Terjerat Cinta Mafia Kejam

Terjerat Cinta Mafia Kejam
Gadis yang cerewet


__ADS_3

Axell menatap lekat gadis di bawah kungkungannya ini, menatap lekat mata berwarna biru milik carlin, terlihat sangat indah.


Axel mendekatkan wajahnya, membuat carlin seketika memejamkan matanya erat.


oh tuhan, apa yang akan di lakukan pria ini.... batin carlin panik, ia tak tahu harus melakukan apa. Ingin memberontak dan lari, itu pasti tidaklah mungkin karena pria yang berada di atasnya ini telah benar benar tak memberikannya celah untuk lari.


tak


Carlin seketika membuka matanya,ketika merasakan bukan bibir kenyal yang menyentuh wajahnya melainkan sebuah sentilan di keningnya yang lumayan terasa sakit.


Ia mengusap keningnya, menatap aneh pada axel yang malah tersenyum setelah menyentil keningnya.


"Ini hukumanmu karena telah berani melupakan ku...." ucap axel lalu beranjak dan berdiri di samping ranjang, membuat carlin menghela napas lega.


Apa...... batin carlin tak percaya,merasa bingung bercampur heran dengan pola pikir pria di hadapannya ini.


Axell melangkahkan kakinya menuju pintu, ia keluar dari kamar meninggalkan carlin yang menatap kepergiannya dengan tatapan aneh.


Carlin kembali mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru ruangan, ia tak tahu sekarang ia berada di mana.


Yang ia ingat adalah saat dirinya kabur dari kediaman celestyn, lalu ada seseorang yang mengikutinya dan membekap mulutnya hingga penglihatannya buram dan berubah menjadi gelap.


Dan kini ia terbangun di tempat yang tak ia kenal, sangatlah asing baginya. Apakah pria tadi yang menculiknya, tapi jika ia memang di culik kenapa saat ia sadar,ia tak berada di tempat kumuh dan kotor contohnya di gudang seperti dalam film film action yang pernah ia lihat.


Atau pria tadi yang menyelamatkannya dari orang asing yang berusaha menculiknya, ia benar-benar tak tahu apa sebenarnya yang terjadi padanya.


tapi tak apalah, anggap saja rencana kabur dari rumahnya telah berhasil,dan kini mungkin ia telah pergi jauh dari kediaman celestyn.


Cklek

__ADS_1


Carlin seketika tersadar dalam lamunannya, ketika mendengar suara pintu yang terbuka.


Axel masuk kedalam kamar dengan membawa sebuah nampan berisi makanan, ia menutup kembali pintu kamarnya. Lalu berjalan menghampiri carlin, meletakan nampan yang ia bawa di atas nakas.


Ia berdiri di samping ranjang, memerhatikan carlin yang tampak masih dalam posisinya.


"Sebaiknya kau makan dulu ......" ucap axel


"Sebenarnya aku ada di mana.....?" tanya carlin tak menghiraukan perkataan axel barusan.


"Sudah aku katakan, kau ada di tempatku...." jawab axel dengan enteng, membuat carlin memutar bola mata jengah menatapnya.


"iya aku tahu ini rumahmu, tapi sekarang aku ada dimana? " tanya carlin merasa geram dengan sikap acuh pria di hadapannya ini.


"Aku sudah katakan kau ada di tempatku, dan kau tak perlu tahu kita ada dimana......yang pasti kita masih berada di negara A" jawab axel sontak membuat carlin meliriknya sinis.


Axell mengambil nampan di atas nakas, lalu memberikannya kepada carlin yang sama sekali tak di terima oleh carlin.


Axel mengangkat bahunya acuh, lalu kembali meletakkan nampan itu di atas nakas.


Ia pun berjalan memutari tempat tidur, naik keatas tempat tidur di samping carlin. Membuat carlin panik kembali, apa lagi yang akan di lakukan pria ini batin carlin menatap was-was pada axell yang kini sudah duduk santai di atas ranjang.


"Mau apa kau...?" tanya carlin memerhatikan gerak gerik axel yang merebahkan tubuhnya dan berbaring santai seolah tak memperdulikan keberadaannya.


"Heiiiiii....." pekik kesal carlin karena merasa tak di anggap oleh pria yang tengah berbaring di sampingnya ini.


Axel menoleh, menatap datar gadis yang menurutnya cerewet. Ia tak percaya bahwa gadis yang ia culik ini ternyata mempunyai sifat cerewet, tak selemah lembut yang ia kira.


"kau tak melihat jam, ini sudah larut malam......" ucap axel menunjuk pada jam dinding yang terpasang apik di dinding tepat berada di atas televisi yang berukuran besar dan lebar yang berada di dalam kamarnya.

__ADS_1


"Lalu......" tanya carlin tak mengerti dengan apa yang di maksud axel.


"Ya aku mau tidur lah......" jawab axel dengan enteng, menarik selimut yang di gunakan carlin.


"Apaaa......" pekik terkejut carlin, ia menarik kembali selimut yang akan di ambil oleh axel.


"Ternyata kau cerewet juga ya...." seru axell menatap carlin dengan wajah tanpa ekspresinya.


"Aku tak peduli.....kenapa kau ingin tidur di sini?"tanya carlin dengan tegas, masih mencoba mempertahankan selimutnya.


"Ini adalah kamarku....." jawab axel dengan wajah datarnya yang seketika membuat carlin yang mendengarnya terdiam.


Bagaimana bisa ia tidur bersama seorang pria yang bahkan belum ia kenal, bahkan ia tak tahu siapa nama pria di sampingnya ini. Bagaimana jika pria itu melakukan hal yang tidak-tidak padanya, oh....tidak, ia tidak bisa membiarkannya.


"Baiklah, kalau ini kamar mu silahkan kau tidur saja disini dengan nyenyak. Tapi tolong beritahu aku, apakah ada kamar lain yang bisa aku gunakan untuk tidur, untuk semalam saja. Besok aku akan pergi dari tempatmu.....aku berjanji" ucap carlin duduk tegak dengan memeluk selimut yang berada di pangkuannya.


"Tidak ada.....disini tidak ada kamar lain" jawab axell dengan cepat, seraya memejamkan matanya. padahal ia sekarang tengah berbohong, di mansionnya ada banyak kamar. Kamar tamu, begitupun kamar yang di gunakan para pelayan yang jumlahnya lebih dari 10 orang.


Carlin menatap tak percaya, ia benar-benar tak percaya. melihat kamar yang tampak mewah dan luas ini pasti juga rumahnya sangatlah luas sehingga pasti ada kamar lain selain kamar ini.


"Kau pasti berbohong......" ucap carlin menatap sengit pada axel yang masih terlihat tenang dalam baringnya.


"Terserah saja, kalau kau tak percaya...." jawab axel dengan mata yang masih terpejam.


Carlin menghela napas kasar, ternyata sulit juga berbicara dengan pria di hadapannya ini,sungguh benar-benar menguras kesabarannya.


"Baiklah......" ucap carlin, membuat axel membuka matanya kembali.


Carlin beranjak dari ranjang, walaupun kepalanya masih terasa sedikit pusing. Ia memaksakan untuk berdiri, dan berjalan menuju sofa yang berada tak jauh dari ranjang.

__ADS_1


Dengan membawa bantal juga selimut di dalam pelukannya, meletakannya di atas sofa.Lalu membaringkan tubuhnya dengan nyaman, tanpa memperdulikan tatapan axel yang sedari tadi memerhatikannya.


Masa bodoh, jika axel menganggapnya gadis yang tak punya rasa malu karena bersikap seenaknya di rumah orang. Yang penting malam ini ia mendapatkan tempat untuk tidur dan beristirahat, lalu nanti pagi ia akan pergi dari sini dan mencari tempat yang nyaman untuk ia tempati nantinya. Dan memulai kehidupan barunya sendirian, tidak ada sesuatu yang di namakan keluarga. Kini ia akan menjalani hidupnya sendirian, benar-benar sendirian.


__ADS_2