Terjerat Cinta Lama

Terjerat Cinta Lama
Masih misteri


__ADS_3

"kakek ini Hyuna," sapa Seokjoon mengenalkan ku kepada Kakeknya.


"Oh, ini Hyuna putri Gunarso?," tanya Pak Hwanjin.


"Iya Pak," jawab ku menundukkan kepala.


"Eh, aku ini Kakek mu juga, karena kau akan jadi Cucu ku," ucap Pak Hwanjin padaku.


Aku hanya tersenyum, Pak Hwanjin menarik ku untuk duduk di dekatnya dan Seokjoon duduk di sebelah ku.


"Haha, Kudi panggil semua orang berkumpul disini," ucap Pak Hwanjin pada seorang pelayan.


Tak lama mereka semua berkumpul, benar-benar keluarga besar.


"Dengar kalian semua, ini adalah cucu menantuku, jangan ada yang berani memarahinya kalian faham," ucap Oak Hwanjin tegas terhadap keluarga nya.


Meski aku tersentuh dengan kebaikan Pak Hwanjin saat ini, tapi aku masih ingat tujuan ku datang.


Saat mereka tengah lalai aku akan mencari informasi yang bisa aku dapatkan.


Pertemuan keluarga Park sama seperti keluarga pada biasanya, mengobrol saling menunjukkan kekayaan dan rasa hormat, mungkin itu aturan keluarga kaya.


"Seokjoon, aku ingin minum, aku ambil minum sebentar ya," ucap ku pada Seokjoon kala itu sedang bersama ku.


"Iya pergilah, aku akan memeriksa Kakek sebentar," jawab Seokjoon lalu pergi.


Beberapa saat lalu Pak Hwanjin berkata kalau beliau tidak kuat duduk terlalu lama, setelah mengenalkan ku beliau pamit istirahat.


"Ini kesempatan bagus, tapi di mana aku mulai mencari, aku bahkan tak tau apa Seokjoon tinggal di rumah ini," gumam ku.


Dengan dalih mengambil minum, aku berjalan menuju tempat sepi, melirik dan melihat-liahat mungkin aku akan bisa menemukan sesuatu.


Tak ku sangka tiba-tiba dari belakang aku di kagetkan dengan seseorang.


"Hyuna, apa kau mau masuk ke dalam?," ucap Yoonji dengan tatapan menyeramkan.


Ternyata aku berhenti tepat di depan kamar Yoonji, padahal di pertemuan itu tak terlihat Yoonji di mana-mana.


"Yoonji, a aku tak sengaja, aku tersesat," ucap. ku terbata-bata.


Yoonji tak menghiraukan aku dia terus berjalan maju, dan aku yang ikut mundur perlahan, hingga masuk ke dalam kamarnya.


"Yoonji apa yang mau kau lakukan, berhenti disitu," ucap Yoonji dengan senyum.

__ADS_1


"Aku ingin kamu jadi istriku, mengapa kau lebih memilih dia ketimbang aku, aku bisa membahagiakanmu!," ucap Yoonji semakin menakutkan.


"Yoonji, jangan gegabah, biarkan aku pergi dulu," ucap ku pada Yoonji.


Seakan tak menghiraukan aku di terus mendekatiku, "Seokjoon tolong aku," batin ku yang telepati berharap Seokjoon dapat mendengar.


"Aku bisa puny banyak cara untuk mendapatkan mu, tak akan ku biarakan Kakak ku itu dengan mudah mendapatkan semuanya," ucap Yoonji.


"Apa, apa,"


Aku yang sudah gemetar dengan sikap posesif Yoonji padaku.


Seokjoon datang di saat yang tepat, mungkin telepati ku berhasil, dia membuak lebar pintu kamar Yoonji.


"Yoonji brengsek, menjauhlah dari calon istriku," teriak Seokjoon mendorong Yoonji dengan keras.


Seokjoon munarik ku keluar pergi dari kamar Yoonji.


"Apa yang kau lakukan disana, jangan pernah dekat-dekat dengan dia," ucap Seokjoon dengan nada marah.


"Lepaskan," rontaku.


Seokjoon tak mengubrisku menarik ku hingga pergelangan tangan ku memerah.


"Seokjoon sakit, lepaskan aku bilang," ucap ku yang masih mencoba untuk terlepas.


"Kenapa kau kesana Hyuna!," teriak Seokjoon.


"Apa maksud mu! aku tersesat ketika menggambil minum, aku baru pertama kali datang kesini, memangnya aku wanita seperti apa bisa sampai mendatangi kamar laki-laki," teriak ku yang kesal atas perlakuan nya.


Seokjoon menarik kemudian memeluk ku "memaafkan aku Hyuna, aku tak ingin kau terlibat dengan nya, aku egois tak menanyakan nya dahulu, aku terlanjur marah padamu," ucap Seokjoon menjadi lembut.


"Seokjoon sebenarnya ada apa dengan mu dan Yoonji, aku kira aku telah mengetahui sifat mu dulu selama kita bersama, nyata aku tak mengerti sama sekali," batin ku yang masih berada di dekapan Seokjoon.


"Iya, maafkan aku juga karena seenaknya aku masuk," balas ku pada permintaan maaf nya.


"Apa kau mau makan sebentar, setelah itu aku akan mengantarmu pulang," tanya Seokjoon.


"Iya, mungkin makan sebentar," balas Diaz.


Mereka kembali ke halaman depan, pertemuan yang di adakan, Hyuna makan dengan sopan.


Setelah selesai Hyuna yang ingin pamit dengan keluarga Seokjoon, dengan ramah Hyuna berpamitan, namun keluarga itu hanya diam dan menatap ku dengan penuh kebencian, tak ada satupun dari keluarga Seokjoon yang basa-basi pada ku semuanya diam seakan-akan tak melihat ku.

__ADS_1


Seokjoon memegang tangan ku " jagan kau urusi mereka, kita pamit pada Kakek, ayo," bisik Seokjoon padaku.


Aku mengangguk dan mengikuti Seokjoon pergi ke kamar Pak Hwanjin.


Seokjoon mengetuk pintu " Kakek, ini aku," ucap Seokjoon.


"Apa Kakek sudah tidur?," tanyaku karena tak ada jawaban.


"Seperti nya sudah," ucap Seokjoon.


Pintu kamar terbuka namun yang keluar hanya seorang kepercayaan Pak Hwanjin dan mengatakan kalau beliau sudah tidur.


"Baiklah, sampaikan pada Kakek Hyuna datang berpamitan," ucap Seokjoon pada orang itu.


"Iya tuan," balasnya.


"Ayo Hyuna kita pulang," ucap Seokjoon padaku.


Aku dan Seokjoon memutuskan untuk pulang meninggalkan rumah besar itu, duduk di mobil Seokjoon yang menyetir


"Omong-omong kau tidur di lantai mana," tanyaku yang penasaran tentang kamar Seokjoon.


"Jadi kau berkeliaran hanya ingin mencari kamarku, kau mau apa, apa kau sudah tak tahan ingin mencoba ku," jawab nya menggoda ku.


"Sudahlah lupakan saja, harusnya aku tak bertanya," balasku kesal.


"Aku tak punya kamar di sana," ucap Seokjoon mendadak, " tapi kalau kau kau mencoba denganku aku akan mengantar mu ke rumahku," lanjut Seokjoon.


"Ih,"


"Bahkan sekarang pun aku siap, apa kita menuju rumahku saja," ucap Seokjoon semakin menggoda saja.


"Ah, sudah lah cepat antar aku pulang," balasku jutek.


melihat ku yang kesal Seokjoon tersenyum kecil di bibirnya, aku diam-diam melirik membuat aku juga ingin tersenyum, namun aku harus menahan nya.


Sampai di halaman rumah ku, saat aku ingin turun Seokjoon menarik ku dan tiba-tiba mencium keningku.


"Selamat malam, mimpi indah," ucapnya lembut.


Aku tak bisa berkata apa-apa, aku turun dan berjalan masuk, mobil Seokjoon yang pergi dari halaman depan rumah ku.


"memang dia susah di tebak, atau mungkin otak nya sudah konslet," gumama ku di belakang pintu.

__ADS_1


Aku berjalan masuk, melihat Ayahku yang sudah tidur pulas aku sangat tenang, menuju kamar dan bersiap membersihkan diri.


Badan ku yang segar kembali, aku merebahkan tubuh ku, "apa berkas itu ada di rumah Seokjoon, atau di kamar Pak Hwanjin, emm di rumah itu hanya kamar Pak Hwanjin yang di jaga," ucap ku menganalisis.


__ADS_2