Terpaksa Menikahi Anak Pembantuku

Terpaksa Menikahi Anak Pembantuku
Ketahuan Jalan Berdua


__ADS_3

“Jangan pernah bawa perempuan itu masuk lagi ke sini!” tegas Andina, kembali ke dapur.


Akhyar mengikuti Andina. “Aku minta maaf. “Aku juga sangat terkejut waktu melihat ada di pintu depan tadi.”


“Apa dia memang selalu seperti itu?” Andina menumpukan telapak tangannya ke atas meja. “Dia seperti orang yang nggak punya sopan santun. Dia memakan kue buatanku, menilai jelek, lalu memuntahkan ke tempat sampah. Dia memang seperti itu atau sengaja membuatku kesal?”


Akhyar menggaruk belakang lehernya. Ia belum pernah melihat Sania bersikap menyebalkan selama ini. Wanita itu selalu bersikap manis di depannya.


Melihat ekspresi Akhyar, Andina mengerti. “Oh, dia sengaja membuatku kesal,” ucapnya mengambil kesimpulan.


“Abaikan saja tentang Sania. Nggak usah dipikirkan.” Akhyar menatap kue yang sudah selesai dihias. “Apa aku boleh mencobanya?”


Andina menatap Akhyar dalam diam. Setelah beberapa saat, ia mengangguk. Diangkatnya tangan dari meja, lalu berdiri dengan tangan bersedekap. Ia menunggu reaksi Akhyar setelah mencicipi kue buatannya. Jika memang reaksi Akhyar jauh dari apa yang diharapkan, ia akan membuang kue itu ke tempat sampah seperti yang dilakukan Sania.


Mata Akhyar melebar setelah kue yang dimasukkan ke mulut menyentuh lidahnya. Ia mengangguk-angguk, lalu lanjut memakan sisa kue di tangannya.


“Kamu berbakat!” ujar Akhyar, mengambil satu cupcake lagi.


Tanpa sadar, senyuman Andina mengembang lebar. Hatinya berbunga-bunga melihat ekspresi Akhyar ketika menghabiskan dua cupcake buatannya. Namun, ketika apa yang dilakukan Sania tadi muncul di kepalanya, senyuman itu lenyap dalam sekejap.


“Kamu nggak lagi berakting, ‘kan?” tuding Andina. “Kamu nggak sengaja memuji kue buatanku karena rasa bersalah, ‘kan?”


“Kamu sudah mencoba kue buatanmu ini, belum?” Akhyar balik bertanya. “Coba dulu baru menilai.”


Andina memang belum mencicipi kue buatannya sejak dikeluarkan dari oven. Ia tak ingin terbebani dengan rasa kue itu. Sejak awal, ia membuat kue hanya untuk menghabiskan waktu, untuk mengusir bosan seharian di apartemen. Jadi, ia berniat untuk mencobanya setelah selesai menghias.


Andina menghela napas. Diambilnya satu cupcake berwarna merah muda yang sudah dihias dengan krim dan meses warna-warni. Kepalanya manggut-manggut ketika memakan kue itu.


“Bagaimana? Enak, ‘kan?” Akhyar bertanya setelah Andina menghabiskan satu cupcake.


“Lumayan.”


“Sudah aku bilang. Nggak mungkin aku mengatakan itu cuma karena nggak enak.” Akhyar berjalan ke rak gelas. Diambilnya dua gelas, lalu mengisinya dengan air. Diberikannya salah satu pada Andina.

__ADS_1


“Terima kasih,” ucap Andina.


Dengan perasaan yang lebih tenang, Andina duduk. Sekarang, ia benar-benar yakin kalau apa yang dilakukan Sania tadi hanya untuk membuatnya kesal.


“Benar-benar perempuan menyebalkan!” gerutu Andina.


“Siapa? Sania?” Akhyar duduk berseberangan dengan Andina. Ia mencomot satu cupcake lagi.


“Iya.” Andina meneguk air di gelasnya hingga tandas. “Apa sih yang kamu sukai dari Sania? Kenapa kamu bisa pacaran dengan perempuan seperti itu? Aku yakin kamu pacaran dengan sania bukan karena menginginkan uangnya. Aku tahu kamu bukan orang seperti itu.”


Tawa Akhyar hampir menyembur melihat raut wajah Andina ketika berbicara. Wanita itu seolah sudah sangat mengenalnya. Padahal, mereka belum lama tinggal bersama dan itu pun mereka mengobrol hanya seperlunya saja.


“Dia yang bilang suka padaku lebih dulu. Karena aku nggak ada alasan untuk menolaknya, jadi kami berpacaran.”


“Terus, kamu sendiri, suka nggak sama dia? Apa kamu benar-benar mencintainya?”


Akhyar mengedik. “Aku bukan orang yang peduli dengan cinta. Yang ada di pikiranku sejak awal masuk kuliah adalah cepat mendapatkan sarjana, mencari pekerjaan yang bagus, lalu membahagiakan ibuku. Udah. Itu saja. Masalah cinta? Aku nggak terlalu memikirkannya. Yang penting dia baik padaku dan menghargaiku, itu saja cukup.”


“Ciuman pertama?” Akhyar menatap langit-langit dapur, mencoba mengingat ciuman pertama mereka.


“Jangan bilang kamu nggak ingat.”


Akhyar memutar-mutar gelasnya di atas meja. “Ciuman pertama, sepertinya sebulan setelah kami pacaran. Setelah pulang dari bioskop. Dia tiba-tiba mencium pipiku. ”


“Hah? Sudah? Itu bukan ciuman yang aku maksud. Yang aku maksud itu yang hot, yang panas.” Andina meletakkan kedua tangannya di atas meja. Ia menunggu jawaban dari Akhyar.


Akhyar menggeleng.


“Apa? Kamu nggak pernah berciuman yang panas? Apa selama ini selalu Sania yang mencium pipimu? Kamu nggak pernah berinisiatif untuk memulai lebih dulu?”


Akhyar tersenyum malu. “Kadang dia memberiku isyarat dengan menggerak-gerakkan telunjuknya di pipi. Mau nggak mau aku menciumnya. Kalau nggak, telunjuknya nggak akan turun dari pipi.”


“Astaga, Akhyar. Aku nggak menyangka kamu sesabar itu. Kalau orang lain, pasti mengambil kesempatan yang ada. Aku lihat Sania juga orangnya mauan, bukan tipe orang yang akan menolak.”

__ADS_1


Kali ini, Akhyar tidak bisa menahan tawanya. Ia berdiri, lalu meletakkan gelasnya ke wastafel.


“Nonton, yok,” ujar Akhyar.


Kening Andina mengernyit. “Bukannya tadi kamu malas keluar?”


“Iya, sih. Tapi, kalau dipikir-pikir, bosan juga dari kemarin di kamar mulu. Ayo cari angin di luar.”


“Ayo,” jawab Andina tanpa berpikir panjang. Ia juga bosan di apartemen terus. Mumpung ada yang menemani, tidak salahnya ia menghirup udara luar.


Andina kemudian pergi ke kamar untuk bersiap-siap, sementara Akhyar mencuci gelas yang kotor dan beberapa peralatan dapur lainnya.


Tidak berapa lama, Andina keluar dari kamar. Ia mengenakan gaun longgar selutut berwarna cokelat.


“Kayaknya orang-orang bakal berpikir kalau kita ini pasangan nanti,” kata Akhyar.


Andina menatap gaun yang dikenakannya, lalu menatap kemeja Akhyar. Mulut membulat.


“Sudahlah. Nggak apa-apa. Nggak usah diganti. Aku ambil jaket dulu.” Akhyar pergi ke kamarnya, memastikannya penampilannya masih rapi. Saat menyisir rambutnya kembali, ia baru sadar kenapa dirinya tampak begitu antusias untuk pergi bersama dengan Andina. Padahal, ia sangat malah ketika akan pergi bersama Sania tadi.


“Dasar aneh!” umpat Akhyar pada dirinya sendiri, lalu membuang sisir begitu saja.


Mereka kemudian berangkat. Akhyar menyetir dengan laju yang cukup lambat. Tak ada yang perlu dikejar. Mereka keluar hanya untuk menghabiskan sisa waktu hari ini sebelum kembali bekerja besok.


Sesampainya di bioskop, Akhyar membeli dua buah tiket film romance. Ia tidak suka menonton film dengan genre ini, tapi karena Andina memaksa, mau tidak mau. Masih ada waktu tiga puluh menit sebelum film mulai. Mereka menunggu di salah satu food court.


Baru saja mereka duduk, sebuah tas yang cukup asing mendarat di meja. Sepasang mata menatap dengan amarah.


Akhyar dan Andina saling bertukar tatapan. Raut wajah mereka seperti dua orang remaja yang ketahuan pacaran oleh orang tua masing-masing.


“Apa-apaan ini?” Sania mengguncang lengan Akhyar. “Kamu bilang tadi mau pergi ke rumahnya Pak Satrio? Kenapa kalian malah ada di sini? Kalian sengaja berbohong padaku?”


 

__ADS_1


__ADS_2