
"Bagaimana?, apa kau mau membantuku? "tanya carlin melihat axel yang kini telah selesai memasang dasi di lehernya, terlihat semakin mempesona dengan stelan kemeja beserta dasinya.
Axel mengalihkan pandanganya kembali pada carlin, ia memasukan kedua tangannya kedalam saku celana.
"Tidak bisa, aku sibuk hari ini" jawab axel dengan santainya, membuat carlin menghela napas pasrah.
"Baiklah, tidak apa-apa. Tapi tolong beritahu aku, sekarang aku berada di mana?...." tanya carlin
"di tem-......" perkataan axel sontak langsung di potong oleh carlin dengan cepat.
"Maksudku kita ada di kota mana?" tanya carlin membenarkan pertanyaannya, agar tidak terus-terusan mendapatkan jawaban yang sama dari pria di hadapannya.
"Kota C...." jawab axel dengan singkat, lalu melangkah pergi menuju pintu. Ia membuka pintu,lalu keluar dari kamarnya.
Carlin yang melihat axel keluar, langsung berdiri lalu berjalan tergesa-gesa untuk mengejar axel. Ia harus membujuk axel agar mau membantunya, sekarang harapan terakhirnya untuk bisa mendapatkan tempat tinggal di kota ini adalah axel. Ia harus meminta axel untuk membantunya mencarikan tempat tinggal.
Axel berjalan menuruni tangga, di susul carlin yang berlari kecil dengan baju tidurnya. Carlin sama sekali belum mandi, ia masih mengenakan pakaian semalam.
Di meja makan, Gavin sudah duduk tenang di salah satu kursi. Ia tengah menunggu majikan sekaligus telah menjadi sahabatnya sejak bertahun tahun yang lalu.
Ia melihat axel yang menuruni tangga, tapi ia mengernyitkan kening ketika melihat carlin yang berjalan mengikuti axel.
Gadis itu terlihat tenang-tenang saja, padahal ia telah di culik pikir gavin memerhatikan carlin yang tampak baik-baik saja.
Gavin berdiri dari duduknya, menunduk hormat menyambut kedatangan majikannya.
"Duduklah, tak perlu melakukan hal itu...." ucap axel pada gavin yang hanya mengangguk sebagai jawaban, lalu iapun kembali mendudukan badannya di kursi.
Pria paruh baya yang semalam,menarik salah satu kursi yang akan di duduki oleh axel. Mempersilahkan tuannya untuk duduk.
"Silahkan nona....." ucap pria paruh baya itu, menarik salah satu kursi yang berada di samping kursi yang tengah di duduki axel sekarang.
__ADS_1
"Eh, tidak perlu pak. Saya akan kembali ke atas saja...." tolak carlin, karena ia sadar. Kalau ia bukanlah siapa siapa di rumah ini, ia tidak pantas bergabung untuk makan di meja makan bersama pria gila itu. Ia masih tahu batasannya, ia lebih memilih kembali kedalam kamar saja.
Saat carlin ingin membalikan tubuhnya dan melangkah pergi, suara axel menghentikan langkahnya.
"Duduk, lalu sarapan. Setelah itu aku akan membantumu...." ucap axel membuat carlin langsung membalikan badannya kembali dengan tersenyum senang, akhirnya pria gila itu mau membantunya.
Carlin berjalan mendekat, menduduki kursi yang telah di persiapkan oleh pria paruh baya itu.
"Terima kasih pak...." ucap carlin tersenyum ramah pada pria paruh baya itu, yang hanya menjawab ucapan terima kasihnya dengan senyuman ramahnya.
"Panggil saja saya pak rudy, nona....." ucap pria paruh baya itu, di angguki oleh carlin.
"Apa kau benar-benar akan membantuku?" tanya carlin memastikan pendengarannya tidak salah.
Axel yang tengah menyantap sarapannya menoleh dengan mulut yang tengah mengunyah, ia menganggukan kepalanya sebagai jawaban yang sontak membuat carlin tersenyum lebar.
"Terima kasih...." ucap carlin pada pelayan wanita yang telah mengambilkannya makanan untuknya, kini piringnya telah terisi berbagai macam makanan yang tentunya terlihat enak.
Pak rudy dan pelayan wanita itu pamit undur diri dari sana, mereka tidak ingin mengganggu acara sarapan majikannya.
Carlin baru sadar kalau di meja makan tidak hanya ada dirinya juga axel, tapi ada pria yang juga tengah duduk di kursi meja makan.
Carlin menoleh pada gavin, yang juga tengah menatapnya. Gavin duduk bersebrangan dengan tempat carlin dan axel duduk sekarang, hanya terhalang oleh meja yang tertata rapi berbagai macam makanan di atasnya.
Carlin tersenyum tipis pada gavin, sedangkan gavin hanya menganggukan kepalanya lalu kembali fokus pada makanannya.
Carlinpun mulai menyantap makanannya, mengisi perutnya agar nanti bisa semangat mencari tempat untuk ia tinggal nantinya.
Setelah beberapa menit, acara sarapan telah selesai. Beberapa pelayan mulai kembali merapikan meja makan, mereka membawa piring piring bekas itu kembali kedapur.
Carlin berdiri dari kursinya, berniat untuk membantu para pelayan itu.
__ADS_1
Tapi dengan sigap di cegah oleh salah satu pelayan wanita.
"Tidak perlu, nona....biar kami saja yang melakukannya" cegah salah satu pelayan itu seraya memegang lengan carlin yang ingin mengambil piring di atas meja makan.
Sontak saja pelayan itu langsung melepaskan tangannya dari lengan carlin, ketika melihat sorot mata tajam axell yang memberinya peringatan untuk tidak menyentuh miliknya.
"Kau ikut aku sekarang....."ucap axel pada carlin, ia berdiri dari duduknya lalu melangkah pergi di ikuti gavin di belakangnya.
"Kalau begitu saya permisi dulu...." ucap carlin dengan perasaan tak enak hati. Karena ia tak bisa membantu para pelayan itu, padahal ia hanyalah tamu di rumah ini.
Para pelayan itu mengangguk, seraya tersenyum. Mereka memperhatikan carlin yang mulai melangkah pergi dari meja makan.
"Nona, sangat baik ya.." ucap salah satu pelayan yang memegang kain yang di gunakan untuk mengelap meja.
"Iya, nona memiliki sifat yang ramah. Bahkan dia ingin membantu kita tadi...." sahut yang lainnya yang bertugas mengumpulkan piring piring bekas dan membawanya ke dapur.
"Tuan memang tak salah memilih,...." ucap salah satu pelayan itu di angguki teman-temannya yang lain.
"Ekhem...."
dehem seseorang yang membuat mereka semua menoleh pada sumber suara. Seketika mereka langsung kembali mengerjakan tugasnya masing masing ketika melihat pak rudy yang berdiri tak jauh dari tempat mereka seraya bersedekap dada.
Mereka tidak ingin sampai di pecat karena ketahuan diam-diam mengobrol saat sedang bekerja, apalagi bahan obrolan mereka adalah majikannya sendiri. Pak rudy adalah kepala pelayan di sini, sehingga membuat para pelayan tunduk dan tak berani melawan padanya. Apalagi pak rudy terkenal akan sikap tegasnya.
Carlin mengikuti axel keruang keluarga. Ia mendudukan badannya di sofa single yang tak jauh dari tempat axel duduk.
"Apa kau akan pergi keluar dengan pakaian ini?" tanya axel memperhatikan penampilan carlin yang hanya memakai baju tidur dengan rambut panjangnya yang hanya di ikat asal, sehingga ada beberapa helai rambut yang tergerai.
Seketika carlin langsung menurunkan pandangannya, ia tersenyum canggung lalu berdiri dari duduknya.
"Aku akan mengganti pakaianku dulu...." ucap carlin seraya berlalu pergi dari ruang keluarga dengan berlari kecil meninggalkan axel yang masih menatap kepergiannya dengan senyum tipis di bibirnya. Carlin terlihat sangat lucu dan menggemaskan dengan berlari kecil seperti itu, apalagi di tambah dengan baju tidur bergambar boneka beruang yang di pakai carlin. Benar benar terlihat seperti anak kecil.
__ADS_1
Bersambung......