
Carlin menatap lama ke arah cctv, ia masih menimbang antara percaya atau tidak. Tapi sepertinya kedua pelayan wanita itu berkata jujur, apalagi mereka berani menunjukan cctv padanya. Menandakan bahwa mereka tidaklah berbohong, itu berarti ia tidak perlu repot-repot memeriksanya ya kan?
"Apakah anda ingin memeriksanya langsung, nona..?"tanya pria paruh baya itu, dengan senyum ramah yang tak pernah luntur dari wajahnya.
"Tidak usah,saya percaya pada kalian berdua....." jawab carlin kembali menoleh pada ketiga orang yang masih berdiri di tempatnya.
"Kalian boleh pergi...." ucap pria paruh baya itu kepada kedua orang pelayan wanita itu.
"Saya benar-benar minta maaf, karena telah mengganggu tidur kalian..." ucap carlin merasa tak enak hati karena telah mengganggu tidur kedua pelayan itu hanya karena untuk meluruskan kesalah pahamannya.
"Tak apa, nona.... kami pamit undur diri" jawab kedua pelayan itu seraya membungkukkan badannya lalu melangkah pergi.
"Selamat malam, nona...." ucap pria paruh baya itu seraya membungkukkan badannya lalu kembali ingin menutup pintu, tapi dengan cepat di cegah oleh carlin.
"Eh....tunggu.." ucap carlin memegang handel pintu, membuat pria paruh baya itu tak jadi menutup pintu, ia kembali membuka pintu kamar tuannya dengan lebar.
"Ada apa, nona?" tanya pria paruh baya itu.
"Eum.....apa kah disini tidak ada kamar lain?" tanya carlin seraya melirik axel yang masih anteng duduk bersandar di atas tempat tidur.
Sebelum menjawab, pria paruh baya itu melihat pada axel yang hanya tersenyum tipis.
Seolah mengerti dengan ekspresi yang di perlihatkan tuannya, pria paruh baya itu kembali mengalihkan pandangannya pada gadis yang berdiri di depannya.
"Tidak ada, nona....Semua kamar di mansion ini tidak ada yang kosong." jawab pria parih baya itu
"Memangnya di sini ada berapa kamar?" tanya carlin, ia sekarang tahu bahwa pria gila itu telah membohonginya.
"kurang lebih ada 10 kamar...." jawab pria paruh baya itu dengan enteng, yang sontak membuat carlin membelalakan matanya terkejut.
__ADS_1
Ia sontak langsung menoleh pada axel yang tengah tersenyum menyeringai, ia benar benar merasa telah di bohongi oleh pria gila itu.
"Kau benar-benar pembohong...." ketus carlin melirik sinis pada axel.
"Apa maksudmu...?" tanya axel pura pura tak mengerti.
"Kau bilang, di sini tidak ada kamar lagi. Buktinya di sini ada lebih dari 10 kamar."jawab carlin dengan ketus.
"Aku hanya mengatakan tidak ada lagi kamar yang bisa di tempati," ucap axel dengan santainya, membuat carlin tak bisa lagi berkata-kata.
"Kalau begitu, saya pamit tuan, nona....." ucap pria paruh baya itu,
"Eh, tunggu dulu pak. Apa di sini benar-benar tidak ada kamar kosong yang bisa saya tempati?"tanya carlin, ia masih berharap semoga ia tidak tidur dalam satu ruangan yang sama dengan pria gila itu.
Pria paruh baya itu tersenyum tipis lalu menggeleng, membuat carlin menghela napas kasar.
Cklek
Carlin berdiri menatap axel yang juga tengah menatapnya seraya bersedekap dada, carlin hanya bisa pasrah saja. Tak apa ia tidur di sini, karena hanya untuk malam ini saja kan?. Besok pagi ia akan pergi dari sini, dan tak akan bertemu kembali dengan pria gila di hadapannya ini.
Carlin berjalan menuju sofa, ia mendudukan badannya disana. ia kembali menoleh pada axel yang masih saja memperhatikannya, sedikit membuat carlin risih.
"Apa...." tanya carlin pada axel yang malah mengangkat bahunya sebagai jawaban.
"Kenapa kau terus menatapku, hah...." tanya carlin kesal.
"Tidak ada...." jawab axel singkat lalu membaringkan tubuhnya kembali, tanpa menghiraukan carlin yang tengah mengumpat tanpa suara yang tentunya tertuju padanya.
"Dasar pria gila...." gumam carlin, lalu membaringkan tubuhnya di atas sofa.
__ADS_1
Axel yang masih belum tertidur, hanya tersenyum tipis mendengar carlin yang mengumpat padanya. Ia kembali membuka matanya, melihat ke arah sofa di mana carlin sudah mulai terlelap dalam tidurnya. Hingga akhirnya iapun ikut terlelap.
Pagi hari telah tiba, suasana mansion axel sudah tampak sibuk. Para pelayan berlalu lalang mengerjakan tugasnya masing-masing, seperti beberapa pelayan yang bertugas untuk membuat sarapan untuk majikannya sekarang.
Mereka sedari tadi sudah di sibukkan dengan peralatan dapur, berusaha menyajikan makanan yang semoga nantinya akan membuat tuannya senang, dan tentunya jika itu terjadi mungkin mereka pun akan mendapatkan pujian.
Apalagi pagi ini adalah pagi yang istiwesa bagi mereka, pagi dimana ada seorang gadis yang nantinya akan menjadi majikannya juga. Pagi dimana akan ada seseorang yang mendampingi tuannya sarapan di meja makan, pagi ini sepertinya akan banyak perubahan di mansion megah ini.
Di lantai atas, tepatnya di dalam kamar axel. Carlin sudah duduk anteng di atas sofa tempatnya tidur semalam, ia tengah menonton televisi yang tadi sempat di nyalakan axel untuknya agar ia tidak merasa bosan.
Dan pemilik kamar sendiri, tengah berada di dalam kamar mandi, untuk membersihkan tubuhnya.
Carlin sedang menunggu axel, ia akan meminta axel untuk mencarikannya tempat tinggal. Karena ia sama sekali tidak tahu sekarang ada dimana, ia tidak akan sok berani pergi begitu saja dari sini. Ia tidak ingin menjadi gelandangan,apalagi ia tak membawa sepeserpun uang dari kediaman celestyn.
Cklek
pintu terbuka, sontak saja carlin langsung menoleh ke asal suara. Ia melihat axel yang keluar dengan memakai kemeja putih panjang juga celana berwarna hitam. Terlihat jelas pesona axel yang bertambah, dan carlin pun tak dapat menyangkal hal itu. Ia cukup mengagumi pesona axel ini, ia akui axel memang benar benar tampan.
Axel berjalan mendekat pada carlin, ia berdiri tak jauh dari tempat carlin duduk.
"Kenapa kau masih di sini,kau bilang ingin pergi dari sini..." tanya axel seraya memicingkan salah satu alisnya menatap carlin yang tersenyum kikuk.
"Eum, apa aku boleh meminta bantuanmu...?" tanya carlin tersenyum kikuk seraya mengusap lehernya merasa canggung.
"Apa....?"tanya axel seraya memasang dasi hitamnya.
"Eum,...apakah kau mau membantuku mencarikan tempat tinggal"tanya carlin menatap axel yang masih sibuk memasang dasi di lehernya.
"Oh..." ucap axel singkat, sama sekali tak menoleh pada carlin, ia masih fokus memasang dasinya.
__ADS_1
Carlin merasa serba salah sekarang, arti 'oh' itu apa. kenapa axel hanya menjawab dengan kata singkat itu saja, ingin protes tapi ia tak bisa melakukannya. Karena sekarang yang membutuhkan adalah dirinya, kalau pria di hadapannya menolak untuk membantunya ia benar-benar tak bisa melakukan apapun. Huh.....pria gila ini benar benar sangat menjengkelkan batinnya menatap sengit axel yang tampak acuh saja.
Bersambung.......