
Kebetulan Seokjoon mengantarkan ku, aku bisa bertanya mengapa dia pergi meningalkan ku tanpa pamit.
"Aku ingin bertanya padamu," ucap ku memulai aksiku.
"Tanya kan saja istriku," jawab Seokjoon mengoda.
"Cih, aku ingin tanya mengapa kamu dulu meninggalkan ku tanpa pamit, tapa kabar, apa alasanmu begitu padaku?," tanyaku mendesak nya.
"Aku tak bisa menjelaskan nya, aku akan me jelaskan padamu suatu saat nanti," jawaban Seokjoon yang nembuatku kesal.
"Percuma saja," kesalku.
"Jika kau jadi istriku jawaban itu akan kau dapatkan," sahut Seokjoon.
"Apa maksud yang Seokjoon ucapkan, aku tau Seokjoon bukan tipe orang yang bertele-tele, aku menjadi semakin penasaran, dan juga surat perjanjian itu mengapa Ayah tak pernah memberitahu ku, ada sesuatu di balik ini semua," aku yang berfikir untuk menerima Seokjoon dan mencari tahu semua yang terjadi, " namun aku juga membenci Seokjoon terlebih setelah masa lalu kelam itu," batin ini yang terus mendapatkan guncangan.
Setelah itu hanya suara hening yang terdengar di antara kami, setibanya aku di rumah, turun dan bergegas masuk ke rumah.
"Hyuna istrirahatlah dengan baik," ucap Seokjoon dari dalam mobil, aku tak mengubrisnya masuk ke rumah berjalan tanpa berhenti menuju kamar.
Aku mengintip Seokjoon dari balik jendela, hingga mobil hitam itu pergi tak terlihat lagi.
"Sebenarnya aku merasa aneh, perjanjian pernikahan sejak kecil? mengapa presdir Hwanjin Park bisa mengenal Ayah ku yang setatus nya hanya menjadi security di perusahaan itu," kataku terucap dengan sendirinya, "benar-benar seperti misteri," batin ku yang berbisik.
"Pasti ada sesuatu di pernikahan ini, Park Seokjoon, Park Yoonji mereka berdua pasti punya sesuatu yang di rencanakan," ucapku mulai curiga.
Aku bergegas tidur, dan memutuskan untuk menyelidiki Park Seokjoon, dia yang selalu menguntit di belakang ku, berfikir saat ini aku harus mengikuti permainan keluarga Park.
Esok pagi melalui celah jendela, aku terbagun dengan penuh tenaga, untuk mencari tau kebenaran.
Rutinas pagi, bersiap mandi sarapan, tak lupa mengunjungi Ayah.
"Ayah," ucap ku memberi salam pada Ayahku.
"Nak, bagaimana denga semalam, jika, jika kau tak mau Ayah tidak akan memaksa," jawab Ayah.
"Bukan kah Hyuna sudah bilang, Hyuna akan terima jika Ayah yang memilih," ucap ku lembut, "sudah Yah, aku akan berangkat, Ayah jaga diri baik-baik," sambung berpamitan.
Aku bersiap pergi, menunggu bis untuk sampai ke kantor, bis datang tepat pada jadwal, mengantarkan ku ke gedung kantor.
"Park Seokjoon, aku datang," batin ku bersiap.
Aku telah sampai di lift menuju kantor, entah bagaimana aku melupakan hawa suram itu.
Merapikan berkas dan menatanya, mulai menjalankan mesin komputerku, sambil menunggu.
Fokusku terhenti ketika Seokjoon melewatiku, aku masih pura-pura seperti orang yang membencinya.
__ADS_1
"Jhung Hyuna," teriak teman ku Nami.
"Astaga, mengapa semut kecil ini selalu menggangu," bisikku.
"Hyuna kau mengatakan apa?,"
"Tak apa, kenapa tiba-tiba kesini?," tanya ku berbasa-basi.
"Makan siang nanti ikut bersama ku, aku kenalkan dengan temannya temanku, dia tampan!," ajak nya.
Setan kecil ini tak bosan bosan menjodohkan ku.
"Aku tidak mau Nami," jawab ku malas.
"Ayo lah Hyuna sekali ini saja, jika kau kali ini tak tertarik padanya aku berjanji tak akan lagi mencampuri urusan asmaramu, terserah kamu mau lajang seumur hidup," ucap Nami.
"Kau menyumpahkan teman mu sendiri?," tanya ku kesal.
"Hehehe tidak, pokonya nanti aku jemput!," tegas Nami padaku.
Aku hanya pasrah dengan teman ku satu itu, apa salahnya menuruti nya, dia kata yang terakhir, karna aku sudah mengunci seseorang.
Niat ku menemui Seokjoon terurung karena Nami, pada makan siang Nami bersiap menjemputku.
"Hyuna, let's go," ucap Nami bersemangat.
Aku seperti boneka yang di gandeng tuan nya, hanya bisa terdiam saat Nami menrik tanganku.
"Mana ya orangnya," ucap Nami mencari orang itu.
"Ah, itu dia ayo Hyuna," Nami menarik ku cepat.
Memang terlihat seorang laki-laki duduk seperti sedang bermain ponsel nya.
"Mengapa laki-laki itu tak asing ya," batin ku mengenali aura pada lelaki itu.
Saat aku mulai mendekat, apa yang aku fikir ternyata benar.
"Tidak mungkin bener si maniak itu, sial sekali hidupku di kelilingi orang tak waras," hati ku yang berbicara dengan penuh air mata.
"Hai, ini teman ku Hyuna," sapa Nami padanya.
"Dasar Nami teman ku yang bodoh," batinku terus merintih.
"Hyuna, ternyata kita berjodoh, ya selalu bertemu," ucapnya menggombal.
"Ihh, apaan sih," batin ku mulai jijik.
__ADS_1
Aku hanya bisa membuka gigiku dengan paksa, tersenyum paksa itu sangat buruk.
"Oh, kalian sudah saling kenal, bagus dong, kalau begitu aku pesan makanan dulu, kalian mengobrol saja," ucap Nami yang girang lalu pergi begitu saja.
"Tak sangka kau teman Nami, sungguh kebetulan sekali," ucapnya basa-basi.
"Iya, maaf aku sudah kenyang aku ingin kembali ke kantor," ucapku.
"Di kantor ada kakak ku, kamu pasti tak ingin ke kantor," jawab Yoonji menyela.
Ya, teman yang di kenalkan Nami padaku adalah Yoonji, entah kebetulan atau bagaimana itu bisa sangat sempurna.
"Aku lebih tak suka padamu, masih lebih baik bersama Seokjoon karna aku sudah mengenalnya, ketimbang kamu yang tak tau punya rencana apa," batin ku mencela Yoonji.
"Iya kamu memang benar, aku tak ingin bertemu kakak mu, malah lebih tak ingin lagi bertemu dengan mu!," ucap ku kasar.
"Hehehe, menarik," bisiknya.
Apa yang sedang di fikirkan Yoonji benar-benar aku tak tau, wajahnya mempunyai tulisan besar dengan rencana.
"Baikalah baiklah aku tidak akan berbasa-basi lagi, aku tau kamu pasti juga tau tentang perjanjian Tuan Hwanjin Park dengan Ayahku bukan?," ucapku dengan poin langsung " aku juga sudah memutuskan aku memilih Seokjoon sebagai suami ku, jadi mulai sekarang kamu jangan lagi menggangguku!," lanjut mempertegas.
"Aku ingin tau bagaimana expresi mu kali ini Yoonji," batinku.
"Ternyata aku sudah kalah sebelum mulai, tapi aku tak suka dengan kekalahan, aku pasti akan mendapatkan mu!," jawab Yoonji membuatku semakin takut padanya.
Dia hanya menatapku, aku memutuskan untuk pergi, tak tahu bagaimana aku akan bisa menghadapi pria semacam itu.
"Terserah kau!." jawabku beranjak dari kursi.
"Hem, dia tidak mengejarku, aneh," batinku.
Saat keluar dari cafe, aku di kejutkan dengan kemunculan tiba-tiba Seokjoon.
"Seokjoon, kau membuatku kaget!," ucapku yang marah padanya.
"Kenapa istriku, apa suami mu ini telah memergoki mu," ucap Seokjoon.
"Hi, Siapa istrimu," bentak ku.
"Bukan kah kau sendiri yang bilang kalau kau lebih memilihku," ucap nya dengan senyum smirk.
"Sial, sejak kapan dia denger ini, aku harus tenang," batinku.
"Hehe, maaf suami ku aku tiba-tiba tak ingat." ucapku manis namun ku gerak kan kaki ku menginjak kaki Seokjoon.
"Auh,"
__ADS_1
"Rasakan! tukang menguping pembicaraan orang!," ucapku puas.
Aku pergi menuju kantor, namun Seokjoon masih saja membuntuti ku seperti ekor.