
“Kamu dari mana?” tanya Andina ketika Akhyar duduk di sampingnya.
“Jangan-jangan pergi ke mana pun tanpa aku temani. Jangan buka pintu apartemen kalau kamu nggak kenal siapa yang datang. Kalau memang ada paket, minta titipkan di resepsionis.”
Andina terdiam mendengar ucapan Akhyar. Dapat ia lihat pria itu benar-benar mengkhawatirkannya.
“Iya. Aku nggak akan pergi ke mana pun tanpa kamu.”
“Bagus. Ban mobil kita rusak lagi. Aku sudah menghubungi bengkel. Mungkin mereka sudah sampai sekarang. Ayo ikut aku ke tempat parkir. Aku nggak mau meninggalkanmu di sini.”
Andina mengedik.
Setelah obrolannya dengan Sania tadi, Akhyar tak mau mengambil risiko. Ia terlalu meremehkan orang-orang yang tampak tak berdaya. Ia lupa kalau ketika terdesak, orang terlemah sekali pun bisa melakukan hal yang di luar dugaan.
“Apa Dara yang melakukan ini? Dia masih mau terus menerorku?”
Akhyar tak menjawab. Ia khawatir Andina lepas kendali jika tahu orang yang merusak ban mobil mereka sekarang adalah Sania. Ia akan menunggu waktu yang lebih tepat. Tidak sekarang, di tengah teror yang baru saja dilancarkan mantan kekasihnya itu.
Butuh waktu yang cukup lama mengganti dua ban mobil. Andina berulang kali berpindah tempat duduk. Yang dijadikannya tempat duduk adalah sepatu Akhyar. Ia sempat menolak, tapi Akhyar bersikukuh.
“Kenapa Dara nggak berhenti juga? Padahal, aku sudah memperingatkannya. Apa dia benar-benar mau aku jebloskan ke penjara?” gerutu Andina ketika ban mobil sudah selesai diganti. Ia masuk ke mobil sembari berdecak kesal.
Akhyar hanya merespons semua ucapan Andina dengan senyuman. Ia tak mau memperburuk suasana.
Sesampainya di apartemen, Andina istirahat di kamarnya. Sementara itu, Akhyar melanjutkan pekerjaannya di ruang tamu. Terkadang, ia memikirkan Sania. Jika Sania melakukan hal nekat lainnya, ia tahu harus bersikap seperti apa. Ia merasa bersalah telah membuat wanita yang begitu baik menjadi pendendam.
Keesokan harinya, sebelum ke kantor Akhyar kembali mengingatkan Andina untuk tidak membukakan pintu jika yang datang tidak dikenal. Andina mengiakan karena ia juga sudah jera dengan bangkai tikus kemarin.
Pukul sepuluh, telepon di apartemen berdering. Andina mengangkat telepon itu karena berpikir tak ada salahnya. Tak ada bahaya dengan mengangkat telepon.
“Halo.” Andina menempelkan gagang telepon ke telinganya.
“Kamu akan mati. Aku akan membunuhmu dan juga bayimu.”
Andina menjatuhkan gagang telepon dan sontak mundur. Jantungnya berdegup kencang.
Bukan suara seorang wanita, tapi seorang pria. Pria itu mengancamnya dengan suara yang menakutkan.
Andina mendekati gagang ponsel yang menggantung. Diambilnya, lalu ditutupnya sambungan telepon.
Saat Andina hendak pergi ke kamar, telepon itu kembali berdering. Langkah Andina menoleh. Ia berusaha membuang pikiran buruk yang memenuhi kepalanya. Sembari dalam hati berharap yang menelepon adalah orang lain, Andina meraih gagang telepon.
__ADS_1
“Kamu akan mati.”
Sontak Andina menjatuhkan gagang telepon telepon kembali. Ia menutup sambungan telepon dengann bibir berkomat-kamit.
“Itu cuma orang iseng,” ujar Andina pada dirinya sendiri.
Namun, tidak sampai satu menit kemudian, telepon berdering lagi. Kali ini, Andina tidak mengangkatnya. Ia malah mencabut kabel telepon sehingga tak bisa dihubungi siapa pun lagi.
Andina menghela napas. Ia kembali ke kamarnya.
Baru saja Andina duduk, bel berbunyi.
“Apa lagi kali ini?” geram Andina dengan gigi bergemeletuk.
Andina mendekat ke pintu. Ia mengecek siapa yang datang lewat door viewer. Ternyata staf resepsionis apartemen. Meski tak tahu siapa nama sang resepsionis, Andina sering melihatnya di lobi.
“Permisi. Ada paket untuk Bu Andina.”
Andina mundur. Daripada terdengar aneh karena menolak paket yang datang, orang yang ada di depan pintunya lebih baik tak tahu dirinya berada di dalam. Kali ini menuruti apa yang diminta Akhyar kemarin. Ia tak akan membuka pintu untuk siapa pun yang tidak dikenalnya secara pasti.
Tidak berapa lama, suara resepsionis itu tak terdengar lagi. Andina duduk di sofa ruang tamu. Ia menatap sekeliling. Meski jalan masuk ke apartemen itu hanya pintu depan, tetap saja ia ketakutan ada seseorang yang muncul tiba-tiba.
Untuk mengusir bosan dan mengalihkan perhatiannya, Andina pergi ke dapur. Ia berniat untuk membuat kue. Ada resep kue yang menarik perhatiannya kemarin.
“Permisi. Ada telepon untuk Bu Andina. Katanya, Bu Andina nggak bisa dihubungi.”
Andina menelan ludah. Ia menebak kalau yang menelepon respsionis apartemen adalah orang yang menghubunginya tadi.
Andina menggeleng. Ia tidak akan tertipu. Setelah apa yang dialaminya, ia akan masuk dalam perangkap apa pun.
Tak peduli dengan resespsionis yang kembali mengetuk pintu, Andina kembali ke dapur. Ia lanjut menyiapkan bahan-bahan membuat kue yang diperlukan.
Ketukan resepsionis di depan pintu akhirnya berhenti. Namun, itu tidak lama. Tidak sampai sepuluh menit kemudian, Andina mendengar keributan di depan pintunya.
Buru-buru Andina mengecek lewat door viewer. Ada lima orang yang berdiri di depan pintu. Kelima orang itu seperti sedang melakukan sesuatu pada pintunya.
“Apa yang mereka lakukan?” gumam Andina, meremas tangannya.
Andina memutuskan untuk membuka pintu hingga salah satu orang yang ada di depan pintu terjungkal.
“Apa yang kalian lakukan?” tanya Andina.
__ADS_1
“Dengan Bu Andina?” Si resepsionis kembali bertanya.
“Iya.”
“Saya tadi memanggil Ibu. Ada yang menelepon ke meja resepsionis. Katanya, ingin berbicara dengan Ibu.”
“Laki-laki?”
Resepsionis itu menggeleng. “Nggak. Perempuan.”
“Perempuan?”
“Iya, Bu. Orangnya sampai nangis-nangis tadi, minta kami mengecek keberadaan Ibu. Takut sesuatu terjadi pada Bu Andina.”
Kening Andina mengerut. Ia menatap peralatan yang ada di lantai. Jika ia tidak membuka pintu, staf apartemen itu pasti sudah merusak pintunya.
“Bisa ikut kami ke bawah, Bu?”
Andina menghela napas. Ia berpikir sejenak. Orang yang meneleponnya tadi dan menakut-nakutinya adalah laki-laki, sementara yang menelepon resepsionis adalah seorang perempuan. Sebenarnya, siapa yang mengganggunya?
Andina mengangguk. Ia mengambil ponsel, lalu ikut ke lobi.
Si resepsionis kemudian menelepon balik orang yang meneleponnya tadi. Begitu diangkat, gagang telepon diberikan pada Andina.
“Halo. Siapa ini?” sapa Andina
“Kamu akan mati. Aku akan membunuhmu dan juga bayi dalam kandunganmu.”
Sontak Andina menutup telepon. Yang berbicara padanya adalah seorang pria. Ia tak bisa terus-menerus seperti ini. Ia tak akan bisa tenang jika seperti ini terus.
Buru-buru Andina menelepon Akhyar.
“Halo, Akhyar.” Suara Andina bergetar. Ia tak bisa menyembunyikan ketakutannya.
“Ada apa, Din? Kamu baik-baik saja, ‘kan? Apa ada yang menerormu lagi?”
“Iya. Ada yang meneleponku. Dia mengancam untuk membunuhku dan juga bayi dalam kandunganku. Aku sudah mencabut kabel telepon, tapi dia terus menelepon resepsionis apartemen. Petugas di sini hampir membuka pintu apartemen dengan paksa karena aku bersembunyi. Aku nggak tahu harus bagaimana? Aku benar-benar takut orang itu menyerangku.” Mata Andina memerah.
“Kamu tunggu di sana. Aku akan pulang. Jangan ke mana-mana. Minta resepsionis, kalau ada yang menelepon abaikan saja. Aku akan segera datang.”
“Kamu cepat datang, Yar. Jangan sampai orang itu masuk ke apartemen dan membunuhku lebih dulu.”
__ADS_1
“Jangan ngomong sembarangan, Din. Aku akan datang secepatnya.”