
Akhyar tak ingin Andina dekat dengan Sania. Meski hubungannya dengan Sania sudah jelas berakhir, tapi ia tak bisa memastikan apa yang dilakukan wanita itu. Ia tak ingin memprovokasi Sania dengan meminta Andina menemui wanita yang ia pikir pasti sedang marah-marah di toilet.
Akhyar menghela napas. Ia tak ingin menutupinya lagi. Siapa tahu, dengan menceritakan semuanya pada Reza, pria di depannya sekarang bisa memastikan Sania tidak berbuat yang aneh-aneh lagi.
“Aku nggak tahu kalau Sania sudah punya pacar,” ujar Akhyar, memulai ceritanya. “Dia selalu mengatakan padaku kalau dia jomblo.”
Kedua alis Reza mengerut. Ia menduga cerita yang dituturkan Akhyar ini akan berakhir dengan kemarahannya.
“Dia memintaku menjadi pacarnya waktu semester tiga. Karena nggak ada alasan untukku menolak, aku pun menerimanya walaupun aku sendiri ragu dengan perasaanku. Aku cuma nggak tega untuk menolaknya.” Akhyar membaca eskpresi Reza. Jika kemarahan pria itu tampak tak bisa ditahan lagi, ia akan menghentikan ceritanya dan membawa Andina pergi. Untungnya, Akhyar hanya melihat raut penasaran di sana.
“Dari yang kamu katakan tadi, aku menyimpulkan Sania berbohong. Dia selingkuh denganku, tanpa aku sadari,” lanjut Akhyar. “Dan, kami baru putus beberapa waktu yang lalu.”
“Kenapa kalian putus?” sela Reza.
“Karena aku akan menikah dengan Andina. Aku nggak bisa jelaskan kenapa aku harus menikahi Andina, tapi ini sendiri adalah keputusan yang nggak bisa aku tolak.”
“Jadi, apa inti ceritamu ini?”
“Beberapa waktu yang lalu, Sania sempat meneror Andina. Dia mengempeskan ban mobil kami, mengirimkan bangkai tikus, dan menelepon untuk mengancam akan membunuh Andina. Jadi, aku minta kamu mengerti kalau Andina nggak bisa dekat-dekat dengan Sania. Dan, aku minta tolong kamu mengawasi Sania.”
Reza menekankan kedua telapak tangannya ke mata. Ia kemudian tertawa. “Dari ceritamu, aku menangkap Sania berpacaran denganmu dan dia nggak terima putus denganmu? Memangnya, kamu siapa? Kamu kerja di mana?”
Ada nada merendahkan di kalimat Reza. Garis keramahan di wajahnya perlahan memudar. Ia tak terima dengan cerita Akhyar yang seakan Sania menganggap Akhyar lebih berharga darinya.
Andina mengetukkan jemarinya ke meja, menarik perhatian Reza. “Akhyar adalah anak pembantu di rumahku.”
Sontak Akhyar menoleh pada Andina. Ia bergeming.
Andina meraih tangan Akhyar yang ada di bawah meja. Ia menggenggam tangan pria itu dengan erat seolah meminta untuk menahan sebentar saja.
__ADS_1
“Ini bukan masalah siapa Akhyar. Jika kalian berdua berdiri di atas panggung dan latar belakang kalian terpampang jelas di layar, pasti lebih banyak wanita yang memilihmu. Kamu punya kelebihan dibandingkan Akhyar. Lalu, kenapa Sania begitu terobsesi dengan Akhyar sampai menerorku? Jangan tanya pada kami. Aku dan Akhyar sendiri nggak tahu.” Andina berbicara sorot mata penuh simpati. Tubuhnya tegak yakin dengan setiap kata yang terucapa dari mulutnya. “Kalau kamu penasaran ada apa dengan Sania, ini saatnya kamu mencari tahu apa yang diinginkannya. Untuk apa dia berselingkuh dengan orang seperti Akhyar yang tak mampu memberinya banyak hal. Kamu harus cari tahu itu sendiri. Apa perlu aku mengajarimu untuk mencari tahu alasan Sania?”
Reza meraih gelas dan meneguk air dengan kasar hingga beberapa tetes air jatuh ke celananya. “Nggak perlu. Aku akan mencari tahunya sendiri.”
Reza menampar meja. Ia lantas berdiri dengan tatapan tajam pada Akhyar.
“Aku nggak berniat untuk menjadi musuhmu. Aku menceritakan ini agar kamu tahu siapa Sania sebenarnya. Aku tahu kamu orang yang baik dan berpendidikan. Kamu pasti tahu keputusan mana yang paling baik untuk semua orang.”
Reza melengos. Ia meninggalkan Akhyar dan Andina.
Setelah Reza pergi, Andina melepas tangan Akhyar. “Aku minta maaf.”
“Nggak apa-apa. Aku mengerti.” Akhyar tersenyum.
Apa yang dikatakan Andina tadi adalah fakta yang tak bisa dibantahnya. Ia tak perlu tersinggung dengan semua itu. Menjadi seorang pembantu tidak menjadikan ibunya manusia rendahan. Ia malah bersyukur. Dengan menjadi seorang pembantu, ibunya berhasil mengantarkannya mendapatkan gelar sarjana. Ibunya berhasil menghidupinya sendirian.
Jadwal film yang akan ditonton oleh Andina dan Akhyar pun tiba. Mereka masuk bioskop tanpa berbicara apa pun lagi.
Aroma parfum Akhyar yang menempel di jaket terasa menenangkan untuk Andina. Sejak awal kehamilannya, Andina tak pernah memakai parfum lagi karena selalu mual setiap mencium parfum. Namun, kali ini berbeda. Aroma citrus yang tak begitu tajam, membuatnya merasa segar dan bersemangat.
Diam-diam Andina melirik Akhyar. Ada sesuatu di bawah telinga Akhyar, berwarna hitam dan kecil. Andina mengeceknya menggunakan jari hingga Akhyar terperanjat.
“Ada apa?” Kedua alis Akhyar naik.
Andina yang sontak menarik tangannya tadi menelan ludah. “Aku pikir apa, ternyata tahi lalat. Sorry,” ucapnya, menahan malu.
Akhyar menggeleng, kemudian kembali menatap ke depan.
Film pun selesai. Akhyar dan Andina keluar dari bioskop. Di tempat parkir, Akhyar mengecek ban mobil. Untungnya, ban mobil masih utuh.
__ADS_1
“Kamu takut Sania merusak ban mobil kita lagi?” Andina tertawa. “Di sini banyak CCTV dan ramai juga. Pasti dia nggak akan berani.”
“Aku cuma jaga-jaga. Kamu ingat apa yang suruh, ‘kan?”
Andina mengangguk. “Iya. Aku ingat.”
Akhyar menyalakan mobil. Ia pun melajukannya perlahan.
Langit telah berubah gelap. Jalanan semakin padat. Kilatan petir tiba-tiba menyala terang di langit.
“Kayaknya bakal hujan,” ucap Andina, menatap ke langit lewat kaca depan. Begitu ia selesai berkomentar, gerimis pun turun.
Tidak berapa lama, gerimis itu berubah hujan lebat. Jalanan semakin macet. Mobil yang dikendarai Akhyar kini melaju layaknya keong.
Akhyar berdecak. Tak ada yang bisa dilakukan. Ia melepas tangannya dari kemudi.
“Seharusnya, kita makan malam dulu tadi.” Akhyar melirik Andina. Sudah setengah jam lebih mereka berada di jalanan, tapi setengah perjalanan ke apartemen belum juga sampai.
“Aku bisa menahan lapar.”
“Kalau kamu aku yakin bisa, tapi bagaimana dengan bayi kamu. Kamu harus lebih perhatian lagi bayi kamu.”
Andina mengusap perutnya sembari melirik Akhyar. Apa jadinya kalau pria yang dinikahinya bukan Akhyar? Apakah perasaannya akan setenang ini? Akhyar, pria yang selama ini tak pernah berbicara banyak padanya, yang selalu dianggapnya rendah, mampu memberikan rasa nyaman dengan perhatian yang begitu besar. Sudut bibir Andina naik. Ia tersenyum dengan wajah menoleh ke samping.
Akhirnya, setelah hampir satu jam, mereka berhasil melewati kemacetan. Akhyar memilih jalan tikus untuk menghindar dari kemacetan lagi. Walaupun jalanan yang mereka tempuh lebih panjang, setidaknya mobil bisa terus melaju.
Perhatian Akhyar teralihkan dengan cahaya lampu mobil yang mengejar mereka. Mobil itu memperkecil jarak dengan kecepatan tinggi. Dengan jalan sempit seperti yang dilalui mereka sekarang, seharusnya mobil yang ada di belakang itu mengerti. Namun, tidak. Mobil itu membunyikan klaksok seakan meminta Akhyar untuk menepi.
“Di mana aku akan menepi? Sudah gila, ya?” ujar Akhyar, melirik ke kanan adalah parit, sementara di kiri dinding pemisah jalan.
__ADS_1
“Sepertinya, mobil itu sengaja mengikuti kita.” Andina menoleh ke belakang. Ia merasa firasat yang tidak enak.