Terpaksa Menikahi Anak Pembantuku

Terpaksa Menikahi Anak Pembantuku
Awal Dari Kerja Sama


__ADS_3

Andina melongo ketika melihat deretan foto pria di ponsel Sania. Ada dua puluh orang lebih. Di antara salah satu foto itu, Andina melihat foto Akhyar.


“Mereka semua adalah milikku. Aku nggak akan memberikannya pada siapa pun. Satu pun di antara mereka, nggak akan aku lepaskan.”


Andina menelan ludah. “Kamu pikir semua laki-laki itu apa? Barang yang bisa dikoleksi?”


Sudut bibir Sania naik. Ia menyimpan ponselnya kembali ke tas. “Kenapa? Kamu iri aku bisa memiliki mereka semua?”


“Kamu benar-benar sinting ya, San. Sebaiknya kamu pergi psikolog, deh. Atau ke psiakiater. Kepalamu sudah nggak beres.”


Sania maju, memperkecil jarak antara dirinya dengan Andina. “Nggak usah komentari apa isi kepalaku. Kalau kamu sayang dengan bayimu yang belum kamu temui, jauhi Akhyar. Dia milikku. Kalau kamu nggak mau mendengarkanku. Kamu sendiri yang akan menyesal, Din. Kamu lihat sendiri apa yang bisa aku lakukan semalam.”


“Kamu nggak mencintai Akhyar, San. Kamu cuma ingin memilikinya untuk melengkapi koleksimu.”


“Ya. Tanpa Akhyar, koleksiku nggak akan lengkap.” Sania mengusap perut Andina. “Jangan lupa apa yang aku katakan kalau kamu masih sayang dengan kandunganmu.”


Andina kembali menelan ludah. Sania benar-benar menakutkan. Jantungnya berdegup kencang, menyadari ia tak akan bisa menang jika berkelahi dengan wanita itu.


Dengan seringaian menakutkan, Sania pergi. Wanita berlenggak-lenggok di koridor layaknya seekor kucing yang baru saja menyantap makanan lezat.


Andina merasa jantungnya melesak. Kakinya lemas. Ia berpegangan ke dinding agar tidak jatuh. Ia kemudian berjalan perlahan ke ruang rawat Akhyar.


“Mbak Andina sebaiknya istirahat saja di kamar. Ibu akan memanggil Mbak Andina kalau Akhyar sudah bangun nanti.”


Andina memanjangkan lehernya, menatap dada Akhyar yang naik turun dengan ritme yang tetap. Ia pun mengangguk. Tak ada gunanya juga ia duduk di sana seharian. Apalagi, ia masih terkejut dengan apa yang dikatakan Sania tadi.


Bu Rini menyusul Andina ke ruang rawat putrinya itu. Ia melempar tubuhnya ke sofa.


“Siapa tadi perempuan itu, Din? Mama lihat, dia seperti nggak suka sama kamu.” Bu Rini bertanya sembari membantu Andina berbaring di ranjang.


“Dia mantan pacarnya Akhyar, Ma.”


“Mantan pacarnya Akhyar? Dia nggak punya niat jahat sama kamu, ‘kan?”


Andina menghela napas. Ia berpikir sejenak apakah seharusnya kejadian semalam perlu diceritakan pada orang tuanya atau tidak.

__ADS_1


“Dia dalang kejadian semalam, Ma.” Andina memutuskan untuk bercerita. Ia membutuhkan bantuan untuk menghindari Sania.


“Astaga.” Bu Rini beralih pada Pak Satrio yang sudah duduk di sofa. “Papa dengar apa yang dikatakan Andina? Mantannya Akhyar adalah dalang kejadian ini. Dari awal, Mama sudah punya firasat buruk dengan Akhyar. Papa sih nggak mau dengarkan Mama. Akhyar itu bawa sial untuk Andina. Seharusnya, kita cari orang lain, bukan anak pembantu itu.”


“Mama apa-apaan, sih? Aku ceritakan ini bukan untuk mendengar Mama menghina-hina Akhyar. Aku bercerita agar aku bisa tenang. Agar aku merasa nggak sendirian. Kalau kayak gini, aku menyesal cerita sama Mama.”


Bu Rini menarik kursi ke samping ranjang. Ia duduk dengan kasar. “Mama seperti ini untuk kebaikan kamu, Din. Mama dari awal nggak setuju kalau menikah dengan Akhyar. Kamu sendiri pernah cerita sama Mama sangat kesal dengan Akhyar yang sok pintar di kampus. Ini gara-gara Papa kamu yang nggak mau cari laki-laki lain. Pasti banyak kok laki-laki lain yang bisa diajak kerja sama.”


Andina menatap ayahnya. “Pa, tolong bawa Mama keluar. Kepalaku akan semakin sakit kalau Mama ada di sini.”


Pak Satrio mengangguk. Ia juga bingung menghadapi masalah ini. Dibawanya Bu Rini untuk duduk di luar.


“Papa kenapa, sih? Nggak lihat kalau putri kita hampir mati gara-gara mantannya Akhyar?”


“Mama harus tenang. Lihat Akhyar. Dia melindungi putri kita. Kalau orang lain, apa orang itu akan melindungi Andina sampai mempertaruhkan nyawanya seperti yang Akhyar lakukan?”


“Ya, kalau laki-laki lain. Nggak akan ada mantan gila seperti perempuan tadi.”


“Mama bisa jamin? Bisa saja ada mantan orang itu yang lebih mengerikan. Bahkan, nggak menutup kemungkinan orang itu sendiri yang menyakiti Andina. Pikirkan itu, Ma. Kita bisa tidur tenang karena kita menikahkan Andina dengan Akhyar, bukan laki-laki lain.”


Bu Rini memalingkan wajah. Ia tak bisa membantah ucapan suaminya lagi. Memang benar, mereka bisa tidur tenang karena suaminya Andina yang diajak bekerja sama adalah laki-laki yang mereka kenal. Jika laki-laki lain, ia dan Pak Satrio pasti akan lebih khawatir lagi.


 


Di tempat parkir rumah sakit, Reza menatap mobil Sania yang melaju perlahan. Ia mengikuti wanita itu sejak tadi pagi. Setelah memastikan mobil Sania meninggalkan rumah sakit, Reza bergegas turun. Ia berlari menuju lift.


Sebelumnya, Reza berusaha sebisa mungkin tidak melepaskan pandangan ke mana pun Sania pergi. Dari jarak yang aman, ia mengawasi wanita itu. Ia sangat terkejut ketika melihat Sania bertemu dengan Andina di dekat tangga darurat. Sialnya, ia tak bisa mendengar apa yang dibicarakan kedua wanita itu.


Reza sampai di lantai tempat Andina dirawat. Karena ia tidak tahu ruang rawat Andina, ia mengecek setiap ruangan.


“Siapa, ya?” Seorang wanita paruh baya menyela Reza ketika ia hendak membuka salah satu pintu.


“Saya mau cari teman saya, Bu.”


“Namanya?”

__ADS_1


“Andina.”


“Kamu temannya anak saya?”


“Oh, ini mamanya Andina? Halo, Tante. Nama saya Reza.” Berusaha terlihat akrab, Reza mengulurkan tangan.


Dengan ekspresi bingung, Bu Rini menyambut uluran tangan Reza.


Reza juga berkenalan dengan Pak Satrio. Ia kemudian diantar masuk.


“Reza?” Andina duduk begitu melihat pria yang tak disangkanya akan datang berdiri di pintu.


Reza tersenyum tipis.


“Ma, Pa. Tolong tinggalkan kami. Ada yang mau aku bicarakan dengan Reza.”


“Tapi.” Bu Rini khawatir kalau pria yang baru dikenalnya itu berbuat jahat pada Andina.


“Tenang saja, Ma. Reza ini orang baik. Dia nggak bakal ngapa-ngapain.”


Bu Rini mengangguk. Ia keluar bersama dengan Pak Satrio.


Setelah Bu Rini keluar, Reza duduk di kursi samping ranjang. “Ada apa? Kenapa kamu dirawat? Akhyar di mana?”


“Akhyar di ruangan lain. Dia belum sadar.”


“Apa yang terjadi? Tadi aku lihat Sania datang ke sini.”


“Sania menyewa preman untuk mencegat kami semalam. Preman itu menusuk Akhyar sampai terluka seperti itu. Aku nggak tahu seberapa parah lukanya. Tapi, kata dokter kondisinya sudah mulai stabil.”


Reza menggaruk belakang kepalanya. “Kamu yakin Sania yang melakukan ini? Kenapa kamu nggak lapor polisi?”


“Dia sendiri yang bilang padaku tadi. Tapi, sayangnya aku nggak punya bukti apa pun. Kalau aku punya bukti aku akan jebloskan perempuan itu ke penjara.” Andina memukul ranjang dengan tangannya yang mengepal. “Oh ya, ada yang mau aku beritahu. Bukan hanya Akhyar selingkuhan Sania, masih banyak laki-laki lainnya. Ada dua puluh lebih.”


Reza tertawa. “Dua puluh? Kamu bercanda? Itu pasti aktor atau penyanyi favoritnya Sania.”

__ADS_1


“Bukan. Itu selingkuhannya. Dia sendiri yang bilang padaku.”


 


__ADS_2