
Hari ini, Andina hanya di apartemen. Ia menghubungkan ponselnya ke speaker, lalu memutar musik untuk mengusir sepi. Sembari menikmati beberapa potong kue bolu, Andina mengerjakan skripsinya. Buku yang dipinjam dari perpustakaan kemarin benar-benar sangat membantu, membuatnya semakin bersemangat untuk menyelesaikan skripsinya.
Saat sedang lelah, Andina meregangkan dua tangannya. Ia menatap sapu tangan milik Akhyar yang diletakkan di dekat tumpukan buku.
“Hmm ... ‘A’ untuk Andina, ‘A’ untuk Akhyar.” Andina tersenyum, memikirkan kebetulan namanya dan Akhyar yang sama-sama berawalan huruf ‘A’.
Andina berdiri. Ia meraih gelas, kemudian berjalan ke arah jendela. Ia menikmati segelas air putih di tangannya seolah itu adalah minuman paling nikmat.
Tiba-tiba terdengar bunyi bel. Andine mengernyit. Ia buru-buru mengecek ponsel, berpikir ada pesan dari seseorang. Namun, tak ada notifikasi apa pun.
Andina meletakkan gelas. Ia berjalan pelan menuju pintu. Diintip lewat door viewer siapa yang membunyikan bel. Ia melihat seorang pria berjaket dan mengenakan helm salah satu ojek online.
“Siapa?” Andina tetap bertanya meski sudah tahu orang yang datang.
“Ini ada paket untuk Bu Andina.”
“Dari siapa paketnya?”
“Di sini tertulis nama Akhyar, Bu.”
Andina teringat dengan paket yang dikirim Dara untuk menerornya. Saat itu ada paket tanpa nama pengirim yang datang ke apartemen. Bedanya, sekarang ada nama pengirim yang jelas di paket itu.
Andina membuka pintu dan menerima paket yang ditujukan untuknya. Benar ada nama Akhyar di sana. Selain itu, ada nomor telepon juga.
Untuk memastikan kalau paket itu benar dari Akhyar, Andina menelepon. Sialnya, nomor telepon pria yang dituju sedang tak aktif.
Khawatir paket itu bukan dari Akhyar, Andina meletakkannya di meja. Ia akan menunggu Akhyar untuk membuka paket itu nanti.
Namun, ternyata ia tak sesabar itu. Saat ia kembali mengerjakan skripsinya, keberadaan paket itu merusak konsentrasi Andina.
"Yang ini pasti dari Akhyar,” ucap Andina, meyakinkan dirinya sendiri.
Diambilnya cutter, lalu pergi ke ruang tamu. Ia membuka paket yang sejak tadi mengusiknya.
“Argh!”
Andina berteriak sekuat tenaga. Ia berlari ke kamarnya. Buru-buru ia menelepon Akhyar. Karena nomor telepon Akhyar belum juga aktif, ia beralih menelpon Pak Satrio.
“Halo, Din. Ada apa, Sayang?” Pak Satrio mengangkat teleponnya.
“Pa, Akhyar ada di kantor?”
“Ada. Dia ada di ruangannya.”
“Tolong minta Akhyar pulang, Pa.”
“Ada apa? Kamu nggak kenapa-napa, ‘kan?”
__ADS_1
“Nggak. Aku nggak kenapa-napa, Pa.” Andina berusaha menenangkan dirinya agar suaranya tidak terdengar panik. “Aku cuma butuh bantuan Akhyar. Papa tolong minta dia ke mari, ya. Aku butuh bantuan Akhyar. Nomornya nggak aktif waktu aku telepon.”
“Iya. Kamu tunggu sebentar, ya. Papa akan minta Akhyar pulang.”
“Terima kasih, Pa.”
Andina meletakkan ponselnya setelah percakapan dengan Pak Satrio selesai. Ia menarik napas panjang, lalu membuangnya perlahan. Dimatikannya musik yang sejak tadi menyala. Ia merebahkan tubuhnya di ranjang lantas menutupi seluruh tubuh dengan selimut.
Berselang dua menit, ponsel Andina berdering. Ia bergegas mengambil ponselnya, lalu kembali bersembunyi di balik selimut.
Tertera nama Akhyar di ponsel.
“Halo. Ada apa, Din?”
“Kamu cepat datang. Dara mengirimkan paket teror lagi.”
“Oke. Aku sedang dalam perjalanan. Jangan bukakan pintu untuk siapa pun.”
“Iya.”
Telepon kemudian terputus. Andina menggenggam ponselnya erat. Saat mengingat apa yang ada di dalam kotak, Andina tiba-tiba mual. Namun, ia tak berani keluar. Akhirnya, ia hanya menahan mualnya dengan menutup mulut.
Jarak antara apartemen dan Hotel Teratai Putih tidak bisa dibilang dekat. Butuh waktu setengah jam lebih agar Akhyar sampai.
Andina terus bersembunyi di balik selimut. Tak peduli dengan tubuhnya yang mulai berkeringat karena kepanasan.
“Andina?”
Andina mendengar suara Akhyar di balik pintu kamarnya. Ia memberanikan diri untuk menyingkirkan selimut dan turun dari ranjang. Begitu pintu dibuka, ia langsung memeluk Akhyar.
“Dara mengirim paket teror lagi. Dia menakut-nakuti aku.” Suara Andina terdengar serak.
Akhyar mengusap punggung Andina. “Ada aku di sini. Nggak bakal ada yang terjadi. Kamu aman.”
Akhyar menarik lengan Andina. “Di mana paketnya?”
Andina menunjuk kotak yang ada di meja.
Tanpa rasa takut, Akhyar mengecek apa isi paket itu. Begitu melihat isi paket, Akhyar menutup mulut dan hidungnya. Hampir saja ia muntah.
“Aku akan membuang ini,” ujar Akhyar, buru-buru menutup paket itu lagi, lalu membawanya keluar.
Isi dari paket itu adalah tiga bangkai tikus. Isi perut ketiga bangkai tikus itu keluar. Baunya belum terlalu menyengat karena terlihat masih baru dan kotak yang membungkusnya cukup rapat.
Tidak berapa lama, Akhyar kembali. Ia langsung mencuci tangan.
“Kenapa kamu menerima paket lagi? Bukannya aku sudah bilang, kalau ada paket apa pun, tunggu aku membukanya.” Akhyar mengingatkan.
__ADS_1
“Aku nggak tahu. Ada nama kamu di paket itu. Ada nomor telepon kamu juga. Jadi, aku pikir paket itu beneran dari kamu.” Suara Andina terseret-seret. Matanya berkaca-kaca. “Kamu juga kenapa HP kamu nggak aktif.”
“Oh, tadi aku mengecasnya. Aku sengaja matikan biar cepat penuh.”
Melihat Andina yang akan menangis, Akhyar tak tahan untuk tidak memeluk wanita itu. Ditariknya perlahan tubuh Andina ke dalam pelukannya.
“Sudah. Jangan menangis. Aku minta maaf. Aku nggak marah, kok. Aku cuma khawatir terjadi sesuatu sama kamu. Jangan menangis.”
“Kamu bilang kamu akan selalu ada buat aku. Tapi, HP kamu malah nggak aktif. Dasar pembohong!” Andina memukul dada Akhyar.
Akhyar tertawa. “Aku nggak sengaja. Aku minta maaf. Aku mengaku salah.”
Andina masih bisa menahan air matanya tadi. Namun, ketika Akhyar meminta untuk tidak menangis, air matanya malah jatuh dengan deras. Ia membasahi kemeja putih Akhyar.
“Udah. Jangan menangis lagi. Aku minta maaf. Lain kali, aku nggak akan pernah mematikan HP-ku lagi. Aku janji.”
“Kalau kamu nggak bisa aku telepon lagi, awas kamu!”
“Iya.” Akhyar melepas pelukannya. Ia kemudian mengelap air mata Andina dengan kedua tangan. “Kamu benar-benar seperti anak kecil kalau sedang menangis seperti ini.”
“Kamu ngatain aku?” Bibir Andina manyun.
“Nggak. Aku nggak ngatain, kok. Aku maju.” Akhyar mengangguk. “Iya, aku lagi muji.”
Andina mengelap pipinya yang basah. Ia menengadahkan wajah agar tidak ada lagi air mata yang tumpah.
“Sekarang, kamu temani aku ke kampus,” kata Andina.
“Memangnya revisian kamu sudah kelar?”
“Aku mau melabrak Dara. Kurang ajar dia mengirim begituan ke sini. Apa karena berpikir aku yang mengempeskan bannya kemarin? Dasar perempuan gila! Aku akan menjambaknya nanti.”
Akhyar meraih lengan Andina. “Lihat kondisi kamu. Jangan bertindak sembarangan.”
“Aku nggak bertindak sembarangan. Ada kamu di sampingku. Kamu akan membantuku, ‘kan?”
Akhyar menggaruk bagian belakang kepalanya. Ia khawatir Andina akan membuat keributan di kampus.
“Kamu akan membantuku atau nggak, Akhyar? Kamu baru saja bilang selalu ada untukku, loh.”
“Iya. Aku bantu kamu.”
“Bagus. Tunggu aku bersiap-siap dulu.”
Akhyar menggeleng melihat perubahan sikap Andina yang begitu cepat. Baru beberapa menit yang lalu ia melihat Andina sangat ketakutan. Sekarang, ia malah melihat wanita itu seperti singa yang akan menerkam apa saja.
“Sabar, Akhyar. Sekarang kamu sedang menghadapi ibu hamil.” Akhyar mengusap dadanya sendiri.
__ADS_1