
Axell membuka pintu kamarnya dengan cara menendangnya,tak memperdulikan pintu itu rusak atau tidak karena ulahnya itu.
Ia berjalan menuju tempat tidur, membaringkan tubuh Carlin dengan perlahan di atas ranjang besarnya.
Memperbaiki posisi bantal yang di gunakan carlin,agar gadis itu merasa nyaman dalam baringnya.
Axell menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantik carlin, ia menatap lekat wajah itu. Wajah yang membuatnya tertarik hingga nekat menculik gadis tak berdosa yang terbaring di atas ranjangnya ini, tanpa memperdulikan sesuatu yang mungkin akan terjadi karena ulahnya itu.
Ia berdiri, lalu berjalan keluar dari kamar. Meninggalkan carlin yang masih terbaring tak sadarkan diri.
Tak berselang lama, ia kembali kedalam kamar di ikuti dua orang pelayan wanita di belakangnya.
"Gantikan pakaiannya......." suruh axell dengan ekspresi datarnya.
"Baik tuan..." jawab kedua pelayan itu serentak.
Axell memilih untuk keluar dari kamar, membiarkan kedua pelayan wanita itu mengerjakan tugasnya.
Ia memasuki sebuah kamar yang berada tepat bersebelahan dengan kamarnya yang kini tengah di tempati oleh carlin.
Ia berjalan memasuki kamar mandi, ingin membersihkan tubuhnya yang sudah terasa gerah. sedari tadi diam di dalam mobil mengawasi kediaman celestyn, membuatnya merasa lelah.
Saat pertemuan pertamanya dengan carlin, entah mengapa ia langsung tertarik pada gadis berambut panjang itu.
Seperti ada magnet yang seolah-olah menariknya pada gadis itu, melihat gadis itu yang sepertinya mempunyai sifat lemah lembut.Meminta maaf padanya, padahal ialah yang bersalah, ia yang tanpa sengaja menabrak carlin karena terlalu tergesa gesa karena sedang di kejar oleh orang suruhan orang tuanya.
Ya.....pria asing yang tanpa sengaja bertabrakan dengan carlin tadi adalah Axell, dan untuk pertama kalinya axell mengucapkan kata 'maaf' pada seseorang.
Kata yang bahkan jarang keluar dari mulutnya, kini terlontar dari mulutnya untuk gadis yang bahkan tidak ia kenal, walaupun dengan suara yang samar.
Setelah selesai dengan ritual mandinya, axell kini telah rapi dengan pakaian santainya. Celana pendek sebatas lutut berwarna hitam di padukan dengan kaos berlengan pendek berwarna putih.
Walaupun hanya memakai pakaian yang terlihat sederhana, namun ketampanannya tak pernah hilang. Malahan ia terlihat semakin tampan apalagi dengan rambut yang masih basah. Sunguh ketampanannya tak bisa di tolak oleh siapapun, parasnya benar-benar bisa menghipnotis para kaum hawa yang melihatnya.
Axell berjalan menuju pintu, menekan handel pintu lalu keluar dari kamar itu dan berjalan menuju kamarnya. Kamar yang tadi ia pakai untuk mandi adalah kamarnya juga, oleh karena itu bisa ada pakaiannya di sana. Hanya saja kamar itu jarang di gunakan, ia lebih sering menempati kamar utama, yaitu kamar yang tengah di tempati oleh carlin sekarang.
__ADS_1
Tok
tok
Axel mengetuk pintu kamarnya. Jika ia langsung masuk begitu saja, takutnya ia malah melihat sesuatu yang semestinya tak boleh ia lihat. Para pelayan yang belum selesai mengganti pakaian carlin misalnya, bisa-bisa ia melihat tubuh gadis itu yang masih setengah polos. Hal itu bukan masalah untuknya, namun ia masih mempunyai perasaan untuk menghormati gadis yang ia bawa pulang itu.
Cklek
pintu kamar di buka oleh salah satu pelayan wanita yang di tugaskan mengganti pakaian carlin.
"Apakah pekerjaan kalian sudah selesai.....?" tanya axell masih berdiri di depan pintu, dengan wajah tanpa ekspresinya.
"Sudah selesai tuan......"jawab pelayan wanita itu, seraya membuka lebar pintu kamar. Mempersilahkan majikannya untuk masuk.
Axell melangkahkan kakinya masuk, ia berjalan menghampiri carlin yang masih terbaring di atas ranjang.
Kini carlin sudah berganti pakaian menjadi baju tidur pendek yang tampak muat di tubuhnya.
"Kalian bisa keluar...." suruh axell tanpa sedikit pun mengalihkan pandangannya dari carlin, ia tak berniat untuk menoleh pada kedua pelayan wanita itu.
Kini hanya ada dirinya dan juga carlin di dalam kamar yang luas ini, ia menarik selimut dan menyelimuti tubuh carlin.
Tiba-tiba carlin terlihat mengerjapkan matanya, sepertinya gadis ini sudah sadarkan diri.
Axell berdiri di samping tempat tidur seraya bersedekap dada, ia memerhatikan carlin yang mulai membuka matanya.
Carlin merasakan kepalanya yang berdenyut, terasa sangat pusing. Bahkan carlin meringis seraya menyentuh kepalanya merasakan pusing yang teramat di kepalanya.
Ia memejamkan matanya erat, berharap dengan melakukan itu rasa pusingnya sedikit mereda.
Ia kembali membuka matanya, hal pertama yang ia lihat adalah langit-langit kamar yang tampak hanya bernuansa serba putih.
Carlin mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru ruangan yang tampak sangat asing baginya, dan ia tahu ruangan ini bukanlah kamarnya.
Pandangannya berhenti ketika menangkap sosok pria yang berdiri di samping ranjang yang kini tengah ia tempati, walaupun pandangannya masih sedikit buram.
__ADS_1
"Kau sudah bangun, baby....?" tanya axell seraya tersenyum menyeringai. Carlin tak menjawab, ia masih bingung dengan semua yang tengah terjadi padanya sekarang ini.
"Dimana aku....?" tanya carlin
"kau berada di tempatku"jawab axel dengan tatapannya yang masih setia tertuju pada gadis di hadapannya.
"Hah....."Carlin baru menyadari bahwa di ruangan ini ada seorang pria yang kini berdiri di samping tempat tidurnya.
"Si-siapa kau......?"tanya carlin terlonjat kaget,bahkan ia langsung duduk dari baringnya dan menarik selimut hingga menutupi lehernya.
"Apakah kau sudah melupakanku,baby....?"tanya axel masih tetap berdiri di tempatnya, melihat reaksi gadis di hadapannya.
"Apa maksudmu? aku tak mengenalmu...."jawab carlin,ia menggenggam erat selimut yang menutupi tubuhnya. Ia merasa was-was sekarang, bagaimana jika pria di hadapannya ini melakukan hal yang tidak-tidak padanya.
"Benarkah?.....apa kau benar-benar tidak mengingatku?" tanya axell lagi. ia masih penasaran,apakah gadis ini benar-benar sudah melupakannya.
Jujur saja, carlin memang tak mengingat pria ini, ia sama sekali tak tahu apa yang di maksud pria di hadapannya ini. Seingatnya ia belum pernah bertemu dengan pria ini.
"Si-siapa kau....?" carlin malah bertanya balik, membuat axel geram di buatnya.
Bisa-bisanya gadis ini sudah melupakannya, padahal mereka baru beberapa jam yang lalu bertemu.
"Sepertinya kau memang telah melupakanku, baby...." ucap axel perlahan mendekat pada carlin, membuat carlin panik melihatnya.
Axel menaikan lututnya keatas ranjang, ia merangkak naik keatas ranjang. Membuat carlin semakin panik, ia bahkan semakin menggenggam erat selimutnya, menenggelamkan tubuhnya di balik selimut.
"Apa yang kau lakukan....kenapa kau mendekat....." tanya carlin menatap takut pada axel yang sama sekali tak menghiraukan perkataannya. Axel tak menjawab pertanyaan dari carlin, ia hanya menyeringai menatap lekat carlin di hadapannya.
"A-apa yang ingin kau lakukan.....diam di sana jangan mendekat" peringat carlin
"Menurut mu....." tanya axel seraya mengangkat salah satu sudut bibirnya dengan pandangan yang masih tertuju pada carlin. Ia semakin merangkak, naik keatas tubuh carlin, mengungkungnya dengan tubuh tegapnya.
Carlin menatap waspada wajah axel,ia semakin mengeratkan genggamannya pada selimut tebal yang ia gunakan.
Bersambung.....
__ADS_1