Terpaksa Menikahi Anak Pembantuku

Terpaksa Menikahi Anak Pembantuku
Si Peneror


__ADS_3

Akhyar menatap ban mobil Andina yang kempes. “Aku akan menelepon bengkel. Kamu kembali aja ke fakultas bersama Lani. Aku akan mengurus masalah ini,” ucapnya.


“Bagaimana kamu akan mengurusnya? Dengan memanggil tukang bengkel, apakah itu cukup? Apa kamu akan tetap diam saja sampai Sania benar-benar mencelakaiku?”


Akhyar memejamkan mata. Walaupun mereka bertemu dengan Sania tadi, tapi tak ada yang melihat langsung Sania mengempeskan ban mobil Andina.


“Kembali saja ke fakultas. Aku akan minta bantuan satpam untuk mengecek CCTV.”


Andina mengangguk. “Bagus. Setelah kamu mendapatkan bukti CCTV, kamu harus bicara dengan Sania. Aku mau dia berhenti menggangguku.”


“Iya.”


Andina kemudian kembali ke tempatnya menunggu sebelumnya. Sementara itu, Akhyar menelepon tukang bengkel kenalannya. Usai menelepon, ia bergegas ke pos satpam untuk meminta bantuan mengecek CCTV di tempat parkir itu.


Ada dua kamera di tempat parkir. Sialnya, salah satu kamera rusak. Kamera yang tersisa hanya merekam orang-orang yang keluar dan masuk dari tempat parkir.


Tidak lama setelah Akhyar memarkirkan mobil, tampak mobil Sania memasuki tempat parkir. Namun, bukan hanya Sania yang memasuki tempat parkir itu. Banyak mahasiswa dan dosen yang keluar dan masuk. Dan, yang dibutuhkannya tidak didapatkan. Tidak ada rekaman Sania mengempeskan ban mobil.


Akhyar kembali ke tempat parkir. Ia menunggu tukang bengkel yang ditunggunya. Ia berdecak, bingung harus bagaimana sekarang. Tanpa bukti, ia tidak mungkin berbicara dengan Sania. Itu sama saja melayangkan tuduhan yang pasti akan menyulut kemarahan Sania.


Tidak berapa lama, dua orang pria datang. Masing-masing mereka menjinjing sebuah kotak.


Tukang bengkel itu mengecek kondisi mobil Andina. Mereka menggeleng.


“Keempat bannya harus diganti nih, Mas. Batang katupnya juga rusak soalnya, Mas. Udah parah ini,” kata tukang bengkel berambut keriting.


“Terus, gimana, Mas? Mobilnya diderek?”


“Nggak usah, Mas. Kami saja yang bawa bannya ke sini. Mas, mau ban yang sama persis?”


“Iya. Yang sama saja.”


“Baik, Mas. Akan kami bawa. Nanti transfer saja setelah kasir bengkel totalkan.”


Akhyar mengangguk. Ia lantas bergegas menghampiri Andina karena kedua tukang bengkel tadi harus mengambil ban baru terlebih dahulu.


Saat berjalan di koridor, Akhyar memikirkan cara untuk mengakhiri ini semua. Ia tidak mau kehamilan Andina terancam. Balas budinya akan terasa kurang jika terjadi sesuatu pada kehamilan wanita itu.


Andina tidak ada di bangku depan ruangan dosen. Wanita sedang bimbingan skripsi di dalam. Akhyar duduk bersamaan dengan helaan napas yang begitu berat.

__ADS_1


Diberi waktu lima belas menit berpikir sendirian di sana, Akhyar berhasil menemukan satu cara. Ia berharap cara ini akan menyelesaikan masalah Andina dan Sania.


“Ayo kita ke kantin dulu. Aku lapar,” kata Akhyar.


“Ayo. Lani dan Dara juga di sana menungguku.” Andina berjalan lebih dulu. “Bagaimana dengan mobil.”


“Bannya harus diganti. Jadi, tukang bengkel tadi kembali ke bengkel untuk mengambil ban baru dulu.”


“Lalu, CCTV-nya?”


“Kamera CCTV di tempat parkir rusak. Jadi, kita nggak bisa melihat siapa merusak ban mobilmu."


Andina berdecak. “Jadi, kita masih belum punya bukti kalau Sania yang melakukan ini? Sialan! Dia akan terus menerorku kalau begini.”


“Nggak akan. Kita akan mendapatkan bukti itu. Aku punya rencana.”


Akhyar kemudian menjelaskan rencana yang terpikirkan olehnya. Untungnya, Andina mau bekerja sama meski skeptis dengan ide itu.


Sesampainya di kantin, Akhyar menggandeng tangan Andina. Mereka duduk di meja yang sama dengan Lani dan Dara.


Dara memutar bola matanya. “Sekarang kalian buka-bukaan menunjukkan kemesraan kalian di depan semua orang?”


“Apa salahnya? Kami kan suami istri. Semua orang di kampus ini tahu kami sudah menikah.” Andina melirik Sania yang duduk di meja berseberangan dengan mereka.


Kedua alis Andina terangkat. “Apa?”


Akhyar mengeluarkan sapu tangan dari sakunya. “Ada inisial namaku di sapu tangan ini. Bawa ini ke mana pun kamu pergi. Kamu akan merasa aku selalu ada di sisimu kalau kamu membawa ini.”


Senyuman Akhyar. Cara pria itu menatap dan berbicara tampak begitu tulus. Hampir saja Andina lupa kalau ini semua adalah ide dari Akhyar.


“Terima kasih. Aku akan selalu membawanya ke mana pun aku pergi.” Andina mengambil sapu tangan yang diulurkan Akhyar dengan senyum lebar di bibirnya.


Dibukanya sapu tangan itu. Ada sulaman huruf ‘A’ dengan benang berwarna emas di sana, dikelilingi oleh garis-garis yang membentuk matahari.


“Ibuku yang membuatnya. ‘A’ untuk Akhyar dan juga ‘A’ untuk Andina.”


Lani yang menyukai hal romantis tersenyum lebar. Ia bertepuk dengan adegan di depannya.


“Aku ke kamar mandi sebentar,” kata Andina. “La, tolong pesankan satu gelas teh untukku, ya.”

__ADS_1


“Perlu aku temani?” Akhyar berbasa-basi.


Andina menggeleng. “Nggak usah. Aku bisa sendiri. Cuma mual dikit, kok.”


Andina meninggalkan kantin. Sesekali, ia melirik ke arah Sania. Ia buru-buru ke toilet karena takut semakin terbawa perasaan oleh ide Akhyar.


Ponsel Akhyar berdering. “Oh, ini orang bengkel. Aku angkat dulu.”


Akhyar menjauh dari kantin karena di sana sangat berisik. Seharusnya, ia menyusul Andina ke toilet dan mengawasi dari jauh. Namun, ternyata tukang bengkel sudah kembali ke tempat parkir kampus.


Akhyar lantas mengirimkan chat pada Andina.


‘Kita tunda rencananya.’


Akhyar memasukkan ponsel ke saku, lalu berlari kecil ke tempat parkir. Ia tidak menduga tukang bengkel akan datang secepat ini.


Sementara itu, Andina yang menunggu di kamar mandi masih berdiam diri setelah membaca chat dari Akhyar. Ia menatap sapu tangan yang diberikan pria itu. Bukan sapu tangan baru, tapi tampak seperti tak pernah digunakan.


Di saat Andina belum beranjak, satu gelas cairan berwarna merah jatuh dari dari atas pintu bilik kamar mandi. Untung Andina cepat menghindar sehingga ia tidak terkena cairan itu.


Andina buru-buru  menarik gagang pintu untuk menangkap basah orang yang menerornya. Sialnya, pintu itu tidak bisa dibuka seolah terkunci dari luar.


Andina buru-buru menelepon Akhyar.


Meski sedang menunggu tukang bengkel mengganti ban mobil, Akhyar langsung berlari ke arah kamar mandi wanita. Beberapa meter dari belokan menuju kamar mandi, Akhyar melihat Dara. Wanita itu mengelap tangan menggunakan tisu, lalu membuang tisunya ke tong sampah di samping tiang koridor.


Akhyar memacu kakinya menuju kamar mandi. Ia meminta bantuan seorang mahasiswi agar orang yang ada di dalam tidak terkejut dengan kehadirannya.


Pintu kamar mandi itu benar-benar dikunci dari luar. Tak peduli apa pun, Akhyar langsung menendangnya hingga terbuka. Ia kemudian memapah Andina keluar dari sana.


“Ada yang melempar gelas ke dalam.” Andina menunjuk cairan merah yang memenuhi lantai.


“Kamu nggak lihat orangnya? Tapi, aku yakin dia adalah Sania.”


Andina menggeleng.


“Oke. Nggak apa-apa. Yang penting kamu baik-baik saja.” Akhyar memapah Andina keluar dari sana.


“Tunggu sebentar.” Akhyar berhenti di tong sampah tempat Dara membuang tisu tadi.

__ADS_1


“Ada apa?” Andina bingung melihat Akhyar membuka penutup tong sampah.


“Ini.” Akhyar mengangkat sebuah tisu bernoda merah. “Aku tahu orang melempar cairan merah itu.”


__ADS_2