
Akhyar sangat kesal ketika membaca chat dari Andina. Wanita itu memintanya untuk membeli oven. Yang benar saja. Walaupun pekerjaannya tidak terlalu berat di kantor, tetap saja membeli sebuah oven bukan hal yang biasa untuknya. Ia bahkan tak pernah membeli satu pun alat-alat dapur di rumahnya. Panci, kompor, blender. Semua dibeli oleh Bu Nani.
Namun, pada akhirnya, Akhyar tetap membeli oven yang diminta Andina. Untunglah wanita itu mengirim foto oven yang hendak dibeli sehingga Akhyar tak perlu pusing memilih oven dari merek yang mana.
Usai membeli blender, Akhyar pulang ke apartemen. Agar Andina tidak terkejut dengan kehadirannya, Akhyar membunyikan bel.
Andina membukakan pintu beberapa saat kemudian.
“Ini oven yang kamu minta. Aku letakkan di meja dapur.” Akhyar langsung menuju dapur.
“Terima kasih. Aku juga punya sesuatu yang ingin aku tunjukkan padamu.”
Kening Akhyar mengerut. Di meja dapur, ia melihat sebuah kotak kue.
“Apa ini yang ingin kamu tunjukkan,” kata Akhyar meletakkan oven di samping kotak kue itu. Dibukannya kotak kue, ingin segera mengetahui seperti apa isinya.
Betapa terkejutnya ketika melihat kue yang hancur di dalam kotak. Ia menatap Andina, tidak percaya wanita itu memberinya kue yang tak layak untuk dimakan.
“Apa maksudmu memberikanku kue ini? Apa aku punya salah?” Akhyar mencoba mengingat apa yang terjadi beberapa terakhir. Seingatnya, ia sudah sangat baik pada Andina. Bahkan, terlalu baik sampai menuruti apa pun yang diminta wanita itu.
Akhyar berkacak pinggang. “Aku berpikir kita mendiskusikan apa pun jika ada masalah. Tapi, kamu malah berbuat seperti ini? Aku sudah menuruti apa yang kamu minta.”
“Itu bukan dariku. Tadi ada seseorang yang mengirimnya.”
“Mengirim kue yang hancur?”
“Iya. Dan, orang itu adalah Sania. Tunggu di sini.” Andina pergi ke kamar sejenak. Ia kembali dengan sebuah tas di tangannya. “Kamu lihat tasku. Ini adalah ulahnya Sania.”
Akhyar mengambil tas yang harganya puluhan juta itu dari tangan Andina. Ia mengecek isinya. Semua barang-barang yang ada di dalamnya dibasahi oleh cairan berwarna hijau.
“Apa ini?”
“Jus alpukat. Tadi, Lani memasan mi ayam. Aku tiba-tiba waktu mencium bau mi ayam itu. Waktu aku ke kamar mandi, aku meletakkan tasku di wastafel, lalu muntah ke kloset. Aku nggak sadar dia menuangkan jus itu ke tasku.”
__ADS_1
“Nggak mungkin Sania melakukan hal itu. Apa kamu punya bukti?” Akhyar menjauhkan tas Andina.
“Ya. Orang yang di kamar mandi itu cuma dia. Nggak ada orang lain lagi. Jadi, sudah pasti dia yang melakukannya. Apalagi, dia punya motif yang kuat untuk melakukannya. Dia marah karena kamu menikah denganku. Kamu ingat waktu di supermarket? Dia sengaja menyenggolku. Sudah pasti dia, ‘kan?”
Akhyar berdecak. “Itu bukan bukti yang kuat. Bisa saja dia memang kebetulan ada di sana. Dia nggak mungkin seniat itu untuk menjailimu.”
Mata Andina menatap tajam, menusuk Akhyar dengan penuh tuntutan. “Kamu jangan meremehkan orang yang sakit hati, Akhyar. Kamu lupa dengan Kak Miko? Orang yang sakit hati bisa melakukan apa pun. Seperti Kak Miko yang tak ragu menerobos pesta resepsi waktu itu.”
Akhyar terdiam. Ia masih ingat dengan kejadian itu. Namun, rasanya sangat berat untuk percaya Sania akan melakukan hal seperti itu. Ia yakin, pasti Sania bisa berpikir lebih rasional daripada Miko.
Akhyar kembali menatap ke dalam kotak. Jika bukan Sania, siapa lagi yang punya motif untuk menuangkan jus alpukat ke dalam tas Andina dan mengirim kue yang hancur?
“Lalu, bagaimana?” ujar Akhyar. “Apa kamu akan melaporkan kejadian ini ke polisi?”
“Nggak mungkin. Pasti polisi nggak akan menanggapinya. Mereka pasti berpikir ini perbuatan orang iseng. Aku membutuhkan bantuanmu sampai skripsi. Kalau aku mau bimbingan skripsi, kamu harus ikut aku ke kampus.”
“Lalu, bagaimana dengan kantor?”
“Ya, kamu tinggalkan saja. Daripada terjadi sesuatu padaku dan pelakunya adalah Sania? Kamu akan lebih menyesal nanti.”
“Aku akan mengantarmu ke kampus kalau kamu mau bimbingan skripsi. Beritahu saja aku. Satu lagi, kalau ada paket atau apa pun. Nggak usah diterima. Minta kurirnya untuk menitipkannya di lobi, biar aku yang mengambilnya nanti. Jangan buka pintu untuk siapa pun.”
Setelah mengatakan itu, Akhyar kemudian pergi ke kamar. Sementara itu, Andina hanya menatap Akhyar. Meski dalam hati, Andina berterima kasih karena Akhyar mau membantunya lagi.
Sebenarnya, Andina benar-benar tak ingin merepotkan Akhyar. Ia ingin mandiri. Namun, jika sudah seperti ini, ia tak boleh egois. Bukan hanya dirinya yang harus ia jaga. Ada calon bayinya yang membutuhkan perlindungan juga.
Di kamar, Akhyar membuka ponsel. Diceknya akun social media milik Sania. Ada beberapa unggahan terbaru sejak terakhir kali ia mengecek akun itu. Semua caption unggahan berisi satu kalimat kesedihan dan terkadang mengisyaratkan amarah.
“Apa kamu sanggup melakukan hal seperti yang dikatakan Andina?” Akhyar bertanya seraya menatap salah satu foto Sania. “Aku benar-benar sulit percaya.”
Satu chat tiba-tiba masuk ke ponsel Akhyar.
‘Aku akan bimbingan skripsi besok. Kita berangkat pukul delapan pagi.’
__ADS_1
Akhyar tidak membalas chat itu. Ia malah meletakkan ponsel di atas nakas, lalu pergi mandi. Ia makan malam, membaca buku beberapa saat, kemudian tidur.
Keesokan harinya, Akhyar bangun pagi dan bersiap-siap. Tepat pukul delapan, ia duduk di ruang tamu, menunggu Andina keluar. Ia sempat mendengar suara Andina muntah-muntah tadi. Jadi, kemungkinan Andina akan telat bersiap ke kampus.
Setelah setengah jam lewat dari waktu yang dikatakan Andina kemarin, wanita itu keluar dari kamar. Akhyar mengambil kunci mobil dan mereka pun berangkat. Tak ada percakapan di antara keduanya. Andina juga sibuk menenangkan perutnya di jok samping pengemudi.
Sesampainya di kampus, Akhyar tetap mengikuti Andina. Sialnya, dosen yang hendak ditemui sedang rapat. Terpaksa Andina dan Akhyar menunggu di depan teras.
“Andina.” Lani berlari sembari melambaikan tangan.
“Lani, kamu bersama Dara lagi?” ujar Andina setelah sahabatnya itu berdiri tepat di depannya.
Lani mengangguk. “Iya. Aku baru sampai. Oh ya, aku lihat mobilmu di tempat parkir. Jadi, aku yakin kamu ada di sini. Ban mobilmu kenapa kempes?”
“Hah? Kempes?”
Andina dan Akhyar saling bertukar tatapan.
“Ban mobil kempes?” tanya Andina.
Akhyar berdiri. “Nggak. Waktu kita turun tadi nggak yang kempes. Biar aku cek dulu, deh.”
“Aku ikut.”
Andina ikut berdiri. Ia lantas mengekor, mengikuti Akhyar ke tempat parkir. Lani juga ikut di sampingnya.
Saat berjalan di koridor, mereka bertemu dengan Sania. Wanita itu mengalihkan pandangan ketika mereka berpapasan. Sania lewat begitu saja seolah mereka tidak saling mengenal.
Di tempat parkir, begitu melihat ban mobil Andina, Akhyar mematung. Ia lantas mengedipkan mata beberapa kali, berharap apa yang dilihatnya tidak nyata. Tidak hanya satu, melainkan keempat ban mobil di depannya benar-benar kempes. Itu berarti ada yang sengaja mengempeskannya.
“Siapa yang melakukan ini?” gumam Akhyar.
“Siapa lagi? Kamu sudah bertemu dengannya tadi,” jawab Andina dengan sinis.
__ADS_1