
“Jawab aku, Dar!” Suara Andina meninggi. Ia tak peduli meja di dekatnya mendengar percakapan mereka.
Tangan Dara mengepal. Jika hari ini persahabatannya dengan Andina akan hancur, tak masalah. Ia sudah tidak tahan lagi bersikap biasa saja setelah apa yang diketahuinya tentang hubungan Andina dan Akhyar.
“Ya, aku memang suka pada Ronald. Kamu ingat? Aku yang pertama kali mengenalnya. Aku yang lebih dulu dekat dengannya. Tapi, malah kamu yang jadian dengan dia? Kamu bisa bayangkan betapa sakitnya jadi aku?” Mata Dara menatap nanar. “Aku menangis. Aku nggak berselera makan. Aku sempat kalau kamu ingat itu. Tapi, aku nggak bisa berbuat apa-apa. Aku memutuskan untuk diam. Karena apa? Karena aku menganggapmu sahabat, Din. Aku nggak mau merusak kebahagianmu."
"Kenapa kamu nggak bilang dari awal? Kalau kamu bilang, aku akan mundur. Aku tahu kamu memang lebih dulu mengenal dan lebih dulu dekat dengan Ronald. Tapi, aku melihat kalian seperti teman biasa. Kalau kamu memang suka, kamu punya banyak kesempatan untuk mengatakannya pada Ronald.”
“Aku nggak sama denganmu, Din. Kita berbeda. Aku nggak seputus asa itu untuk menyatakan perasaanku lebih dulu. Aku bisa seperti kamu.”
Andina memalingkan wajah. Untuk Andina, ia tak peduli dengan siapa yang menyatakan cinta lebih dulu. Daripada kehilangan dan menyesal kemudian, ia lebih memilih untuk mengutarakannya.
“Kalau kamu nggak bisa mengatakannya pada Ronald, kenapa kamu nggak bilang padaku?”
“Sudahlah. Nggak usah dibahas lagi. Itu memang kesalahanku yang lebih memilih untuk menyembunyikan cintaku. Lagi pula, aku sudah mengikhlaskan kamu bersama dengan Ronald. Yang membuatku marah adalah kamu menyia-nyiakan Ronald. Kamu selingkuh dengan Akhyar. Otakmu udah nggak sehat, Din. Kamu selingkuh dengan seorang anak pembantu? Bagaimana bisa kamu membandingkan Ronald dengan seorang anak pembantu?”
Andina menoleh pada Akhyar. Namun, Akhyar seperti tak terusik dengan ucapan Dara yang merendahkan pria itu.
Akhyar berdiri. “Aku pergi mengecek tukang bengkel dulu. Pasti sebentar lagi mereka akan selesai.”
Tanpa menunggu respons dari Andina, Akhyar pergi.
Andina memejamkan mata. Ia tak menduga sahabatnya sendiri yang telah menerornya. Sekarang, ia tak lagi bisa melihat Dara dengan cara yang sama.
“Apa yang coba kamu dapatkan dengan menerorku, Dar? Apa kamu mendapatkan kepuasan? Apa kamu nggak akan berhenti sampai aku keguguran? Begitu? Atau, sampai kapan kamu akan berhenti?”
“Sampai kamu menyadari kesalahanmu. Aku sudah memberitahu Ronald tentang kamu dan Akhyar. Dia pasti akan kembali beberapa hari lagi. Mungkin saat itu aku baru aku akan merasa puas.”
“Kamu mengatakan pada Ronald? Kamu benar-benar keterlaluan, Dar. Kamu mengatakannya tanpa izin dariku. Kamu mencampuri kehidupanku.” Andina berdiri. “Sepertinya, persahabatan kita memang harus berakhir di sini.”
Tidak mau memperpanjang perdebatan itu lagi, Andina pergi. Ia memegang perutnya. Ia bersyukur telah menemukan si peneror. Namun, ia juga menyesal telah membuat persahabatannya yang telah terjalin lama, hancur begitu saja.
__ADS_1
Saat Andina sampai di tempat parkir, tukang bengkel yang mengganti ban mobil sudah selesai. Akhyar sedang melakukan pembayaran.
“Pakai uangku saja,” kata Andina.
“Nggak usah. Pakai uangku saja. Mereka memberi diskon karena mengenalku. Karena itu juga mereka membawa bannya ke sini lebih dulu. Biasanya, mereka nggak akan mau melakukannya tanpa menerima pembayaran.” Akhyar tersenyum pada Andina, lalu berterima kasih pada tukang bengkel tadi.
Akhyar menghela napas. “Kita langsung pulang atau bagaimana? Apa masih ada yang mau kamu lakukan di sini?”
“Nggak ada.” Andina menggeleng. “Ayo kita pulang. Oh, tunggu sebentar.”
“Ada apa?”
Andina memasukkan tangannya ke dalam tas. Dikeluarkannya sapu tangan yang diberikan Akhyar tadi.
“Ini. Terima kasih sudah berakting dengan baik. Maaf kalau sapu tangan ini jadi kotor.” Andina berniat mengembalikan sapu tangan yang menjadi properti akting di depan Dara dan Lani.
“Simpan saja. Aku memberikannya untukmu.”
“Kenapa? Bukannya kamu bilang sapu tangan ini pemberian Bu Nani. Ini pasti sangat berharga untukmu. Sapu tangan ini bahkan seperti nggak pernah dipakai.”
“Kalau begitu, simpan saja.”
“Aku percayakan itu padamu. Jangan sampai Lani melihat sapu tangan itu ada padaku. Dia pasti curiga nanti kalau aku yang menyimpannya. Kamu nggak mau dia tahu kalau pernikahan kita cuma sandiwara, ‘kan?”
Andina berpikir sejenak. Ia kemudian mengangguk.
“Baiklah. Kalau begitu, ayo kita pulang.” Akhyar masuk ke mobil. Ia duduk di balik kemudi. “Bagaimana dengan skripsimu? Apa sudah acc?”
“Belum. Masih ada beberapa lagi yang harus direvisi.”
“Bab berapa?”
__ADS_1
“Bagian pembuka. Harus ditambah lagi.” Andina menyandarkan punggungnya. “Kenapa dia nggak bilang dari awal kalau bab satu masih kurang dari awal. Ini seperti kembali ke titik awal lagi.”
Akhyar tertawa. “Aku sudah baca skripsimu. Kalau kamu mau, aku bisa bantu.”
“Memangnya kau mengerti dengan apa yang aku bahas di skripsiku?”
“Ya, ada buku yang bisa kamu jadikan referensi. Ayo ke perpustakaan sebentar. Aku akan tunjukkan bukunya.”
Akhyar dan Andina turun dari mobil. Mereka ke perpustakaan untuk mencari bahan skripsi. Karena Akhyar terkenal dengan mahasiswa dengan nilai tertinggi di kampus itu, Andina percaya pria itu bisa membantunya.
Saat buku yang ingin ditunjukkan oleh Akhyar mereka temukan dengan cepat. Andina meminjam buku itu ke petugas perpustakaan. Ia mengintip isinya ketika berjalan menuju tempat parkir. Ada beberapa paragraf yang sangat sesuai dengan isi skripsinya.
Di saat asyik membolak-balik halaman yang lain, hampir saja Andina jatuh karena tersandung. Untung Akhyar dengan sigap menangkap tubuhnya. Tangan Akhyar menyentuh dadanya.
“Maaf. Aku nggak sengaja,” ujar Akhyar, panik.
Andina nggak menjawab. Ia mempercepat langkahnya. Ia benar-benar malu. Tidak mungkin ia mengatakan tidak apa-apa sementara ia bisa merasakan telapak tangan pria itu. Dan, tidak mungkin juga ia protes karena ini salahnya yang tak melihat jalan.
Di depan sana, Andina melihat Dara berjalan ke arahnya. Ia berpikir Dara hendak ke perpustakaan karena wanita itu juga sedang mengerjakan skripsi. Namun, ternyata ia salah. Dara berhenti di depannya. Bukan hanya itu. Dara melayangkan satu tamparan yang mendarat di pipi Andina.
Buku di tangan Andina terjatuh. Ia terhuyung-huyung karena tamparan Dara yang sangat keras.
Akhyar dengan cepat meraih lengan Andina. Ia berdiri di depan wanita itu.
“Minggir, Akhyar. Aku nggak ada urusan denganmu,” ujar Dara.
“Ada apa? Kenapa kamu menampar Andina? Kalau kamu marah karena pernikahan kami, itu masalahmu, bukan dia.” Akhyar maju satu langkah.
Dara menggigit bibir bawahnya. “Aku sempat merasa bersalah karena meneror kamu, Din. Tapi, sekarang, nggak. Kamu nggak pantas dikasihani.”
“Apa maksudmu?”
__ADS_1
“Kamu yang mengempeskan ban mobilku, ‘kan? Kamu sengaja mengempeskan ban mobilku untuk membalas apa yang aku lakukan. Selanjutnya, apa? Kamu juga menuangkan jus alpukat ke tasku?” Dara melempar tasnya ke depan Andina. “Kamu juga mau melemparkan cairan merah padaku? Lakukan!”
Akhyar menoleh pada Andina. Wanita itu sejak tadi bersamanya. Tidak mungkin Andina mengempeskan ban mobil Dara. Jika bukan Andina, lantas siapa?