
"Kadang aku selalu merasa iri melihat sebuah keluarga yang terlihat bahagia, melempar candaan candaan dan di selingi dengan tawa lepasnya seraya duduk di kursi taman hiburan. Dengan di temani permen kapas berukuran besar dan juga ice cream." Ucap carlin dengan menangis sesegukan, ini pertama kalinya ia berani mengungkapkan semua yang selalu mengganggu dan menyelimuti hatinya dengan kesedihan.
Sedangkan dulu ia hanya bisa menangis di dalam kamar mandi, atau di bawah selimut sebelum tidur.
Tak ada yang tahu bahwa dirinya memendam kesedihan sedalam ini,ia hanya berusaha untuk tetap bersikap baik baik saja dan seolah ia memang bahagia.
Nyonya carissa hanya bisa menangis melihat hati putrinya ternyata begitu hancur, ia tak menyangka ternyata semua yang ia lakukan dengan tujuan harta membuat putrinya tenggelam dalam kesedihan.
Ia kira putrinya akan hidup bahagia dengan semua harta dari kerja kerasnya itu, tapi dugaannya salah.
Carlin tak membutuhkan hartanya melainkan kasih sayangnya, ia baru sadar kalau ia sudah terlalu jauh meninggalkan putrinya.
"Aku benci kalian............" teriak carlin, suaranya menggema di ruangan yang megah itu.Seketika waktu bagaikan terhenti, burung burung berhenti di atas langit, angin yang berhembus seolah ikut terdiam, dedaunan tak lagi bergoyang terkena angin, air laut yang semula berombak kini tiba tiba langsung berhenti.
Tuan elang hanya bisa memejamkan matanya, ia merasa hatinya terluka,sakit..... hatinya benar benar sakit mendengar dengan jelas putri satu satunya berteriak mengatakan kata 'benci' padanya, dan itu di sebabkan oleh keegoisan dirinya sendiri.
Carlin berlari menaiki tangga dengan mengusap air matanya secara kasar, perasaan gadis itu benar benar hancur, sedih, kecewa, dan marah bercampur aduk di hatinya.
Nyonya carissa yang berniat mengejar putrinya seketika langsung di cegah oleh tuan elang dengan menggelengkan kepalanya.
"Biarkan dia sendiri,dia pasti butuh waktu untuk sendiri" ucap tuan elang mencegah istrinnya untuk menemui Carlin.
"Tapi- ........."nyonya carisa kembali meneteskan air matanya, ia juga merasakan kesedihan yang di rasakan putri sematang wayangnya itu.
Tuan elang hanya menggeleng sebagai jawaban, lalu ia kembali mendudukan tubuhnya di sofa seraya mengusap wajahnya kasar.
Carlin menutup keras pintu kamarnya, menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan posisi terlentang.
Ia menangis sejadi jadinya, menumpahkan semua kesedihan yang berada di dalam hatinya.
__ADS_1
Ingin rasanya ia bertanya pada tuhan dengan kehidupannya ini, kenapa ia harus hidup tanpa kebahagian dan yang ada hanyalah penderitaan dan kesedihan.
Apakah ini semua memang sudah takdirnya, ia akan hidup seperti ini hingga ia mati nanti. Kalau iya,ia merasa tuhan benar benar tak adil padanya. Ia juga ingin hidup bahagia, sekali... walau sekali saja ia ingin bisa tertawa lepas, merasakan kebahagiaan di hidupnya.
Carlin beranjak dari ranjang, gadis itu berniat untuk pergi dari rumah. Lebih baik ia pergi dari rumah ini, ia tidak ingin selalu terpenjara di dalam sesuatu yang di namakan keluarga.
Keluarga yang tak berarti bagi Carlin, keluarga yang selalu membuat hidupnya tergelam dalam kesedihan dan kesendirian.
Lebih baik ia benar benar hidup sendiri, dari pada merasa sendirian padahal ia masih mempunyai sesuatu yang di namakan keluarga.
Carlin berjalan menuju jendela balkon, di luar terlihat sudah sangat gelap. Ia menoleh pada jam yang terpasang apik di dinding, waktu sudah menunjukan pukul 10 malam.
Ia mengambil beberapa kain selimut yang lumayan tebal didalam lemarinya, mengikat semua sisi kain itu sehingga terbentuk sebuah uraian kain yang panjang.
Ia kembali berjalan menuju balkon, melihat sekitarnya memastikan kondisi aman.
Ia melempar kain itu hingga menjuntai ke tanah, kemudian mengikatkannya pada pagar pembatas balkon.
Ia memerhatikan sekitar, memastikan tidak ada anak buah daddynya yang bertugas menjaga kediaman celestyn.
Carlin berlari menuju halaman belakang, berlari menuju tembok yang mengelilingi rumahnya.
Siapa sangka, ternyata di balik tembok itu ada sebuah jalan rahasia berbentuk persegi berukuran cukup besar, muat untuk carlin masuki dengan cara merangkak.
Ia merangkak keluar hingga ia bisa keluar dari kediaman celestyn, ia menatap jalanan yang tampak sepi.
Tak ada satupun orang, hanya tiang tiang lampu yang menyala.
Tak ada rasa takut di hatinya saat ini, karena tujuannya sekarang adalah pergi dari kediaman celestyn. Walaupun ada setikit perasaan sedih dan berat hati untuk meninggalkan rumahnya, alasannya adalah mommynya, Wanita yang melahirkannya.
__ADS_1
Tapi kekecewaan dan kemarahan telah berkobar di hatinya sehingga membuatnya nekat melakukan hal ini tanpa memikirkan siapapun, walaupun mommynya sekalipun.
Carlin berjalan tanpa tahu arah, ia hanya mengikuti kemana langkahnya pergi. Bahkan dengan bertelanjang kaki, ia berjalan tanpa menggunakan alas kakinya sehingga membuat kaki putihnya kotor dan sedikit tergores karena tadi terkena semak-semak yang tumbuh di samping tembok rumahnya.
Di tengah malam yang sunyi dan gelap, ia berjalan dengan tatapan kosong menatap jalan ber aspal yang ia pijak sekarang.
Jalanan luas itu benar-benar sepi, tak ada satupun kendaraan yang melintas. Memang karena ini sudahlah larut malam, tidak akan ada orang yang pergi keluar kecuali ada keperluan.
Tapi tunggu?
Ia merasa ada seseorang yang mengikutinya, ia pun langsung menoleh kebelakang. Tapi anehnya ia tak melihat seorang pun, ia mengedarkan pandangannya menelusuri bangunan bangunan rumah mewah di kawasan elit itu.
Merasa perasaannya mulai tidak enak, ia langsung berbalik badan dan berjalan dengan langkah lebar.
Ia takut ada orang jahat yang tengah mengikutinya, apalagi ini sudah malam dan juga sepi.
Jika ia meminta tolong, mungkin orang orang tidak akan mendengar suaranya.
"Ya tuhan......tolong lindungi aku"gumam carlin seraya menoleh kebelakang.
Dan benar saja dugaannya, ada seseorang berpakaian serba hitam yang mengikutinya. Orang itu menutup kepalanya menggunakan topi, dan memasukan tangannya ke dalam saku jaket yang dia kenakan.
Carlin semakin mempercepat langkahnya, ia sekarang benar benar merasa takut. Bagaimana jika orang itu melakukan hal jahat padanya, ia benar benar tidak bisa membayangkannya.
Orang misterius itu pun juga mempercepat langkahnya mengejar Carlin, sepertinya orang itu memang mengikuti Carlin.
"Tolong aku...siapapun tolong aku" ucap lirih carlin, ia berharap semoga ada orang di daerah ini yang kebetulan tengah lewat. Agar orang asing yang mengikutinya tak lagi mengikutinya.
Bayangkan saja jika kita tengah berjalan tengah malam dan tiba tiba ada orang aisng yang mengikuti, bagaimana perasaan kita?, mungkin perasaan takut akan langsung melanda, sama seperti perasaan Carlin sekarang.
__ADS_1
Karena tak memperhatikan jalan, carlin tak mengetahui bahwa di depannya ada sebuah batu berukuran sedang yang membuatnya tersandung dan terjatuh.
Bersambung.....