Terjerat Cinta Mafia Kejam

Terjerat Cinta Mafia Kejam
Perilaku axel yang aneh


__ADS_3

Waktu telah menunjukan pukul 8 malam, carlin sekarang tengah berbaring santai di atas sofa yang kemarin ia tempati untuk tidur.


Ia tengah asik menonton televisi di hadapannya dengan di temani cemilan yang tadi di bawakan oleh pak rudy untuknya.


Axell sampai sekarang belum terlihat oleh pandangannya, sepertinya pria itu belum pulang sampai sekarang.


Rian sudah pergi pulang tadi sore, menemaninya seharian ini hingga tak terasa sore telah tiba. Sehingga rian harus pergi pulang, dan berpamitan padanya.


Jujur saja, rian mempunyai sikap humoris dan selalu membuatnya tertawa dengan candaannya itu. Membuatnya tak bosan di mansion ini, dengan menunggu axel yang entah akan pulang jam berapa.


Cklek


pintu kamar terbuka, carlin menoleh ke arah pintu. Rupanya itu adalah axel, wajah pria itu terlihat lelah.


Carlin beranjak dari baringnya, ia duduk dengan bersandar di sofa dengan mata yang masih tertuju pada axel yang berjalan memasuki kamar mandi.


Pria itu tak mengatakan satu patah katapun padanya, dan bahkan dia sama sekali tak menoleh padanya padahal ia duduk di sofa yang tak jauh darinya. Apakah ia tak terlihat oleh mata axel.


Ada apa dengan pria itu,..... batin carlin bertanya tanya, melihat pada pintu kamar mandi yang sudah tertutup.


***


Axel keluar dari kamar mandi dengan handuk putih yang melilit di pinggangnya.


ia berjalan santai memasuki walk in closet tanpa memperdulikan wajah carlin yang sudah memerah menahan malu.


Ia sebenarnya merasa kesal pada carlin, dengan mudahnya gadis itu akrab dengan adiknya. Sedangkan dengannya sendiri,carlin seolah terus saja mengibarkan bendera perang.


Setelah selesai memakai pakaiannya, ia berjalan keluar dari ruangan yang di penuhi pakaian juga aksesoris lainnya.


Ia berjalan santai menuju ranjang, naik ke atas ranjang lalu membaringkan tubuhnya seraya menarik selimut yang menutupi sebagian tubuhnya.


Carlin sedari tadi hanya bisa bertanya-tanya,apa sebenarnya yang terjadi pada axel. Kenapa sedari tadi pria itu sama sekali tak berbicara padanya.

__ADS_1


Carlin hanya bisa melihatnya dari sofa, menatap dengan perasaan bingung.


"Tuan axel...."panggil carlin, namun tak mendapat jawaban dari axel yang berbaring membelakanginya.


"Apa kau baik baik saja ...?"tanya carlin lagi, berharap mendapat jawaban dari axel.


"Apa kau sakit...." tanya carlin lagi, namun tak juga mendapat jawaban dari axel. Bahkan pria itu terlihat tak bergerak sedari tadi.


Lama kelamaan carlin menjadi kesal, ia seperti tak di anggap keberadaanya di sini.


Carlin beranjak dari duduknya, lalu melangkah pelan menuju ranjang. Ia ingin memastikan apakah axel baik baik saja, karena sedari tadi pria itu tak bersuara.


Ia menatap punggung axel yang terbalut selimut tebalnya, tangannya dengan ragu terulur untuk menyentuhnya.


"Tuan....." panggil carlin seraya menyentuh punggung pria yang berbaring membelakanginya.


"Apakah kau sudah tidur..."tanya carlin, sedangkan axel yang sama sekali belum memejamkan matanya hanya diam dalam posisinya.


Ia sama sekali tak berniat menjawab perkataan carlin. Rasa kesalnya masih menyelimuti hatinya sedari tadi, entah apa artinya. Namun ia tak suka melihat carlin berdekatan dengan laki laki lain,walaupun adiknya sekalipun.


"Kau ingin membantuku mencari tempat tinggal kapan?, kalau kau tak bisa. Aku akan mencari sendiri saja, dan pergi dari sini...."lanjut carlin, tanpa tahu lawan bicaranya tertidur atau tidak. Axel hanya memutar bola mata jengah mendengarnya, sebegitu ingin pergikah carlin dari sisinya. Kenapa yang carlin bicarakan hanya tentang tempat tingga untuk dirinya sendiri tempati nanti.


"Besok aku akan pergi dari sini,....." ucap carlin dengan tatapan lurus menatap punggung kokoh axel.


"Tapi untuk malam ini, aku izin untuk tidur di kamarmu. Karena katamu di mansion ini sudah tidak ada lagi kamar......." ucap carlin masih tetap berdiri di samping ranjang.


"Baiklah.....selamat malam. Semoga tidurmu nyenyak..."carlin berbalik badan lalu melangkahkan kakinya untuk kembali menuju sofa.


Namun tiba tiba saja sebuah tangan menarik tangannya membuat carlin tertarik dan terjatuh tepat di atas tubuh axel.


Carlin membelalakan mata terkejut, melihat axel yang kini berada di bawahnya dengan kedua tangannya yang mencengkram kuat tangannya.


"A-apa yang ka-kau lak-lakukan....?"tanya carlin dengan terbata, menatap wajah axel yang begitu dekat dengan wajahnya. Bahkan hembusan napas axel terasa di kulit wajahnya.

__ADS_1


Axel tak menjawab, ia hanya diam seraya menatap lekat wajah cantik carlin di atasnya. Ia tahu sekarang gadis di atasnya tengah gugup, bahkan ia bisa merasakan detak jantung carlin yang berdetak cepat di dadanya.


"Tu-tuan axel,....."panggil carlin dengan perasaan gugup bercampur takut.


"Apa kau sebegitu ingin pergi dari mansion ini...."tanya axel dengan tatapan datarnya, carlin menjawabnya dengan mengangguk. Membuat axel semakin kesal di buatnya.


" aku tidak akan membiarkan keinginanmu itu terwujud,....."ucap axel membuat carlin yang mendengarnya mengernyit kening bingung.


"Kenapa?"tanya carlin menatap wajah axel yang begitu dekat dengan wajahnya.


"Karena aku tidak mau kau pergi dari sini...."jawab axel membuat carlin terkejut.


"Sebenarnya ada apa dengan mu,tuan. Kenapa kau bersikap seperti ini?"tanya carlin


"Tidak ada. memang seperti inilah aku. Axel yang semalam kau lihat tidak ada,...."jawab axel dengan tersenyum menyeringai.


"Apa kau mabuk, tuan?"tanya carlin, ia masih bingung dengan perubahan sikap yang axel tunjukan sekarang, jauh berbeda dengan axel yang semalam dan tadi pagi ia kenal.


"Apa kau mencium bau minuman di tubuhku?"axel balik bertanya, dengan wajah datarnya.


Carlin tak bisa lagi berkata-kata, karena ia sama sekali tak mencium bau minuman di tubuh axel. Pertanda kalau axel tidaklah dalam kondisi mabuk karena minuman seperti dugaanya.


"Apakah kau bisa melepaskanku...."ucap carlin seraya memalingkan wajahnya ke sembarang arah, ia benar benar gugup karena axel yang terus menatapnya.


Bukannya melepaskan tangannya,axel malah memindahkan kedua tangannya itu pada pinggang ramping carlin. Memeluknya dengan erat, membuat carlin terkejut.


"To-tolong, lepaskan aku....."pinta carlin dengan kedua tangan yang bertumpu pada dada axel.


Axel tak menjawab, ia hanya menatap lekat wajah cantik carlin di atasnya. Memerhatikan setiap inci wajah carlin,hingga tatapannya berhenti di bibir tipis merah muda carlin.


Bibir yang tadi pagi pernah ia rasakan, walaupun hanya sekedar kecupan singkat.


Carlin hanya bisa menggigit pelan bibirnya, ia benar benar gugup. Carlin mengalihkan pandangannya kesembarang arah, tidak mau sampai bersitatap dengan mata axel yang terus menatapnya itu.

__ADS_1


Axel yang melihat itu di buat gemas, ingin rasanya ia melahap bibir ranum itu.


Bersambung......


__ADS_2