
Teror itu benar-benar berakhir. Sudah beberapa hari berlalu, tak ada paket aneh atau telepon lagi yang datang. Sekarang, Andina bisa menyelesaikan skripsinya dengan tenang.
Andina mengeluarkan kue yang baru saja dipanggangnya. Ia mencium aroma kue itu dalam-dalam. Senyumannya mengembang lebar, melihat resep kue yang ia coba berhasil.
Bel tiba-tiba berbunyi, mengejutkan Andina. Hampir saja kue yang akan diletakkan di meja jatuh ke lantai. Teror yang sempat membuatnya tak tenang kembali muncul di benaknya.
“Aku saja yang membukanya.” Akhyar keluar dari kamar.
Ternyata yang datang adalah Sania. Wanita itu membawa kantong belanjaan di tangan.
“Hai!” seru Sania, masuk begitu saja.
Akhyar yang terkejut tak sempat menghalangi langkah Sania. Wanita itu meletakkan kantong belanjaan di sofa, lalu menghampiri Andina.
“Kamu bisa buat kue?” ujar Sania, mencomot satu cupcake berwarna merah muda. Digigitnya capcake itu hingga tersisa setengah. “Ada yang kurang dari kue ini, Din.”
Sania berjalan ke tong sampah di sudut dapur. Ia melempar sisa cupcake tangannya ke tong sampah. Cupcake yang sempat dikunyahnya juga dimuntahkan ke sana.
Seolah dapur itu adalah dapurnya sendiri, Sania mengambil gelas dan mengisinya dengan air. Ia lantas beralih ke wastafel. Ia berkumur-kumur, membersihkan sisa cupcake di dalam mulutnya seolah tak sudi sedikit remahan cupcake melewati tenggorakannya.
“Kamu perlu belajar lagi, Din,” kata Sania, meletakkan gelas di samping cupcake buatan Andina.
Dengan tanda tanya di kening, Andina menatap Akhyar. Apa maksud dari semua ini? Kenapa Sania datang ke apartemennya dan berlagak seperti tuan rumah?
Akhyar mengedik. Ia juga tak mengerti kenapa Sania tiba-tiba datang. Ia sama sekali tidak mengundang wanita itu.
Sania menyalakan TV. Ia kemudian duduk di sofa sembari mengeluarkan kantong belanjaan yang dibawanya.
“Ada apa kamu ke sini, Din? Oh ya, dari mana kamu tahu alamat apartemen ini?” tanya Akhyar.
Sania tersenyum lebar. Ia meletakkan sebuah kemeja berwarna cokelat di paha Akhyar. Warna kemeja itu senada dengan gaun selutut yang dipakai oleh Sania.
Jawab aku dulu. “Dari mana kamu tahu alamat apartemen ini?”
“Aku tahu karena aku bayar orang untuk mengikutimu.”
Persis seperti dugaan Akhyar.
__ADS_1
“Terus, apa ini? Kenapa tiba-tiba kamu memberikan aku kemeja?”
“Ayo kita nonton lagi. Malam ini ada film bagus yang baru tayang. Aku sudah beli tiketnya.” Dengan senyum bangga, Sania menunjukkan reservasi dua tiket menonton film di aplikasi ponselnya.
“Bukannya minggu lalu kita sudah nonton bareng?”
Sania tertawa. “Kalau minggu lalu kita sudah nonton, masa kita nggak boleh nonton lagi? Pihak bioskop nggak mungkin ngelarang. Bahkan, mereka malah senang kalau kita sering nonton bareng."
Tatapan Akhyar melewati samping kepala Sania, mendarat pada tangan wanita yang sedang menghias cupcake. Andina tampak tidak peduli dengan keberadaan Sania. Andina sibuk dengan kegiatan yang dilakukannya sejak pagi tadi.
“Apa kita nggak bisa menunda nonton bareng minggu depan? Filmnya masih tayang minggu depan, ‘kan? Soalnya, aku masih ada beberapa pekerjaan yang harus segera diselesaikan.” Akhyar memberi alasan. Padahal, di kamar ia hanya main game sejak tadi.
“Pekerjaan apa? Ini malam minggi, Akhyar. Perusahaan mana yang memaksa karyawannya agar tetap bekerja di hari libur seperti ini? Benar-benar nggak punya perasaan.” Sania berkata seperti itu dengan mata melirik pada Andina. Ia juga meninggikan suaranya agar terdengar hingga ke dapur.
Akhyar menggerutu dalam hati. Ia benar-benar malas untuk keluar. Akan tetapi, bagaimana caranya kabur dari situasi sekarang? Jika bersikukuh tidak pergi, ia khawatir Sania marah lalu meneror Andina kembali.
Dengan berat hati, Akhyar mengangguk. “Baiklah. Kita pergi nonton malam ini. Tapi, kita berangkat nanti saja, ya. Ini masih siang, loh. Jadwal filmnya nanti malam, ‘kan?”
“Kita berangkat sekarang. Kita jalan-jalan dulu. Ke taman atau belanja gitu.”
Akhyar kembali mengangguk. “Kalau begitu, aku ganti baju dulu, ya.”
Akhyar tersenyum tipis, lalu buru-buru ke kamar.
Begitu berada di dalam kamar, Akhyar meletakkan kemeja yang dibelikan Sania di atas ranjang. Ia lantas membuka aplikasi chat. Dikirimnya chat pada Andina.
‘Din, tolong bantu aku.’
‘Bantu apa?’
‘Tolong kamu bilang ke Sania kalau Pak Satrio memanggil kita. Aku malas banget keluar.’
‘Itu bukan urusanku. Selesaikan masalahmu sendiri.’
Bola mata Akhyar melebar membaca balasan chat dari Andina. Dengan perasaan dongkol, ia menjawab chat itu kembali.
‘Aku sudah banyak membantumu. Apa kamu sama sekali nggak ada rasa untuk membalas bantuanku sedikit saja.’
__ADS_1
Tidak ada balasan lagi. Akhyar melempar ponselnya ke ranjang. Ia tak punya pilihan lagi. Diambilnya kemeja cokelat pemberian Sania. Ia mengganti pakaian dengan kemeja itu.
Akhyar mematut dirinya di depan cermin. Diusapkannya pomade ke kepala untuk merapikan rambutnya. Ia mengakhiri dengan menyemprotkan parfum. Ia belum mandi hari ini. Jadi, ia membutuhkan parfum menutupi bau badannya.
Akhyar keluar dari kamar. Saat hendak menghampiri Sania di sofa, mendadak Andina meraih tangannya.
“Kamu mau ke mana?” Andina bertanya dengan nada yang ketus.
“Aku mau nonton bersama Sania.”
“Nggak bisa. Papa minta kita ke rumah.”
Akhyar tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Ia berpikir Andina tidak akan membantunya. Ternyata, wanita itu sudah mengambil langkah tanpa berkonfirmasi dengannya.
“Apa?” Sania berdiri di tengah Akhyar dan Andina. “Kenapa Pak Satrio meminta kalian ke rumahnya?”
“Mana aku tahu? Papa nggak bilang apa-apa. Kami cuma disuruh ke rumah. Atau, kamu mau bicara dengan papaku?” Andina menunjukkan layar ponselnya pada Sania.
Akhyar menatap ke layar ponsel. Ingin rasanya ia bertepuk tangan. Timer di ponsel bergerak, menandakan Andina benar-benar mengobrol dengan Pak Satrio tadi.
Sania mendengkus kesal. Ia mendorong tangan Andina, lalu memeluk lengan Akhyar. “Kamu mau aku nonton sendirian?”
“Maaf, San. Aku juga mau nonton sama kamu. Lihat, aku sudah rapi. Tapi, kalau Pak Satrio yang minta, aku nggak bisa nolak. Aku sudah cerita sama kamu, ‘kan? Ini cuma beberapa bulan lagi, kok.”
Wajah Sania mengerut. Ia mengentakkan kaki ke lantai. “Ish, kenapa sih harus sekarang.”
“Lain kali aja kita nontonnya, ya,” bujuk Akhyar. “Filmnya kan masih lama di bioskop.”
“Oke, deh. Sayang banget kamu sudah pakai kemeja dariku. Aku belikan yang baru aja deh nanti.” Sania mengambil tasnya dari sofa. “Kalau begitu, aku pergi dulu. Jangan lupa bilang sama mertua bohonganmu itu nanti, kamu sudah ada jadwal untuk malam minggu depan. Jadi, dia nggak akan merusak rencana kita lagi.”
Akhyar tersenyum tipis.
Sebelum beranjak, Sania melirik Andina. Ia kemudian berjinjit, mengecup pipi Akhyar. “Hadiah dari aku.”
Sania melompat-lompat menuju pintu.
Melihat tingkah Sania, Andina hampir tak bisa menahan tangannya untuk tidak menjambak rambut wanita itu. Kaki Andina tanpa sadar mengikuti Sania ke pintu. Untung Akhyar sigap mencengkeram tangannya.
__ADS_1
“Terima kasih,” ucap Akhyar setelah Sania menutup pintu.
Andina menatap tajam pada Akhyar. Tatapan yang sulit diartikan oleh pria itu.