Terjerat Cinta Lama

Terjerat Cinta Lama
Berita


__ADS_3

Aku akan mulai kembali lagi ke pekerjaan ku, pekerjaan yang dulu aku sangat sukai, namun sekarang aku seperti sudah tak ingin lagi bekerja.


Itu semua karna laki-laki itu yang muncul lagi di hadapan ku setelah pergi meninggalkan ku, apalagi setelah kejadian kemarin malam dengan mudahnya dia bilang ingin menjadi suamiku, rasa benciku terhadapnya semakin besar.


Meski aku melihat ruang kantor yang seperti biasanya tapi semangatku hilang entah kemana.


Aku mulai duduk dan menatap monitor, serta merapikan beberapa berkas data.


"Jung Hyuna! bagaimana kecanmu kemarin? apakah pria itu tampan," ledek Nu nami.


Seperti biasa dia selalu mengejek ku.


"Pergi!," jawabku acuh


"Hei hei, Hyuna kau ini, apa kau di tolak?," tanyanya ledek


"Tidak, tapi aku di ajak menikah," jawabku jujur.


"Ya ampun, benar kau di lamar, wah aku tak percaya," ucapnya menyerah.


"Sudah tau kan? jangan tanya lagi," jawabku menyelesaikan cemooh teman ku itu.


Meski begitu aku masih selalu melirik ke ruang Wakil Devisi, entah apa yang membuat ku masih berdegup ketika aku menatap matanya.


"Hyuna, kata sekertaris Hong Pak Wakil Devisi alan menikah minggu depan," cerita teman ku yang tiba-tiba itu.


"Oh benarkah, biarkan saja," jawabku acuh.


"Hyuna ku ini memang benar-benar bikin aku kesal, huh." Nami yang pergi meninggalkan ku sendirian dengan pekerjaan ku.


Tak lama setelah jam makan siang, aku yang melihat karyawan sedang sibuk dengan ponselnya, aku hanya berfikir apa aku tertinggal sesuatu.


Sebuah bunyi nada dering terdengar mengalun di saku celana ku.


Tentu aku tau itu adalah sahabatku yang menelfonku, aku sesegera mungkin mengangkatnya.


"Iya, kenapa?," tanyaku menghargainya


"Cepat cek platform kita, Kepala Devisi itu, em, cek saja sendiri!," ucap nya yang terlihat terburu-buru.


Suara nada sambung yang terputus mengakhiri pembicaraan mereka.


"Hah, dasar Nami, ada apa sebenarnya sampai seheboh itu," ucapanku yang juga penasaran.


Karna aku juga penasaran, akhirnya aku melihat platform perusahaan, betapa terkejutnya aku melihat berita yang ada di platform tersebut.

__ADS_1


Luka ku yang lama belum lah sembuh, dan aku yang di hujani dengan luka lain, bisa bisanya lelaki itu akan menikah dengan seorang Artis terkenal, namun dia semalam melamarku dengan wajahnya yang polos.


"Sial, dasar lelaki br*****k!, semalaman aku memikirkan kata-kata mu yang tiba-tiba melamarku, dan sekarang kau akan menikah dengan orang lain, huh," ucapku sangat kesal.


Aku sungguh semakin membenci laki-laki itu, sekarang aku tau sifat nya, aku bersyukur dapat mengetahui dirinya dan tidak terus-terusan terjerumus ke dalam permainan laki-laki itu.


Selera makan ku hilang seketika, aku pun kembali ke kantor tanpa mengisi perut, kabar itu telah menyebar di seluruh kantor, suasanya kantor ricuh akan omongan-omongan orang yang menginginkan laki-laki itu.


Aku hanya diam mendengarkan ocehan mereka.


Teman ku Nu Nami terlihat nampak menuju ke mejaku aku sudah menebak apa yang akan di ucapkanya padaku, namun aku terlambat untuk menghindari nya.


"Jung Hyuna," ucap Nami.


"Hemm," jawabku singkat.


"Ih kau ini, semangat sedikit dong," ucapnya yang merajuk atas rasa acuhku "kau sudah tau kabarnya kan? Pak Ketua kita akan menikah, padahal aku ingin teman ku Hyuna ini bisa menikahinya," ucapnya sembari merangkul pundak ku.


Dengan cepat aku membuang tangan sahabatku itu "ish, mau Pak Ketua laki-laki terakhir di bumi, aku ngak mau menikah dengan nya!," tegasku pada Nami.


"Ah, Hyuna jangan seperti itu, nanti kemakan omongan sendiri," ucapnya memperingatkan ku.


"Lalu?," jawabku ketus


"Baiklah, aku akan traktir," jawabku menyenangkan nya.


"Asik," ucap nya yang gembira sambil memeluk ku dan berniat mencium ku.


"Emm..," bibirnya yang monyong akan menyentuh pipiku.


Sontak saja aku reflek mengambil berkas yang ada di depan ku dan menutup bibirnya yang telah monyong itu.


"Jangan mulai ya," ucapku memperingatkan Nami.


"Hehehe, baik baik aku kembali ke meja dulu," jawabnya sambil tersenyum nyengir.


"Iya sana, pergi jauh jauh dariku," balas ku bercanda.


Tak lama Ketua Devisi ku itu masuk ke ruangan nya, aku yang berfikir dia tidak bekerja hari ini.


Saat dia melewati meja kerjaku tatapan nya padaku seakan akan ingin menculik ku, aku berusaha untuk tak menatapnya kembali, aku memalingkan wajahku dengan cepat.


Dan benar saja apa yang aku takutkan, dia memanggilku dengan alasan pekerjaan.


"Wakil kepala Devisi keruangkan ku sekarang," panggilnya.

__ADS_1


Dengan terpaksa aku masuk ke ruangan itu, tiba-tiba dia menutup pintu dan menyenderkan ku ke pintu.


"Ahhh," ucapku kesakitan.


Kasar nya hingga membuat pundak ku terkena pintu.


"Hyuna tunggu aku dua bulan lagi," ucap nya padaku.


"Apa maksudmu Seokjoon!," bantahku selagi aku terus memberontak.


Aku yang terus memberontak tanpa aku tahu, dia yang tiba-tiba menciumku.


Aku mencoba terus mengelak namun ciuman nya yang semakin menjadi, aku tak bisa berbuat apa-apa karna tangan nya yang mengikat ku kebelakang, akhirnya aku hanya bisa pasrah.


Ciuman hangat itu sudah lama tak ku rasa, setelah lima tahun namun rasa itu masih aku ingat.


"Hah, kau miliku sekarang!," ucapnya setelah melepas bibirnya padaku.


"Seokjoon kau, apa mau mu! biarkan aku bebas, lagi pula kau akan menikah, hiduplah bahagia bersama istrimu, sudahlah aku mohon hentikan ini," teriak ku hingga tak terasa air mata ku menetes perlahan.


"Tidak bisa kau sudah aku tandai, kau milik ku! aku masih menginginkan mu," ucap nya padaku.


Itu membuat ku semakin muak dan sakit, betapa benci ini benar-benar akan meledak.


"Namun aku tidak, aku sudah melupakan ku sejak lama, lepaskan aku akan pergi, pekerjaan ku masih banyak," jawabku tegas padanya.


"Aku mengerti dirimu, aku akan selalu mendekati mu, ingat lah ini hanya dua bulan saja, ingat itu Hyuna!," sedikit berteriak padaku.


Aku tak mengubrisnya dan berlalu pergi dari ruangan Kepala Devisi menuju meja kerjaku.


Ternyata perdebatan ku itu membuat penasaran para karyawan lain, pasalnya memakan waktu yang cukup lama.


"Hyuna, apa yang kalian lakukan di dalam, lama sekali kau tak keluar," tanya rekan kerja yang berada di sampingku.


"Ah, tidak hanya meluruskan kesalahan saja," ucapku sambil tersenyum.


"Oh, aku sampai mendengar suara gaduh, apa kau di marahi? rumornya memang Ketua Devisi kita sangat tegas dengan para karyawan nya," tanya rekan kerjaku itu.


"Iya sedikit, mungkin karna kesalahan ku tadi Ketua Devisi marah, tak apa aku sudah akan merefisinya kok," jawabku yang terus tersenyum.


"Oh begitu, semangat ya Hyun," ucap rekan kantor ku menyemangati.


"Iya, kau juga," balasku tersenyum.


Aku masih memikirkan ciuman nya, ciuman yang membuat jantungku masih berdegup meskipun rasa benci juga hadir dalam hatiku.

__ADS_1


__ADS_2