Terpaksa Menikahi Anak Pembantuku

Terpaksa Menikahi Anak Pembantuku
Dari Romance ke Thriller


__ADS_3

Sebelum berangkat, Andina menghubungi Lani, bertanya apakah Dara pergi ke kampus hari atau tidak. Setelah mendapatkan kabar kalau Dara ada di kampus, mereka pun berangkat. Andina meminta Lani untuk tidak memberitahu Dara kalau ia akan kampus.


“Apa kamu yakin kalau Dara yang mengirim paket tadi?” tanya Akhyar ketika mereka memasuki tempat parkir kampus.


“Iya. Aku yakin. Cuma dia dan Lani yang tahu alamat apartemen itu. Nggak ada lagi orang di kampus ini yang tahu. Aku nggak pernah mengajak yang lain ke sana.”


“Mungkin Dara memberitahu orang lain.”


“Aku udah peringatkan dia biar nggak ngasih tahu tentang apartemen. Kalau yang lain tahu, mereka pasti minta ke sana setiap hari buat nongkrong.”


Akhyar mengangguk. Ia memarkirkan mobil perlahan. Sengaja ia mengulur waktu, berharap Dara pulang lebih dulu agar tidak ada keributan. Ia akan memastikan apakah benar Dara yang mengirim paket berisi bangkai tikus tadi di lain waktu.


Sialnya, Dara bersama dengan Lani tepat berjalan ke arah mereka. Andina tersenyum sinis.


“Sampai kapan kamu akan berhenti,” sergah Andina.


Dara yang hendak melewati Andina, berhenti melangkah. Ia menatap malas pada Andina. “Kamu ngomong apa, sih? Kamu mau cari masalah denganku?”


Andina berkacak pinggang. “Kamu yang cari masalah denganku, Dar. Aku sudah peringatkan kamu kemarin, ‘kan? Aku juga udah bilang kalau kamu itu udah ketahuan dengan jelas. Apa kamu nggak mengerti juga. Kenapa kamu masih mengirim paket teror itu? Bangkai tikus? Dari mana kamu mendapatkan benda menjijikkan seperti itu?”


Mata Lani sontak melebar. Ia berpikir kedatangan Andina ke kampus hari ini adalah untuk berbaikan dengan Dara. Ternyata, ia salah besar.


“Kamu mengirim bangkai tikus ke apartemennya Andina, Dar?” tanya Lani pada Dara. Ia menarik lengan Dara agar wanita itu menghadap ke arahnya.


“Nggak. Kamu tahu sendiri kalau aku takut tikus. Udah gila, ya! Membayangkan tikus aja membuat aku merinding.”


“Kamu pikir aku bodoh?” Andina mendengkus. Ia maju satu langkah. “Untuk mengirim paket seperti itu, kamu nggak usah melakukannya dengan tanganmu. Kamu orang berduit, Dar. Kamu tinggal suruh orang lain.”


Tidak mau kalah, Dara maju satu langkah. “Kamu ada bukti kalau aku yang mengirimnya?”

__ADS_1


“Butuh bukti apa lagi? Cuma kamu yang tahu alamat apartemenku. Cuma kamu dan Lani.”


“Kalau begitu, kenapa kamu mencurigaiku? Kenapa kamu nggak mencurigai Lani juga? Dia juga tahu kan alamat apartemenmu.”


“Aku nggak pernah ada masalah dengan Andina. Untuk apa aku mengirimkan paket teror seperti itu. Kamu nggak ingat? Aku yang selalu menenangkan kamu waktu marah-marah terus soal Akhyar. Aku yang mencoba membuat kamu agar berpikir positif tentang Akhyar.” Lani menggeleng. Ia tidak percaya dengan tuduhan Dara yang ditujukan padanya. “Keterlaluan kamu ya, Dar. Kamu benar-benar nggak punya otak. Asal ngomong aja.”


“Jangan bawa-bawa aku dalam masalah kalian berdua!” Tidak peduli dengan masalah antara Andina dan Dara lagi, Lani memacu kakinya. Ia melangkah selebar mungkin ke arah gerbang kampus.


Dara memutar bola matanya. “Puas kamu, Din? Kamu sudah menghancurkan persahabatan kita.”


“Kamu yang memulai ini semua, Dar. Jangan memutarbalikkan fakta. Kamu yang mulai mengirim teror itu padaku. Sejak kamu menuangkan jus alpukat ke tasku, persahabatan kita memang sudah nggak bisa dipertahankan. Aku masih berbaik hati hari ini. Kalau kamu melakukannya sekali lagi, aku nggak akan segan-segan menjebloskanmu ke penjara. Camkan itu!”


“Coba saja!” Dara melewati Andina. Ia menyenggol bahu Andina hingga hampir terjatuh.


Akhyar yang melihat tubuh Andina miring langsung menangkap tubuh wanita itu. “Kita duduk dulu di sana. Tenangkan diri kamu,” tunjuknya ke arah bangku panjang di depan kelas.


Andina menyandarkan punggungnya ke bangku itu. Sekarang, persahabatannya benar-benar tak bisa diselematkan.


Akhyar tersenyum simpul. Ia kasihan melihat wajah Andina yang begitu frustrasi.


Saat sedang menunggu Andina lebih tenang, Sania lewat. Wanita itu melirik ke arah Akhyar. Bertepatan Akhyar menoleh. Mata mereka bertemu. Sudut bibir Sania tersenyum meledek.


Sejenak, Akhyar terdiam. Ia memikirkan sesuatu sembari terus menatap punggung Sania.


“Ada apa?” tanya Andina.


“Kamu tunggu di sini sebentar. Aku mau pastikan sesuatu.”


Akhyar berlari ke tempat parkir. Ia mengecek ban mobil. Dua ban depan baik-baik saja, tapi tidak dengan dua ban yang belakang. Kerusakannya hampir sama dengan yang kemarin.

__ADS_1


“Sania,” geram Akhyar.


Akhyar kembali berlari. Dilewatinya Andina begitu saja. Ia terus berjalan hingga menemukan Sania di depan ruang dosen.


“Kamu yang mengirim paket itu ke apartemennya Andina,” tuding Akhyar tanpa ragu.


Sania yang sedang mengobrol dengan temannya mengangkat wajah. Ia berdiri, lalu pergi ke belakang kampus. Akhyar mengekor.


“Kamu bicara apa? Mengirim paket?” Sania tertawa. “Belum puas kamu menyakiti aku, Yar? Harus bagaimana lagi biar kamu puas? Sampai aku nggak bisa bangkit lagi.”


Akhyar menunduk. Ia memejamkan mata. Ia harus mengabaikan perasaan bersalahnya pada Sania agar bisa berbicara.


“Aku minta maaf. Aku minta maaf karena sudah menyakiti kamu. Tapi, tolong jangan sakiti Andina. Dia nggak punya salah apa pun. Ini murni pilihanku.”


“Memangnya aku melakukan apa padanya?”


“Aku tahu kamu yang mengirim bangkai tikus itu. Aku juga tahu kamu yang merusak ban mobil Andina. Aku tahu kamu pelakukanya. Kenapa harus sampai seperti ini, San? Seharusnya, kamu menikmati liburan di Paris, bukan melakukan hal-hal bodoh seperti ini.”


Tangan Sania mengepal. Matanya memerah. “Kamu langsung menuduhku begitu saja? Kamu yakin aku bisa melakukan hal yang kamu bilang? Sebenarnya, kamu sudah mengenalku atau belum, sih?”


“Karena aku mengenalmu, makanya aku bilang kayak gini.” Akhyar meraih tangan Sania. “Kamu sudahi sampai di sini saja. Nikmati liburan bersama orang tuamu ke Paris.”


“Liburan? Aku nggak akan bisa menikmati liburan dengan suasana hati seperti ini.” Sania mengempaskan tangan Akhyar. “Aku akan menenangkan hatiku dengan caraku sendiri.”


“Dengan apa? Dengan kamu mengirim benda-benda aneh ke apartemen Andina? Hentikan semuanya sebelum terlambat, Dar. Jangan biarkan sakit hati menguasai dirimu.”


Sania tertawa. “Mudah sekali kamu bilang begitu. Aku yang merasakan, bukan kamu. Hatiku yang hancur. Aku nggak butuh kalimat penghiburan apa pun. Hatiku sudah telanjur terluka. Dan, aku akan mengobatinya dengan caraku sendiri.”


“Kamu nggak akan bisa mengobati sakit hatimu, San. Satu-satunya cara untuk mengatasinya adalah dengan membuka lembaran baru.”

__ADS_1


“Membuka lembaran baru? Aku memang sudah mengakhiri cerita tentang kita, Yar. Aku sudah menuliskan kata tamat di sana.” Sania mendekati Akhyar. Ia memeluk pria itu. Didekatkannya bibirnya ke telinga Akhyar. “Aku juga sudah membuka lembaran baru. Aku akan menuliskan cerita yang nggak pernah terpikirkan olehmu. Kalau kemarin genrenya romance, sekarang aku akan membuatnya jadi thriller. Bangkai tikus? Ban kempes? Itu masih awal. Kamu tunggu saja apa yang akan aku lakukan selanjutnya.”


 


__ADS_2