
Sejak kejadian kemarin, Akhyar selalu meletakkan ponsel di dekatnya. Meski ponsel itu tidak berbunyi, Akhyar tetap mengeceknya. Khawatir ada chat dari Andina.
Hingga siang hari, Akhyar merasa tenang karena ponselnya tak kunjung berdering. Ia bisa bekerja dengan dengan santai. Namun, baru saja ia merasa tak akan ada teror yang datang ke Andina, tiba-tiba ponselnya berdering.
Jantung Akhyar seketika berdegup kencang, mendengar suara Andina yang bergetar ketakutan. Dadanya semakin naik turun begitu mengetahui Andina mendapat ancaman pembunuhan.
Setelah percakapan dengan Andina berakhir, Akhyar bergegas meninggalkan kantor. Ia tidak langsung ke apartemen. Ia malah menuju kampus. Tak ada gunanya ia ke apartemen sekarang. Teror akan terus datang ke Andina keesokan harinya. Ia harus mengakhir teror ini. Dan, satu-satunya cara adalah mengatasi sumber teror.
Akhyar tidak menemukan orang yang dicari di kampus. Akhyar memutuskan untuk menelepon orang itu. Untungnya teleponnya diangkat.
“Sania, kamu di mana? Aku ingin mengatakan sesuatu,” kata Akhyar.
“Aku ada di restoran tempat kamu mengakhiri hubungan kita.”
“Oke. Aku akan ke sana.”
Akhyar berlari ke tempat parkir. Ia memacu motornya menuju restoran tempatnya bekerja dulu.
Sesampainya di restoran itu, beberapa orang mantan rekan kerjanya dulu menghampiri. Namun, Akhyar tak punya waktu meladeni mereka sekarang. Ia punya urusan yang lebih penting.
Akhyar duduk di kursi yang bersebarangan dengan Sania. Wanita itu menyembutnya dengan senyum lebar.
“Mau makan apa? Aku yang traktir,” kata Sania.
“Nggak usah basa-basi, San.” Akhyar memegang dadanya. Jantungnya terasa akan meledak saking buru-burunya. Keringat membasahinya pelipisnya dan badannya. “Hentikan semua ini.”
Sania meletakkan pisau dan garpu di tangannya. Ia lantas meraih gelas. Sembari tersenyum simpul, meneguk lemon tea hingga tersisa setengah gelas.
“Apa yang harus aku hentikan?”
“Aku tahu kamu yang meneror Andina. Aku mohon hentikan ini. Aku ceritakan tentang pernikahan kami.”
Sania tertawa. “Cerita tentang pernikahan kalian? Kenapa aku harus mendengarkan cerita pernikahan kalian berdua? Apa cerita ini sangat romantis?”
“Kamu harus mendengarkan karena pernikahan kami cuma sandiwara. Pernikahan kami bohongan. Ada surat perjanjian di tengah pernikahan kami.”
Seketika Sania membeku. Ia tak berkedip seolah kejujuran Akhyar telah menghentikan waktu.
__ADS_1
“Pernikahan sandiwara?” ucap Sania setelah beberapa saat. Ia mengerjap beberapa kali, memastikan dirinya tidak salah dengar. “Maksud kamu, kalian nggak benar-benar menikah?”
“Kami memang menikah di depan penghulu. Tapi, di belakang itu semua, ada surat pernjanjian yang kami tanda tangani. Pernikahan kami akan berakhir setelah Andina melahirkan.”
Sania mengangkat kedua tangannya agar Akhyar berhenti berbicara. Ia butuh waktu untuk mencerna semua ini. Diteguknya kembali lemon tea hingga tandas.
“Kamu akan bercerai dengan Andina setelah dia melahirkan? Kenapa? Pernikahan kalian nggak direstui orang tua Andina?”
“Bukan? Tapi, karena aku bukan ayah dari bayi itu. Aku dan Andina nggak pernah berhubungan badan.”
“Kalau bukan kamu, itu anaknya siapa?”
“Ronald. Itu anaknya Ronald.”
Sania menggeleng. “Kamu mengatakan ini agar aku nggak meneror Andina, ‘kan? Kamu sengaja berbohong padaku agar aku berhenti mengganggu Andina.”
“Aku berkata jujur. Perusahaan ayahnya sedang ada masalah keuangan. Pak Satrio juga punya utang yang sangat besar karena ditipu sahabatnya sendiri. Orang tua Ronal menawarkan bantuan dengan syarat Andina nggak boleh mengganggu Ronald sampai lulus kuliah. Agar Andina nggak menjadi gunjingan orang-orang, aku terpaksa menikahinya.”
“Syarat macam apa itu? Terus, kenapa harus kamu yang menikahi Andina? Kamu mau bersikap sok pahlawan.”
“Utang budi.” Mata Sania berkaca-kaca. Setelah penderitaannya beberapa hari terakhir, ia menemukan secercah harapan lagi. “Apa benar ini semua? Kamu menikah dengan Andina bukan karena nggak cinta lagi padaku? Tapi, untuk membalas utang budi itu?”
Tanpa ragu, Akhyar mengangguk.
Sania sontak berdiri dari kursinya. Ia menghambur ke pelukan Akhyar.
“Kalau begitu, kita bisa bersama lagi. Aku akan menunggu kamu cerai dengan Andina. Aku akan bersabar menunggumu.”
Akhyar bisa merasakan air mata Sania di lehernya. Namun, ia ragu membalas pelukan itu. Selain karena pengunjung restoran yang menatap mereka sekarang, ada rasa yang di hati Akhyar. Ia tak merasakan apa pun lagi pada Sania. Cinta yang bersusah payah ditumbuhkannya sejak mereka berpacaran, kini tak tersisa sedikit pun.
Akhyar mengunci mulutnya. Ia tak ingin membuat Sania murka lagi. Jika dengan begini Andina tak mendapatkan teror lagi, ia akan melakukannya. Ia akan melakukan sandiwara lain agar Andina bisa menjalani masa kehamilan dengan tenang.
“Kalau begitu, kamu akan berhenti meneror Andina, ‘kan? Karena kalau terjadi sesuatu pada kandungannya, balas budi yang aku lakukan nggak akan ada arti.”
Sania melepas pelukannya. Ia duduk kembali. Dengan senyum lebar ia mengangguk mantap. “Aku nggak akan mengganggu Andina lagi. Aku akan sabar menunggumu.”
“Satu lagi, San. Kamu jangan bilang ini ke siapa-siapa, ya. Aku mohon.”
__ADS_1
“Iya. Aku nggak akan bilang siapa-siapa. Tapi, kamu temani aku nonton malam minggu nanti.”
Meski malas, Akhyar tetap mengangguk. “Aku akan menemanimu menonton film apa pun.”
Senyuman Sania semakin mengembang lebar.
Akhyar kemudian meninggalkan Sania. Ia beralasan masih banyak pekerjaan di kantor. Namun, Akhyar tidak kembali ke kantor. Ia pulang ke apartemen.
Akhyar berusaha secepat mungkin untuk sampai. Ia bahkan menyerobot lift hingga beberapa orang menggerutu.
Sesampainya di depan pintu, ia mengetuk. “Din, ini aku!”
Pintu terbuka. Andina menghambur ke pelukannya. Tangis Andina pecah. Wanita itu menenggelamkan wajah di dadanya.
“Aku benar-benar takut. Orang itu mengancam akan membunuhku. Dia akan membunuhku.”
“Itu nggak akan terjadi. Ayo masuk dulu.”
Akhyar membawa Andina masuk dan mendudukkan wanita itu di sofa. Akhyar terus menepuk-nepuk penggung tangan Andina yang menggenggamnya dengan erat.
“Orang yang meneror kamu bukan Dara, tapi Sania.”
Andina melepas genggamannya. “Nggak mungkin. Sania nggak tahu soal apartemen ini.”
“Dia pasti mencari tahu apartemen ini lewat Dara. Atau dia menyuruh orang mengikutiku. Tapi, kamu tenang saja. Dia nggak akan meneror kamu lagi.”
“Kenapa? Dia meneror aku karena kamu menikah denganku, ‘kan? Kenapa dia tiba-tiba berhenti?”
“Aku sudah menceritakan tentang pernikahan kita padanya.”
“Apa?” Andina berdiri.
Akhyar ikut berdiri. Ia meraih kedua tangan Andina. “Aku nggak punya cara lain. Aku teringat dengan Miko. Aku takut Sania juga melakukan hal nekad ketika aku nggak ada di sampingmu. Aku minta maaf, Din. Aku nggak tahu lagi cara untuk menghentikan semua ini. Hanya cara ini yang terpikirkan olehku.”
Andina terdiam. Matanya berkaca-kaca. Sekarang, Sania sudah tahu rahasianya. Entah siapa lagi nanti yang mengetahuinya. Orang-orang itu akan menertawakannya. Tertawa di atas kesialannya.
__ADS_1