Terjerat Cinta Lama

Terjerat Cinta Lama
Mencari


__ADS_3

Pagi itu aku datang ke kantor lebih pagi, untuk mencari berkas itu di ruangan Seokjoon.


Seperti dugaan ku belum ada yang datang ke kantor, aku menuju lift dan bergerak ke ruangan Seokjoon.


Aku mulai mengacak acak bagian yang terlihat mencurigakan, dari meja hingga laci lemari semua aku cari tapi tak ada yang bisa aku temukan hanya setumpuk berkas pekerjaan.


Aku duduk sebentar di kursi Seokjoon karena kelelahan mencari.


"Hah, apa ada di rumah Seokjoon, aku harus memikirkan cara ke rumah Seokjoon, jika aku bisa menemukan rahasia itu mungkin saja aku tak perlu menikah," gumam ku.


Waktu semakin siang para pegawai kantor mulai berdatangan, seperti tak terjadi apapun aku duduk di meja kerja sembari memainkan komputer.


"Cara apa ya," batin ku memikirkan cara sampai ke rumah Seokjoon.


Pas sekali ada cara yang bisa aku lakukan, aku mengambil beberapa berkas dan manuju ke ruangan Seokjoon.


Aku mengetuk pintu, "Pak Kepala ada berkas yang harus anda tandatangani," ucapku sopan di depan pintu.


"Masuk lah," jawab Seokjoon dari dalam ruangan.


Aku masuk dan duduk di kursi.


"Berkas apa itu," tanya Seokjoon menadahkan tangan nya.


"Tidak ada berkas apapun, aku hanya mencari alasan saja," jawab ku ketus.


"Oh, sekarang kau pandai untuk merayu, datang padaku dengan sendiri," ucap Seorang senyum tipis.


Seokjoon tiba-tiba berdiri dan mengahampiri ku, mendekati wajahku bahakan memegang daguku.


"Apa istriku ini sudah tak tahan ternyata," ucap Seokjoon menggoda, perlahan mendekati.


Aku dengan keras mendorong Seokjoon " aish kamu orang mesum, aku kesini untuk membuat kesepakatan pernikahan dengan mu," jawabku tegas.


"Kesepakatan pernikahanan, emm menarik, lalu apa mau mu?," tanya Seokjoon padaku.


"Aku akan mengatakan nya nanti, karena kita msih jam kerja, akan lebih mencari tempat yang tenang dan tak banyak di ketahu orang lain," balasku pada Seokjoon.


"Baik, kau tentukan tempat nya aku mengikuti mu," balas Seokjoon.


"Aku sudah ada tempat nya," ucap ku


"Iya baiklah dimana itu," tanya Seokjoon.


"Dirumahmu," ucap ku.


Expresi Seokjoon yang sedikit terkejut namun juga senang nampak di wajahnya.


"Em, apa yang kau rencana," Seokjoon yang tiba-tiba mendekati ku kembali.


Aku tak berharap Seokjoon mengetahui rencana ku, aku yang sudah gugup harus berusaha setenang mungkin.

__ADS_1


"Rencana, rencana apa," ucap ku yang gugup.


"Hahaha, aku hanya bercanda," tawa Seokjoon "baiklah pulang kerja aku tunggu di parkiran mobil," lanjut Seokjoon.


"Huh, aku kira akan ketahuan," batinku lega.


"Baiklah aku pergi kerja kembali," ucap ku.


Aku keluar ruangan Seokjoon, keringat ku bercucuran, "seumur-umur baru kali ini aku berbohong, aku memang tak pandai berbohong," batinku.


Serasa aku baru keluar dari kandang macan, demi menghilangkan kegugupan ku, aku terpaksa pergi mencari Nami untuk makan siang.


Aku menuju Devisi bagian Nami adalah anak buah dari Bu Hanseo, Kepala Devisi bagian.


"Nami," sapa ku.


"Hyuna, kau kenapa? ada apa kau tumben kemari," ucap Nami panik.


"Sudahlah ratu drama, jika kau begitu aku kembali saja ke meja ku," ucap ku kesal padanya.


"Hahaha, Hyuna kau tiba-tiba saja kesini, mau makan siang?," ucap Nami.


"Iya, aku mau ajak kamu makan siang," balasku.


"Tumben, suasana hatimu buruk ya," tanya Nami.


Kami berjalan menuju kantin, Nami dan aku memesan beberapa makanan dan duduk di kursi.


"Tak ada, hanya urusan kecil," jawabku sembari mengunyah makanan ku.


"Bagaimana kalau kita karaoke malam ini," tanya Nami.


"Jangan malam ini ya, aku ada urusan, besok malam saja bagaimana?," balasku.


"Tuh kan, sibuk lagi, Hyuna apa kau sudah punya pacar?," tanya Nami yang penasaran.


"Eh, em itu," dan aku yang mengangguk.


"Apa!," teriak Nami terkejut.


"Stt, pelankan suara mu ya ampun, seluruh kantin melihat kita," ucap ku menghentikan kehebohan yang akan Nami timbuln kan.


"Maaf, maaf aku sangat tekejut, Hyuna ku ini yang di kenal seluruh kantor sebagai Wanita penggila kerja bisa juga berkencan, huhu aku sungguh terharu," ucap Nami yang lebay.


"Hentikan!,"


"Iya, iya baiklah, jadi siapa dia apa aku boleh kenalan dengan pacarmu," ucap Nami.


"Sekarang belum bisa, aku akan mengenalkan nya lain kali," balas ku.


"Jika aku tak mberitahu diaaki sedang berkencan, rencana ku pasti susah di jalani, dengan begini jika aku sibuk setidak Nami tak akan ikut campur," batinku.

__ADS_1


"Em, baik asal kamu sudah punya pacar, aku senang Hyuna, akhirnya kau bisa melupakan bajingan itu," ucap Nami bahagia.


Aku yang belum mberitahu nya " Nami, aku terjebak dengan orang yang sama," batin ku yang ingin berbicara.


Makanan kita telah habis, waktu makan siang pun telah usai, kami memutuskan kembali dan mulai melakukan pekerjaan kami masing-masing, Nami yang kembali ke Devisi bagian dan aku menuju mejaku.


Aku banyak memikirkan cara dan alasan untuk bisa mengeledah rumah Seokjoon, aku menjadi banyak melamun.


Waktu pulang kerja yang ku nantikan, namun juga menjadi waktu yang mendebarkan dalam hatiku.


Aku pergi ke tempat parkir seperti yang telah aku da Seokjoon sepakati kita bertemu di tempat parkir.


Aku melihat mobil Seokjoon dari jauh dan segera mengahampiri.


"Aku datang," ucap ku pada Seokjoon yang ada di dalam mobil.


"Masuk, saja," balas Seokjoon.


Aku masuk ke dalam mobil dan kita pergi dari kantor itu menuju rumah Seokjoon.


"Alasan apa yang akan aku berikan nanti," batin ku yang gugup.


"Ada apa? kau diam saja," ucap Soekjoon menghancurkan lamunanku.


"Tidak tidak,"


Sampai di sebuah apartemen yang terkenal di kota seoul, mobil Seokjoon berhenti dan masuk kedalam tempat parkir.


Seokjoon turun lalu membukakan pintu untuk ku.


"Turunlah," ucap Seokjoon.


"Terimakasih," balasku.


"Kau membeli apartemen," tanyaku yang penasaran.


Kami berdua berjalan masuk dan menunggu lift tiba, tak selang lama lift tiba di lantai paling bawah.


Aku melihat Seokjoon memencet tombol duapuluh tunju, mungkin itu adalah lantai rumah nya.


"Ini apartemen kita kelak," ucap Seokjoon sambil mendekatkan wajahnya padaku.


Aku memalingkan wajahku dengan cepat, " ekehm,".


Sampai pada lantai yang di tunju, kami masuk ke lorong berhenti pada sebuah pintu dengan nomor 308 Seokjoon memasukkan pin rumah nya kemudian terbuka.


Kami masuk ke dalam, tak ku sangak rumah yang begitu mewah, " mungkin ini yang di namakan kawasan Elit, bagus sekali sungguh indah, dan tertata rapi, sebenarnya bagaimana sifat maniak ini," batinku mengagumi rumah Seokjoon.


"Duduk lah, aku akan ambil minum," ucap Seokjoon.


"Em, kita bisa makan sesuatu? aku lapar," ucapku beralasan.

__ADS_1


__ADS_2