Terpaksa Menikahi Anak Pembantuku

Terpaksa Menikahi Anak Pembantuku
Terbongkar


__ADS_3

Akhyar dan Andina kembali ke kantin. Mereka duduk di meja yang sama dengan Dara dan Lani. Andina bersikap seolah tak terjadi apa-apa.


Khawatir Andina muntah-muntah lagi, Dara dan Lani hanya memesan jus jeruk. Mereka membahas skripsi masing-masing yang masih belum acc dari dosen pembimbing.


“Dara, tadi kamu lihat Sania meninggalkan kantin, nggak? Soalnya, ada yang menuang cairan merah ke toilet waktu aku di sana,” kata Andina.


Dara mengangguk. “Iya. Aku melihatnya tadi. Kamu juga melihatnya kan, La?”


“Iya. Tadi Sania memang pergi. Tapi, nggak tahu ke mana. Terus balik lagi. Kamu curiga dia yang menyiramkan cairan merah itu? Memangnya cairan merah apa, sih?” Lani mengerutkan kening.


“Aku nggak tahu cairan merah apa itu. Mungkin pewarna makanan. Yang pasti, itu bukan jus.”


“Apa kita perlu cek ke tasnya Sania? Pasti ada sesuatu di tasnya.” Lani memberi saran dengan mata berbinar seolah saran yang diberikannya sangat cemerlang.


“Kamu udah gila, ya? Itu sama aja dengan menyatakan perang terbuka.” Andina tertawa.


“Kenapa kamu nggak minta Akhyar untuk bicara dengannya sekarang juga? Semua ini karena dia, ‘kan? Kalau bukan karena dia, nggak mungkin Sania ganggu kamu. Kamu lihat sendiri. Selama ini, Sania nggak pernah menyinggung kamu.” Dara berbicara dengan nada sinis.


Andina berdecak. “Harus ada bukti biar dia nggak bisa membantah. Kalau cuma ngomong aja, nggak bakal bisa. Dia nggak akan mau ngaku.”


Akhyar mengeluarkan ponsel dari saku. Diletakkannya ponsel itu di meja. Saat menarik tangannya, ia menyenggol jus yang ada di meja hingga tumpah. Jus itu membasahi ponselnya.


Buru-buru Andina mengecek tas untuk mengambil tisu. Namun, ia berdecak kesal. “Dar, kamu punya tisu, nggak?”


Dara menghela napas melihat kecerobohan Akhyar. Ia lantas memberikan beberapa helai tisu.


“Terima kasih,” ucap Akhyar, mengambil tisu dari tangan Dara. Ia mengelap ponselnya yang basah karena jus jeruk. Untung bagian yang basah tidak terlalu banyak.


Usai mengelap ponsel yang basah, Akhyar mengembalikan tisu yang sudah kotor.

__ADS_1


Mata Dara melebar. Mengembalikan tisu yang sudah kotor saja sudah aneh, apalagi dengan tisu yang dikembalikan itu berwarna merah. Seharusnya, warna yang ada tisu oranye, tapi kenapa malah merah? Sebenarnya, apa yang dilap Akhyar di bawah meja tadi?


Akhyar sengaja menyembunyikan tangannya di bawah meja. Ia memang mengelap ponselnya menggunakan tisu yang diberikan oleh Dara. Namun, terakhir ia mengeluarkan tisu yang dipungutnya dari tong sampah, lalu menunjukkannya.


Akhyar dan Andina bisa melihat keterkejutan di wajah Dara. Wanita itu tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya setelah melihat tisu bernoda cairan merah.


Dara tak mengambil tisu yang diulurkan Akhyar. Ia membiarkan pria itu meletakkan tisu yang sudah kotor di tengah meja.


“Apa-apaan ini?” tanya Lani. “Itu kan kotor. Akhyar, buang itu.”


Andina mengabaikan Lani. Ia menatap Dara dengan penuh tanda tanya. “Kenapa, Dar? Aku pikir kamu sahabatku.”


“Sebenarnya, ada apa, sih?” Lani menyadari perubahan suasana yang mendadak. Dan, cara Andina menatap Dara menyiratkan kemarahan. “Kamu ada masalah dengan Dara, Din?”


“Nggak.” Andina menoleh pada Lani sejenak. “Aku nggak ada masalah dengannya. Dia yang punya masalah denganku. Dia menerorku. Dia menuangkan jus alpukat ke dalam tasku. Mengirim kue yang sudah hancur. Mengempeskan ban mobilku. Lalu tadi, dia melempar gelas berisi cairan merah padaku di tolet. Aku nggak mengerti. Apa alasannya melakukan itu? Aku pikir kita sahabat dekat.”


“Apa kamu orang yang meneror Andina, Dar?” tanya Lani. “Bukan kamu, ‘kan? Nggak mungkin kamu melakukan ini.”


Dara terdiam.


“Jawab, Dar. Kalau kamu cuma diam, itu sama saja kamu mengakui kalau kamu yang melakukannya,” tuntut Lani, meraih lengan Dara.


“Kamu percaya dengan apa yang dikatakan Andina? Buktinya apa? Apa karena ucapan Akhyar?” Dara menepis lengan Lani. “Sekarang, dia lebih memihak Akhyar daripada kita? Dia lebih percaya dari ucapan laki-laki sialan ini?”


“Jangan menyudutkan Akhyar, Dar. Aku tahu kamu nggak suka dengan Akhyar, tapi dulu kamu juga nggak sebenci ini padanya.” Andina mengambil tisu yang diletakkan Akhyar tadi. “Akhyar melihat kamu membuang tisu ini ke tong sampah. Ini kamu gunakan untuk mengelap tanganmu setelah melempar cairah merah itu padaku, ‘kan?”


“Oh, ternyata benar. Semua ini karena ucapan Akhyar. Kamu sudah berubah, Din.”


“Satu lagi, nggak ada orang di kampus ini yang tahu alamat apartemenku, selain kalian berdua. Jadi, nggak mungkin Sania yang mengirim kue itu. Kamu yang mengirimnya,” tegas Andina. “La, kamu ingat waktu aku ke toilet dan kalian makan mi ayam di sini, ‘kan? Dan katanya, Dara pergi bersama Dadang. Aku sudah bertemu dengan Dadang tadi. Dia udah nggak mau dekat sama kamu sejak kamu menolaknya, Dar. Dia nggak ngajak kamu ke perpustakaan hari itu. ”

__ADS_1


“Dar, kamu serius meneror Andina?” Lani masih sulit percaya. “Kenapa?”


Lani teringat dengan idenya tadi. Matanya kemudian tertuju pada tas Dara. Diambilnya tas itu, lalu mengecek isinya.


“Apaan sih kamu, La?” Dara berusaha untuk merebut tasnya kembali. Namun, Lani dengan cepat berbalik.


Tangan Lani sungguh sigap mengeluarkan semua isi tas Dara. Ada dompet, alat rias, pisau, obeng, dan sebungkus bubuk minuman.


“Kenapa kamu membawa pisau dan obeng? Kamu mau membunuh orang?” tanya Lani.


“Sialan kamu, La!” Dara berdiri untuk memungut satu per satu barang-barang yang dikeluarkan Lani. Ia memasukkannya ke dalam dengan wajah merah padam.


“Kamu yang sialan, Dar!” Lani meraih tangan Dara. “Kamu meneror Andina. Kamu sadar apa yang kamu lakukan? Kamu membuat Andina takut.”


Dara kembali duduk. Ia sadar tak bisa membantah dengan semua bukti yang ada.


“Andina pantas mendapatkan itu,” ujar Dara dengan mata menatap kosong ke depan.


Napas Andina tertahan mendengar kalimat yang terlontar dari mulut Dara. Kesalahan apa yang diperbuatnya pada Dara hingga pantas mendapatkan itu? Ia tak ingat satu kesalahan pun yang bisa menanamkan dendam yang begitu besar.


“Apa kesalahanku? Katakan, La. Kenapa kamu nggak bilang kalau aku punya salah? Seharusnya, kamu bilang agar aku bisa memperbaikinya.”


“Memperbaikinya?” Dara tertawa dengan nada yang sinis. “Kamu sudah menikah dengan Akhyar, lalu bagaimana bisa kamu memperbaikinya?”


“Hah? Kamu melakukan ini karena aku menikah dengan Akhyar?” Ini adalah alasan yang tidak masuk akal.


“Karena kamu menyakiti Ronald. Kamu menduakan dia setelah cintanya yang begitu besar padamu. Aku berusaha keras memaklumi waktu kamu menikahi Akhyar. Aku mencoba mengerti mungkin jarak yang menjadi penyebab hubungan kalian renggang. Tapi, setelah aku mendengar kamu menduakan Ronal sejak lama, aku nggak bisa menahan diri. Kalau kamu sudah lama bersama dengan Akhyar, lalu kenapa kamu nggak putus dari Ronald? Kamu mempermainkan dia, Andina. Kamu merasa cantik. Kamu merasa hebat hingga merasa pantas mempermainkan laki-laki sebaik Ronald.”


“Kenapa kamu begitu peduli pada Ronald, Dar? Kamu suka pada Ronald?”

__ADS_1


__ADS_2