Terpaksa Menikahi Anak Pembantuku

Terpaksa Menikahi Anak Pembantuku
Janji Untuk Andina


__ADS_3

Andina maju dengan tanda tanya besar di wajah. Mengempeskan ban mobil Dara? Tak pernah ada pemikiran sepicik itu dalam kepalanya. Walaupun sangat marah dengan apa yang dilakukan Dara karena hampir mencelakai bayi dalam kandungannya dan dirinya sendiri, ia masih dapat mengontrol itu semua.


Namun, Andina tak ingin bersikap lembut. Ia juga tak ingin cengengesan seperti biasa.


“Kalau kamu punya bukti aku yang mengempeskan ban mobilmu, tunjukkan padaku. Jangan cuma asal bicara,” tegas Andina dengan mata yang menusuk begitu tajam. “Kamu lihat aku. Sebelum aku mendapatkan bukti, aku sama sekali nggak melabrak siapa pun atas apa yang terjadi padaku. Jadi, jangan asal bicara cuma karena kamu nggak suka dengan pilihanku.”


Andina meraih pergelangan tangan Akhyar. Ia menyenggol lengan Dara ketika melewati wanita itu.


Setelah sampai di tempat parkir, Andina melepas tangan Akhyar. Ia masuk ke mobil, lalu merebahkan punggungnya. Ia mengarahkan wajah ke jendela dengan mata berkaca-kaca. Ia berusaha agar tidak menangis. Namun, ia tak kuasa. Hatinya terasa remuk menerima tamparan dari salah satu orang yang paling dekat dengannya selama ini.


Akhyar tak mengatakan apa pun. Ia mengerti dengan perasaan Andina. Ia lantas menyalakan mobil dan menginjak gas. Dikemudikannya perlahan.


Akhyar tak tahu sejak kapan Andina berhenti menangis. Yang pasti, Andina sedang tidur ketika mereka sampai di tempat parkir apartemen. Akhyar berpikir sejenak, membiarkan Andina tetap tidur atau membangunkannya. Setelah menimbang beberapa saat, Akhyar memutuskan untuk membangunkan Andina.


Selama mengenal Andina, hanya Dara dan Lani yang pernah dilihat Akhyar bersahabat dekat dengan wanita itu. Andina memang sering pergi bersama dengan teman sekampus yang lain, seperti Monica. Namun, di sana pasti ada Dara dan Lani.


Sembari turun dari mobil, Akhyar memikirkan cara untuk mengalihkan perhatian Andina dari masalah ini. Ia membuka pintu mobil, lalu menepak pelan lengan Andina.


“Din, kita sudah sampai,” ujarnya.


Andina bergeming. Masih dengan mata terpejam.


“Din.” Akhyar menepak lengan Andina lebih kencang lagi.


Andina terkesiap. “Apa?”


“Kita sudah sampai. Ayo turun.”


Andina menatap sekeliling. Ia berdecak, lalu bergegas turun. Di tangannya, ia masih memegang buku yang dipinjam dari perpustakaan tadi.

__ADS_1


“Andina, apa kamu capek?” tanya Akhyar ketika mereka menunggu lift terbuka.


Andina tak menjawab.


Senyuman Akhyar mengembang lebar. “Kamu sudah tidur tadi. Ayo ikut aku. Daripada mendekam di apartemen, lebih baik kita mencari udara segar.”


Andina masih mematung.


“Ayo.” Akhyar meraih tangan Andina. “Nggak baik untuk ibu hamil kalau stres terus.”


Akhyar membukakan pintu mobil untuk Andina. Ia membawa Andina ke taman. Tidak terlalu banyak orang di taman itu.


“Kita duduk di undakan dekat kolam sana aja!” tunjuk Akhyar ke undakan yang seperti tangga.


Akhyar dan Andina duduk sembari menatap air mancur. Akhyar menarik napas panjang. Ia lalu membuangnya dengan keras hingga orang yang ada di sana menoleh.


“Kamu ngapain?” Andina menampar lengan Akhyar. “Malu tahu! Semua orang jadi melihat ke sini.”


“Aku tahu kamu orang yang pintar. Jadi, kamu seharusnya sudah mengerti apa yang harus dilakukan di sana.”


Dengan cepat Akhyar menggeleng. “Ini terlalu sulit. Aku nggak mengerti. Aku merasa serba salah. Apa kamu tahu apa yang terjadi di kantor? Semua orang membicarakanku. Mereka berpikir aku mendapatkan jabatan yang sekarang karena menjadi suamimu.”


“Memang benar, ‘kan?”


“Oh, iya. Memang benar, aku lupa. Maksudku, jabatan itu memang diberikan padaku karena menikah denganmu. Tapi, aku sama sekali nggak berniat punya jabatan itu. Satu lagi, aku baru sadar kalau mereka cuma cemburu. Mereka cemburu aku menjadi manajer dengan cepat daripada mereka yang sudah bekerja bertahun-tahun.”


Andina menoleh pada Akhyar dengan dahi berkerut.


“Hidup ini memang sering nggak adil. Mereka yang bekerja bersusah payah untuk mendapatkan atensi dari Pak Satrio, tapi malah aku yang mendapatkan jabatan yang mereka incar. Lucu, sekaligus miris,” ujar Akhyar seraya tertawa.

__ADS_1


Tiupan angin membuat sedikit serpihan masalah yang dihadapi Andina terbang. Serpihan masalah itu kemudian berbaur dengan air mancur yang jatuh ke kolam dan sebagian lagi jatuh ke rerumputan.


“Aku belum pernah ke sini sebelumnya,” kata Andina, meletakkan tas yang sejak tadi diletakkan di paha.


“Iya. Aku juga baru pertama kali ke sini. Kalau kamu sadar, sejak sampai tadi, kita mengikuti pasangan itu.” Akhyar menunjuk seorang wanita dan pria yang memakai baju berwarna merah. Pasangan kekasih itu duduk tidak jauh dari mereka.


 “Serius?”


“Iya. Banyak tempat yang belum aku kunjungi di kota ini. Sayangnya, aku nggak punya kesempatan untuk bersantai. Aku ingin sekali mengunjungi banyak tempat. Nggak cuma di kota ini, tapi semua tempat yang bagus. Keluar kota atau bahkan keluar negeri. Pasti menyenangkan.”


“Apa kamu akan pergi berlibur sendirian? Kalau sendiri, itu nggak akan menyenangkan. Kamu malah akan kesepian. Setiap mau mengambil foto, harus minta tolong orang lain. Nggak ada yang bisa diajak mengobrol.”


Akhyar melirik langit. “Aku berharap ada seseorang yang bersamaku ketika aku memang punya kesempatan untuk berlibur ke berbagai tempat yang bagus itu.”


“Aku yakin kamu bisa. Kamu terikat bersamaku nggak lebih dari satu tahun. Setelah itu, kamu boleh pergi ke mana pun.”


“Bukan itu maksudku. Aku berbicara seperti ini agar kamu ingat, sendiri bukan hal yang buruk. Kamu bisa melalui apa pun. Banyak hal yang bisa kamu lakukan sendiri walaupun bersama dengan seseorang mungkin lebih menyenangkan. Kamu bisa latihan terlebih dulu. Selagi aku masih di sini. Aku akan membantumu. Mengenai Dara, suatu saat dia pasti mengerti. Ini bukan keinginanmu. Kamu terpaksa melakukan ini. Dan, aku yakin Ronal juga akan paham waktu kamu menjelaskannya nanti.”


Mata Andina berkaca-kaca. Ia menengadah agar air matanya tidak jatuh.


“Aku akan membantumu menjelaskan padanya nanti. Akan aku pastikan dia menerimamu kembali. Aku berjanji.”


Andina tertawa seolah yang dikatakan Akhyar adalah lelucon. “Jangan buat aku berharap. Aku mudah tergantung pada orang lain.”


“Ya, sebenarnya kamu sudah menyusahkanku sejak pernikahan kita. Jadi, apa masalahnya kamu menyusahkanku beberapa bulan lagi?”


“Jadi, kamu senang aku menyusahkanmu? Orang yang aneh.”


Akhyar memiringkan bibirnya. “Sepertinya aku mulai candu dengan semua permintaanmu yang aneh. Martabak di hujan deras, capcai dini hari, entah apa lagi kemarin. Aku sampai lupa.”

__ADS_1


Andina tertawa. “Tunggu saja yang lebih aneh lagi. Kamu sendiri yang bilang sangat menyukai aku repotkan. Jangan tarik kata-katamu itu."


Akhyar mengedik. “Aku selalu menepati ucapanku.”


__ADS_2