
Axell mengernyit kening heran, ketika carlin kembali turun dari tangga dan berjalan menghampirinya.
"Ada apa?,kenapa kau belum mengganti pakaianmu....?"tanya axel melihat carlin yang masih memakai pakaian yang sama.
"Eum, pakaian gantinya mana?. Bagaimana aku bisa mengganti pakaian jika pakaiannya tidak ada?" tanya carlin dengan polosnya,membuat axel tersenyum tipis.
"Sudah saya siapkan di dalam kamar, nona.....anda bisa mengenakan pakaian itu" ucap pak rudy, memberitahukan bahwa pakaian yang di inginkan carlin sudah ada di dalam kamar axel.
"Baiklah, terima kasih. Pak rudy...." jawab carlin di angguki oleh pak rudy.
Carlin kembali membalikan badannya, lalu melangkah menaiki tangga menuju lantai atas di mana kamar axel berada.
"Dia terlihat biasa-biasa saja, aku kira dia akan menangis dan memberontak minta untuk di lepaskan" seru gavin membuka suaranya setelah sejak tadi diam.
Axel menoleh pada asistennya itu, ia mengangkat salah satu kakinya pada kaki yang lain. duduk dengan bertumpang kaki, seraya menyandarkan tubuhnya di sofa.
"Dia tidak tahu kalau akulah yang menculiknya......sebaliknya ia menduga kalau aku yang menyelamatkannya dari orang yang ingin menculiknya itu" jawab axel dengan santai.
"Bagaimana bisa....?"tanya gavin tak menduga dengan reaksi yang akan di perlihatkan gadis itu.
Axel menurunkan salah satu kakinya, duduk seperti biasa,ia melirik sinis pada asistennya itu. Kenapa gavin harus menanyakan hal itu, bukannya bagus kalau carlin tidak mengetahui kalau ternyata ialah yang menculiknya.
"Hei,kau itu sebenarnya ada masalah apa dengan ku.....?" ucap axel dengan ketus seraya melirik sinis pada gavin yang malah tersenyum.
"Kau itu sepertinya tak senang melihat aku bahagia, ...." lanjut axel seraya melonggarkan dasinya.
"Bukan seperti itu, kau itu selalu berprasangka buruk saja pada ku...." jawab gavin seraya tersenyum lebar, tapi malah semakin membuat axel kesal melihatnya.
"hehehe.....aku kan hanya bertanya, bagaimana bisa dia menganggapmu sebagai penyelamatnya....?"tanya gavin seraya terkekeh, melihat wajah majikannya yang tampak sangat kesal padanya.
__ADS_1
"Aku tidak tahu....." ketus axel seraya beranjak dari duduknya, ia berjalan pergi menaiki tangga meninggalkan gavin dan pak rudy di ruang keluarga. Axel menaiki tangga menuju kamarnya.
Axel membuka pintu kamarnya tanpa mengetuk pintu, ia mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru kamar. Carlin sama sekali tak terlihat dalam pandangannya, mungkin gadis itu masih berada di dalam kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.
Di dalam kamar mandi, carlin baru selesai membersihkan tubuhnya. Ia kini tengah melilitkan handuk putih di tubuhnya yang mulus dan putih.
Ia dengan santai berjalan menuju pintu, menekan handel pintu tanpa tahu kalau di luar pintu ini ada seseorang yang tengah menunggunya.
Carlin membuka pintu kamar mandi, ia keluar dari kamar mandi lalu kembali menutup pintu kamar mandi itu.
Tanpa ia sadari ada seseorang di atas sofa yang duduk santai seraya berselonjor kaki, Karena posisi sofa yang membelakangi pintu kamar mandi sehingga membuat carlin tak menyadari kalau ada axel di sana.
Axel menoleh kebelakang ketika mendengar suara pintu yang terbuka,seketika ia membelalakan matanya terkejut melihat pemandangan yang tersuguh di depan matanya.
Dimana carlin dengan santai berjalan menuju ranjang untuk mengambil paper bag berisi pakaian yang telah di siapkan oleh pak rudy.
"Tidak buruk...." gumam carlin melihat dres di hadapannya, ia jarang menggunakan dres seperti ini. Ia terbiasa menggunakan celana.
"pakaian dalamnya juga....." ucap carlin dengan lirih, melihat di dalam paper bag itu tidak hanya berisi dres saja. Tetapi juga ada pakaian dalamnya, apakah benar ini semua pak rudy yang menyiapkan. Kalau iya, ia akan benar-benar merasa malu.
Carlin pun mulai memakai pakaiannya, melepaskan handuk putih yang melilit pada tubuhnya begitu saja. Karena menurutnya, ia hanya seorang diri di dalam kamar ini. Oleh karena itu ia bisa memakai pakaiannya di sini, tidak perlu repot-repot masuk kedalam walk in closet.
Namun tanpa ia sadari, ia di dalam kamar tidak hanya seorang diri. Ada axell yang kini sudah berkeringat dingin karena ulahnya.
"Gadis ini, benar-benar....." Kesal axel berusaha memalingkan wajahnya, ia tidak mau melihat pemandangan itu yang nantinya hanya akan menyiksanya.
"Sangat muat di tubuhku, pak rudy ini memang luar biasa. Dia bisa menebak ukuran bajuku tanpa bertanya..." gumam carlin melihat dres yang ia pakai sangat muat di tubuhnya.
Carlin mengambil kembali handuknya yang berada di atas tempat tidur, ia membungkus rambutnya yang basah dengan handuk itu.
__ADS_1
Ia membalikan badannya, melangkah menuju cermin dimana tertata rapi parfum axel di sana.
Namun tunggu.....matanya sekilas seperti menangkap sosok pria yang tengah berdiri seraya bersedekap dada di sofa sana.
Ia menoleh untuk memastikan penglihatannya tak salah, seketika matanya membelalak terkejut.
Disana axel tengah berdiri seraya bersedekap dada, seraya menatapnya dengan tatapan tanpa ekspresi.
Di dalam kamar itu seketika berubah menjadi hening, lalu sepersekian detik kemudian carlin berteriak histeris yang mampu di dengar oleh gavin dan pak rudy yang berada di lantai bawah.
"Aaaaaaaaaaaaa........." teriakan carlin menggema di dalam mansion, membuat gavin dan pak rudy yang tengah mengobrol seketika terdiam ketika mendengar teriakan carlin dari lantai atas, tepatnya dari kamar axel.
Gavin dan pak rudy saling melihat, mereka bertanya-tanya apa yang terjadi di atas sana.
"Apa yang di lakukan axell sampai membuat gadis itu berteriak histeris seperti itu ......?" tanya gavin yang entah bertanya pada siapa.
"Anda bertanya pada siapa tuan, kalau pada saya. Saya pun tidak tahu, karena saya sejak tadi berada di sini bersama anda ........" sahut pak rudy membuat gavin menoleh padanya.
"Saya tidak bertanya pada siapapun, saya bertanya pada diri saya sendiri" ucap gavin menutupi rasa malunya.
"Apa anda mendapatkan jawabannya?" tanya pak rudy membuat gavin berdehem pelan, bersikap biasa-biasa saja.
"Saya kekamar mandi dulu, kalau tuan axell menanyakan saya. Bilang saja kalau saya kembali kekamar sebentar...." ucap gavin menghindar dari pertanyaan pak rudy yang malah akan menjebaknya, lebih baik ia menghindar saja.
Gavin pun beranjak dari duduknya, lalu berjalan tergesa gesa, seolah memang ia tengah kebelet untuk kekamar mandi. Meninggalkan pak rudy yang masih duduk santai di sofa menatap kepergiannya dengan tatapan polosnya, seolah ia tak melakukan apapun sampai membuat gavin menghindar.
kembali ke kamar axel, carlin menatap terkejut atas keberadaan axel di dalam kamar. Sejak tadi ia tak menyadari keberadaan axel.sejak kapan pria gila ini ada disini.....batin carlin bertanya-tanya.
Bersambung......
__ADS_1