
Akhyar berusaha tetap berpikir positif. Ia terus melajukan mobil meski di belakang bunyi klakson terus terdengar. Saat jalan yang dilalu melebar, Akhyar menepi. Mobil yang sejak tadi di belakang kemudian lewat.
Melihat mobil itu lewat begitu saja, Akhyar bernapas lega.
“Apa mereka sedang buru-buru?” ucap Andina yang juga sempat khawatir.
“Mungkin saja. Kamu nggak apa-apa, ‘kan?”
Andina tersenyum sembari mengangguk.
Akhyar kembali melajukan mobil. Ada beberapa lobang yang menghalangi. Jarak pandang yang cukup pendek karena hujan deras membuat Akhyar tak bisa menghindari semua lobang itu. Untuk meminimalisir goncangan, ia semakin melambatkan laju mobil.
Tidak berapa lama, jalan keluar dari gang yang mereka masuki sudah terlihat. Ujung gang tampak sangat gelap karena lampu jalan yang rusak.
“Apa itu?” Akhyar menginjak gas. Ia memanjangkan lehernya untuk melihat sosok hitam di tengah jalan. Dari dalam mobil, terlihat seperti tumpukan plastik hitam.
Akhyar berdecak. Ia terpaksa turun untuk menyingkirkan benda yang menghalangi jalan itu. Bajunya seketika basah kuyup begitu menutup pintu mobil. Keningnya mengerut, karena semakin ia mendekat, ia melihat yang ada di depannya seperti manusia.
Benda yang dikira oleh Akhyar adalah tumpukan plastik tiba-tiba berdiri. Ternyata, benda itu benar manusia. Ia dibalut jas hujan berwarna hitam dan berbaring di jalan dengan memeluk lutut sehingga dari jauh terlihat seperti tumpukan plastik.
Akhyar berlari ke mobil. Ia membuka pintu mobil dan berkata, “Pergi dari sini!”
Jantung Andina berdetak kencang. Ia tak mengerti apa yang terjadi. Ia bergeming, melihat Akhyar berhadapan dengan pria yang berjas hitam di depan dengan gerakan seperti orang yang akan berkelahi.
Andina menoleh ke samping ketika mendengar suara jendela mobil diketuk. Matanya melebar, melihat dua orang pria menempelkan wajah ke dalam mobil. Dengan gerakan yang sangat cepat, Andina mengunci semua pintu mobil.
Dada Andina naik turun. Napas tak beraturan. Di tengah hujan deras dan udara yang dingin, keringat jatuh dari pelipisnya. Ia tak tahu apa yang harus dilakukannya. Ketukan di jendela mobil semakin kasar.
Andina menatap Akhyar. Pria itu terus menggerakkan tangan padanya. Di tengah suara hujan, ia mendengar sayup-sayup mendengar suara Akhyar.
“Pergi dari sini! Pergi!”
Andina tak ingin meninggalkan Akhyar. Jika ia pergi, entah apa yang akan terjadi dengan pria itu.
Total ada empat orang yang mencegat mereka. Dua orang mengetuk di jendela sebelah kanan, satu orang di jendela kiri, dan satu orang lagi sedang berkelahi dengan Akhyar.
Sejenak, Andina mempertimbangkan langkah yang ingin diambilnya. Matanya terus tertuju pada Akhyar. Sembari menghindar dari serangan lawan dan sesekali melancarkan serangan, Akhyar tak berhenti meminta untuk segera pergi.
__ADS_1
Dengan berat hati, Andina berpindah tempat duduk. Ia memegang kemudi, lalu menginjak gas. Akhyar dan pria yang berkelahi di depan sontak menghindar melihat Andina tak akan menginjak rem lagi. Untung Andina mengambil keputusan dengan cepat. Jika ia lebih lama berpikir, tiga pria yang menggedor sejak tadi akan mengambil batu untuk memecahkan kaca mobil.
Mobil melaju hingga menembus gang. Ia tak tahu jalan di depannya karena tak pernah lewat di sana. Tak ada mobil atau motor yang melintas. Di hadapannya sekarang hanya lahan kosong yang dipenuhi dengan rumput.
Andina berbelok ke kanan, mencari orang yang bisa dimintai bantuan. Untunglah, tidak sampai lima menit, ia menemukan sebuah warung yang masih buka.
Andina melompat turun dari mobil. Ia menghampiri sepasang suami istri yang menjaga warung itu.
“Mau beli apa, Mbak?” tanya si istri.
“Tolong saya, Bu. Suami saya di keroyok orang.” Suara Andina bergetar. Ia ketakutan ditambah kepalanya yang basah.
“Pak, Mbak ini minta tolong.”
Si suami yang sedang asyik menikmati sebatang rokok perlahan berdiri. “Mau minta tolong apa, Mbak?”
“Suami saya dikeroyok. Di gang sana. Saya akan membayar berapa pun, Pak. Tolong suami saya.” Air mata Andina jatuh. Ia benar-benar khawatir dengan keselamatan Akhyar.
“Sebentar, Mbak.” Si suami memanggil seorang anaknya yang tampak seumuran dengan Andina. Mereka kemudian pergi memanggil warga sekitar.
Jalan yang ditinggalkan Andina tampak sepi. Ia tak melihat lagi empat orang tadi.
Buru-buru Andina turun dari mobil bersama dengan sepuluh orang yang bersamanya. “Akhyar!” panggilnya.
Tak ada sahutan. Suaranya diredam oleh hujan yang masih turun deras.
“Akhyar! Jawab aku!” teriak Andina. Dadanya sesak. Air matanya berlomba dengan hujan. Bibirnya gemetar kedinginan.
Sepuluh orang yang bersama Andina tadi mengecek sekeliling. Seseorang tiba-tiba berteriak, “Di sini!”
Andina berlari. Ia langsung memeluk Akhyar yang tak sadarkan diri di pinggir jalan.
“Bangun, Yar. Jangan buat aku panik!” ujar Andina, menepuk-nepuk wajah Akhyar.
Akhyar tak merespons.
“Kita harus membawa suami Mbak ke rumah sakit,” ujar salah satu warga yang menyingkap bawah kemeja Akhyar. Ada luka tusukan di sana. Air hujan mengaburkan darah sehingga Andina tak melihat luka itu tadi.
__ADS_1
Kepala Andina terasa berat. Saat tangannya menyentuh luka di perut Akhyar, ia jatuh. Semua mendadak gelap dan suara orang-orang di sekelilingnya perlahan tak terdengar lagi.
***
Andina merasa kepalanya berdenyut-denyut. Ia enggan untuk bangun sekarang. Namun, kejadian yang menimpanya terlintas di benaknya. Ia dan Akhyar dicegat empat orang pria tak dikenal. Akhyar menahan keempat pria itu agar ia bisa kabur. Saat ia kembali membawa bantuan, Akhyar tergeletak di pinggir jalan dengan kondisi tak sadarkan.
Sontak Andina membuka mata. Ia duduk, menatap sekeliling.
“Andina, kamu sudah bangun?” Bu Rini menghampiri Andina. “Kamu nggak apa-apa, Sayang?”
“Akhyar di mana, Ma?” tanya Andina.
“Mama panggilkan dokter, ya.” Bu Rini mengusap puncak kepala putrinya itu.
“Dina cuma ingin tahu kondisinya Akhyar, Ma!” Suara Andina meninggi meski tubuhnya terasa lemas. Matanya berkaca-kaca. “Di mana Akhyar?”
“Akhyar baik-baik saja.”
“Aku mau ketemu Akhyar, Ma.”
“Nanti Mama bawa kamu ketemu Akhyar. Sekarang, Mama panggil dokter dulu.” Bu Rini menekan tombol di samping ranjang. Karena tidak sabar, ia keluar untuk memanggil dokter.
Tidak berapa lama, dokter datang bersama seorang suster. Kondisi tubuh Andina dicek, begitu pula dengan kandungannya. Semua baik-baik saja. Tak ada masalah serius. Andina hanya butuh istirahat sekarang.
“Dokter, pasien di kamar nomor tiga mengalami sesak napas.” Seorang staf rumah sakit muncul di pintu.
“Dokter Anto belum datang?”
“Belum, Dok.”
“Saya permisi dulu, Bu. Saya akan melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan menantu Anda.”
Menantu? Mata Andina terbuka lebar. Ia menurunkan kakinya hendak mengejar dokter yang baru saja meninggalkan ruangannya.
“Mau ke mana kamu, Din?”
“Yang sesak napas itu Akhyar kan, Ma? Mama bilang kondisinya baik-baik saja!” Andina melompat turun. Matanya memerah, menahan tangis. Dalam kepalanya muncul semua hal buruk. Ia tak akan memaafkan dirinya sendiri jika sesuatu terjadi pada Akhyar.
__ADS_1