
Carlin terkejut dengan apa yang baru ia dengar dari mulut rian.
Pacar ?, siapa pacar yang di maksud rian. dia dan pria itu menjadi sepasang kekasih?,oh tidak. Itu tidaklah mungkin, kenal saja tidak. Bagaimana bisa langsung menjadi kekasih, ada ada saja pria di hadapannya ini.
"Aku dan kakakmu itu, tidak memiliki hubungan apapun." jawab carlin dengan enteng, namun rian rupanya tak percaya dengan apa yang ia katakan. Rian masih keukeh dengan dugaanya, ia tahu gadis ini pasti sengaja berbohong.
"kau tak perlu berbohong, katakan saja padaku jika kalian memang mempunyai sebuah hubungan spesial.....kau tak perlu malu mengatakannya" ucap rian dengan sikap keras kepalanya.
Carlin menghembuskan napas kasar, kenapa pria ini keras kepala sekali.Baru beberapa menit yang lalu bertemu, tapi pria ini sudah membuatnya kesal saja.
"Sudah ku katakan aku tidak memiliki hubungan apapun dengan kakakmu...."jawab carlin dengan masih berusaha bersikap tenang.
"Lalu, kenapa kau ada disini.....?"pertanyaan yang mampu membuat carlin terdiam, tak berkutik.
"Hayo,....kenapa kau diam. Tadi saja kau terus menyangkal dengan cepat, tapi sekarang kau diam tak berkutik........" ucap rian dengan mengejek, kini ia serasa telah menang dari gadis ini. Karena telah melontarkan pertanyaan yang bisa membuat gadis di depannya diam tak berkutik.
"Itu.....mm...." carlin benar benar bingung harus mengatakan apa, dia harus menjelaskan bagaimana pada rian. Mengatakan kalau ia di culik lalu di selamatkan oleh axell, apakah sesingkat itu bisa membuat rian percaya.
Rian memicingkan salah satu alisnya, melihat carlin yang tampak terdiam di tempatnya.
"Aku tidak tahu. Saat aku tersadar, aku sudah ada di mansion ini" jawab carlin akhirnya.
Senyum rian mengembang lebar, ia sudah yakin kalau kakaknya pasti tertarik pada gadis ini.
"Oh, benarkah....?"tanya rian.
Carlin mengangguk cepat, berharap pria di depannya percaya. Dan tidak menanyakan hal lain yang sulit untuk ia jawab.
"Baiklah aku percaya,....." ucap rian membuat carlin menghela napas lega.
"eumm......." rian menyentuh dagunya sendiri, bersikap seolah tengah berpikir.
"Tapi, aku tetap yakin kalau kalian berdua memiliki hubungan spesial,...." ucap rian membuat carlin menghembuskan napas kasar, pria ini benar benar sangat menyebalkan.
__ADS_1
Masa bodoh lah,sesuka hatimu saja mau beranggapan apa . Batin carlin dengan acuh.
Di lain tempat, tepatnya di sebuah ruangan yang luas dan megah. Tengah duduk seorang pria di kursi kebesarannya,pandangannya fokus menatap layar komputer di hadapannya. Dengan sebuah kacamata yang bertender di hidungnya.
Tok
Tok
Suara pintu yang di ketuk dari luar, tak membuat pandangan pria itu teralihkan. Ia masih fokus pada layar komputernya.
"Masuk....." suruh pria itu tanpa menggalihkan pandangannya dari layar di depannya.
Cklek
pintu ruangan itu terbuka, menampakan seorang pria berjas rapi berjalan memasuki ruangan menghampiri meja yang di tempati pria tadi.
"Tuan Axell, tuan rian datang berkunjung ke mansion......" ucap gavin dengan bersikap formal.
Ya, pria itu adalah axell. Ia kini tengah berada di perusahaanya sekarang.
"Biarkan saja,......."jawab axel dengan santai seraya melonggarkan dasi yang seharian mencekik lehernya.
"Apakah tidak apa apa, bukannya di mansion ada nona carlin....." tanya gavin dengan mata yang masih tertuju pada bosnya, menunggu reaksi yang akan di tunjukan axel setelah mendengar pertanyaanya.
"Tidak apa. Kau tahu sendirikan, kalau dia dan ayahnya tidak memiliki hubungan yang akur. Aku yakin dia tidak akan memberitahukan tentang aku yang mempunyai wanita untuk menghindari perjodohan itu pada pria tua itu....." jawab axel dengan enteng, ia tahu seperti apa sifat dan sikap adik laki lakinya itu.
"Lalu, kau akan membiarkan mereka hanya berdua di dalam mansion...." tanya gavin kembali pada sikap biasa, berbicara pada axel dengan santai.
"Di mansion ku itu bukan hanya ada mereka, para pelayan dan penjaga banyak di sana. Dan lagi ada pak rudy yang akan mengawasi mereka..."jawab axel dengan nada sedikit ketus, pertanyaan sahabatnya ini memang selalu membuat kesabarannya di uji.
"Mereka tidak akan bisa melakukan apapun, mereka tidak akan berani untuk mengganggu majikannya....." seru gavin dengan santainya, yang sontak membuat axel menatapnya tajam.
"Bagaimana kalau gadis itu di rebut oleh adikmu, apalagi gadis itu mempunyai paras yang cantik....." gavin terus saja memanas manasi hati axel, sama sekali tak ada rasa takut di dirinya padahal ia telah membuat bosnya kesal.
__ADS_1
"Sebaiknya kau keluar, aku benar benar muak melihat mu ada di sini. Mulutmu itu memang sangat tajam, melebihi ibu ibu kompleks.....membuatku kesal saja....."ucap axel dengan nada sewotnya, sedangkan gavin hanya tertawa seraya melangkah pergi keluar dari ruangan axel.
Cklek
pintu ruangan axel telah tertutup rapat, kini hanya tersisa axel yang masih mengumpat kesal pada gavin.
Ia melepaskan kaca matanya, beranjak dari kursi kebesarannya. Ia berjalan menuju sofa dengan laptop di tangannya.
Axel mendudukan bokongnya di sofa empuknya, membuka laptop di pangkuannya. Mengutak-atik laptot itu, lalu tak lama terlihat sebuah rekaman. Lebih tepatnya rekaman kamera cctv di mansionnya.
Ia mencari keberadaan carlin, mencari gadis itu di penjuru rumah yang di pasangi cctv.
Dari mulai ruang tamu, ruang keluarga, dapur dan bahkan kamarnya. Carlin sama sekali tak terlihat dalam rekaman cctv itu.
Ia beralih melihat rekaman cctv di halaman belakang, siapa tahu gadis itu tengah bersantai di sana.
Dan benar saja, ia melihat gadis itu tengah duduk di kursi pinggir kolam renang. Tapi yang membuatnya kesal adalah, disana juga ada rian yang ikut duduk di kursi samping carlin. Mereka tampak berbincang dengan sesekali tersenyum dan tertawa. Membuat suasana hati axel yang melihatnya menjadi panas.
Ia beranjak setelah mematikan kembali laptopnya. Ia berjalan membuka pintu lalu berjalan keluar dari ruangannya, di mejanya gavin terlihat fokus pada pekerjaanya.
"Anda mau kemana, tuan?" tanya gavin kembali pada sikap formalnya.
"Kau tak perlu tahu....." jawab axel melangkah pergi, namun langkahnya terhenti ketika mendengar suara gavin.
"Anda tidak bisa pergi tuan, karena beberapa menit lagi. Kita harus rapat....." ucap gavin membuat axel mengusap rambutnya kasar lalu berbalik dan kembali masuk ke dalam ruangannya.
Brak
Axel menutup pintu ruangannya dengan keras, membuat gavin sampai tersentak kaget. Ia bahkan mengelus dadanya sendiri karena terkejut, ia tahu suasana hati bosnya itu pasti sedang tidak dalam suasana baik.
Axel berjalan menuju sofa dan mendudukan bokongnya di sana.
Axel kembali menghidupkan laptopnya, melihat kedua anak manusia di dalam rekaman yang masih tampak asik berbincang dengan sesekali tertawa.
__ADS_1
"Kenapa gadis itu mudah akrab dengan rian, sedangkan dengan ku dari awal dia sudah mengibarkan bendera perang...." gumam axel menatap kesal pada layar laptopnya.