bertanya.
"Hyuna kau sangat lucu, mengapa kau selalu menjawab pertanyaan ku dengan pertanyaan," ucap nya melantur "aku bilang kita akan bertemu lagi bukan, tapi tak ku sangka secepat ini,"
"Sepertinya bukan itu pertanyaan ku," jawabku kesal.
"Oh, ini kan pernikahan kakak ku," jawab Yoonji padaku.
"Apa!," aku yang terkejut, "berhentilah berurusan dengan keluarga Park, Jung Hyuna!," batin ku yang kesal juga kaget dengan situasi ini.
__ADS_1