
Carlin meringis kesakitan, kakinya terluka akibat terjatuh, sehingga jari kakinya yang terluka berdarah.
Ia menatap takut pada orang asing yang mulai melangkah menghampirinya, ia berusaha berdiri.
Kembali berjalan walaupun tertatih tatih, ia tidak ingin sampai tertangkap oleh orang asing itu.
"Tolong....."Carlin berteriak meminta tolong, karena hanya meminta tolonglah yang bisa ia lakukan sekarang. Apalagi melihat orang asing itu yang semakin berjalan mendekat padanya.
Melihat orang yang ia incar berteriak meminta tolong, orang asing itu berlari mengejar carlin yang berlari tertatih tatih.
Ia tidak mau sampai ada orang yang mendengar teriakan gadis itu, dan rencananya akan gagal.
Carlin kembali terjatuh karena rasa sakit di kakinya, ia mundur perlahan dengan posisi yang sudah terduduk di bawah. Menatap takut pada orang yang semakin berjalan mendekatinya.
"Siapa kau.....jangan mendekat...."teriak Carlin pada orang itu yang tak menghiraukan teriakannya.
Orang itu tetap berjalan mendekat, bahkan carlin mendengar orang itu yang malah terkekeh seolah menertawakan keadaannya sekarang.
"Aku bilang jangan mendekat.....tetap di sana" perintah carlin walaupun dengan perasaan takut yang sudah melanda dirinya.
"Tolong....siapapun tolong aku....tolo- mmmm ...."teriakannya tertahan ketika orang itu membekap mulutnya dengan sebuah kain, carlin berusaha memberontak. Tapi sepersekian detik kemudian tubuhnya mulai melemah dan tak sadarkan diri.
Orang asing itu mengangkat tubuhnya, berbarengan dengan datangnya sebuah mobil yang berhenti tepat di depannya, seseorang turun dari dalam mobil dan membukakan pintu untuk orang yang tengah menggendong carlin itu.
Orang asing itupun masuk kedalam mobil dengan carlin yang berada di pangkuannya.
"Jalan...."suruh orang asing itu, orang yang mengendarai mobil pun dengan patuh mulai melajukan mobilnya.
Pria asing itu menatap lekat wajah carlin yang berada di dalam pangkuannya, menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantik carlin.
Orang asing itu melepaskan masker yang ia kenakan, dan terlihatlah wajah tampannya. Hidung mancung, alis tebal, tatapan mata tajam, bibir tipis, rahang tegas. Sungguh wajah yang membuat para wanita terpesona melihatnya dan tergila gila padanya.
Pria itu membuka topi yang terpasang di kepalanya, melemparnya pada kursi di sampingnya begitu saja.
Menyenderkan tubuhnya, menghembuskan napas panjang dan perlahan memejamkan matanya.
"Anda butuh air minum tuan?...."tanya orang yang tengah mengendarai mobil, melihat pria itu dari kaca spion.
__ADS_1
"Ya....." jawab pria itu membuka matanya lalu menerima botol air mineral yang di berikan pria yang mengendarai mobil.
Pria itu meneguk air dengan satu tangannya, karena tangan kirinya tengah memeluk tubuh carlin yang masih tak sadarkan diri dalam pangkuannya.
Pria itu melempar botol air bekas itu begitu saja pada kursi di sampingnya, ia kembali menurunkan pandangannya menatap gadis cantik dalam pangkuannya.
Menyentuh mata, hidung,pipi, hingga bibir tipis merah muda carlin. Pria itu memerhatikan setiap inci wajah cantik carlin.
"Kau benar benar sangat cantik, baby" gumam pria asing itu seraya tersenyum tipis.
Mobil melaju membelah jalanan, di tengah tengah suasana malam yang gelap.
Hujan turun dengan derasnya, kalau saja carlin tak di bawa oleh pria asing ini mungkin saja sekarang ia pasti akan kehujanan.
Mobil mulai memelankan lajunya ketika tiba di depan sebuah gerbang mansion yang berdiri megah dan mewah.
Gerbang yang menjulang tinggi itu terbuka, lalu si pria yang mengendarai mobil kembali melajukan mobilnya masuk kedalam halaman mansion yang luas.
Pria yang mengendarai mobil keluar dari mobil setelah mengambil sebuah payung, membukakan pintu belakang mobil danĀ pria asing yang mengendong carlinpun keluar dengan di payungi pria tadi.
Saat memasuki pintu utama, beberapa pelayan sudah berbaris rapi menyambut kedatangan tuannya. Walau sempat terkejut karena melihat seorang wanita dalam gendongan majikannya, tapi mereka tidaklah berani untuk mempertanyakan hal itu.
Walaupun tak di pungkiri mereka merasa senang, karena untuk pertama kalinya tuannya itu membawa pulang seorang wanita ke dalam mansionnya. Jika wanita itu adalah wanita yang di sukai majikannya, mereka hanya bisa berharap wanita itu benar benar wanita yang baik.
Tidak seperti wanita wanita ular yang selalu mencoba mendekati tuannya selama ini.
"Gavin....."panggil pria itu menghentikan langkahnya.
"Ya tuan..." jawab pria yang berjalan di belakangnya dengan cepat menjawab, namanya adalah Gavin Roland, asisten pribadi sekaligus sekertaris nya di kantor.
"Kau menginap saja malam ini di sini, diluar hujan sepertinya akan semakin deras, dan lagi ini sudah larut......"suruh pria yang tengah menggendong carlin
"Baik tuan..." jawab gavin dengan patuh.
menutup payung dan memberikannya pada seorang pelayan yang tengah berbaris rapi menyambut kedatangan tuannya itu.
Axelle Stevano Ivander, nama pria asing yang membawa Carlin.
__ADS_1
Siapa yang tak kenal dengan keluarga ivander, keluarga yang paling tersohor di negara A dan bahkan di seluruh dunia.
Axel adalah putra pertama keluarga Ivander, ia mempunyai seorang adik laki-laki yang usianya tak jauh darinya. Usianya kini menginjak 25 tahun, sedangkan adiknya berusia 23 tahun.
Di usia yang masih terbilang muda, ia sudah memimpin perusahaan yang ia dirikan dari hasil kerja kerasnya sendiri, tak ada campur tangan dari perusahaan orang tuanya.
Walaupun nantinya ia yang akan menjadi pewaris dari perusahaan keluarganya itu, tapi ia lebih memilih mendirikan perusahaanya sendiri.
Tidak hanya menjadi seorang pemimpin sebuah perusahaan, ia juga memimpin sebuah Mafia yang terkenal di dunia gelap.
Hanya sedikit yang tahu tentang itu, hanya beberapa orang terpercayanya juga Asisten pribadinya yaitu Gavin Roland yang mengetahui bahwa ia adalah seorang mafia.
Bahkan keluarganya tak mengetahui hal ini, hal ini ia sembunyikan agar keluarganya tak terlibat dan terancam bahaya karena musuh musuhnya.
Axel membawa carlin menaiki tangga menuju lantai atas, para pelayan hanya mampu bertanya tanya pada dirinya sendiri. Siapakah wanita yang di bawa majikannya itu, tanpa berani bertanya langsung pada tuannya.
Gavin masih berdiri di tempatnya sampai tuannya tak terlihat lagi di ujung tangga, ia mengalihkan pandangannya pada seluruh pelayan yang masih diam di tempat dengan rasa penasaran yang meluap luap.
"Ehem........" dehem gavin membuat semua pelayan tersadar kembali dalam lamunan masing masing, mereka sontak langsung menundukkan kepalanya melihat tatapan gavin yang melihat kearah mereka dengan wajah tanpa ekspresinya.
"Kembali pada pekerjaan kalian....."suruh gavin yang membuat para pelayan membungkukkan setengah badannya lalu berlalu pergi dari hadapannya.
Tangan gavin terangkat, ia melonggarkan dasi yang seharian mencekik lehernya.
Ia menghembuskan napas panjang, lalu melangkah pergi menuju sebuah kamar yang berada di lantai bawah, kamar yang biasa ia gunakan ketika tinggal di rumah axel.
Hari ini ia tak disibukkan oleh pekerjaan kantor dan setumpukan berkas yang biasanya selalu menjadi hidangannya sehari hari.
Hari ini tugasnya agak berbeda, bukan membunuh orang atau pun menyiksa seseorang yang berhianat pada tuannya.
Tapi seharian ini ia hanya diam di dalam mobil yang terparkir di depan sebuah mansion mewah, mengawasi dan mengintai seorang penghuni mansion itu.
Yang tak lain adalah Carlin, entah kenapa tiba tiba saja tuannya mengajaknya untuk pergi keluar tadi pagi, Dan ternyata ia di perintahkan untuk mengawasi carlin.
Yang membuatnya keheranan adalah ternyata tuannya ikut turun tangan juga, Sepertinya orang yang tengah di awasi bukan orang biasa, sehingga membuat sang bos mafia turun tangan langsung.
Bersambung.....
__ADS_1