
Andina, hanya bisa berdiri di depan ruang rawat Akhyar. Tangannya memegang gagang pintu. Ia tak bisa masuk karena Akhyar sedang ditangani oleh dokter.
Dengan mata berkaca-kaca, bibir Andina berkomat-kamit. Ia berdoa agar Akhyar selamat.
“Din, ayo duduk!” Bu Rini memegang bahu Andina.
Andina yang lemas menurut. Kakinya juga sudah lelah berdiri lima belas menit di depan pintu sejak tadi.
Andina menyandarkan punggungnya. Ia lantas menengadahkan wajah agar air matanya tidak tumpah.
Suara derap langkah terdengar menuju tempat Andina dan Bu Rini duduk. Pak Satrio dan Bu Nani berlari bersama.
“Kenapa dengan Akhyar, Bu? Tadi waktu saya tinggal dia baik-baik saja,” kata Bu Nani.
Pak Satrio yang tidak sengaja bertemu Bu Nani di lift tadi duduk di samping istrinya. “Apa yang terjadi? Ada apa dengan Akhyar?”
“Aku nggak tahu, Pa. Tadi perawat bilang Akhyar sesak napas.”
“Sesak napas?” Tangis Bu Nani pecah. Ia duduk lemas di bangku.
Bu Rini berdecak. Ia menarik tangan Bu Nani menjauh. Mereka menuju tangga darurat di ujung koridor.
“Kita belum sempat bicara sejak semalam, Bu.” Bu Rini menyilangkan tangan di dada. “Saya ingin mengingatkan apa yang Bu Nani janjikan. Bu Nani meyakinkan saya kalau Akhyar akan menjaga Andina. Tapi, apa ini? Andina hampir celaka. Seharusnya, aku nggak percaya dengan anak Bu Nani itu. Dia benar-benar nggak bisa diandalkan.”
Bu Nani menunduk. Ia bingung harus merespons seperti apa. Anaknya sedang kritis sekarang. Ia tak tahu apa yang sebenarnya terjadi tadi malam. Memang jika kejadian ini terulang, Andina bisa celaka. Akan tetapi, bukankah Akhyar sudah berusaha keras sampai tertusuk pisau seperti itu? Bukankah anaknya patut mendapatkan ucapan terima kasih.
Bu Nani mengusap wajahnya. Ia sudah berusaha menahan diri. Namun, mendengar ucapan Bu Rini yang menyakitkan, darahnya terasa mendidih.
Bunyi benda jatuh mengalihkan perhatian Bu Rini dan Bu Nani. Tiang infus berguling ke samping kaki kedua wanita itu.
“Andina?” Kening Bu Rini mengerut.
__ADS_1
Andina berjalan perlahan menuruni anak tangga. Tangannya yang memegang kantong infus terangkat setinggi kepala.
“Mama ada masalah apa, sih? Kenapa Mama sangat kasar? Mama tahu? Akhyar dalam kondisi kritis karena aku. Dia menyelamatkan aku. Kalau nggak ada Akhyar, aku yang akan berbaring kritis di sana. Aku yang akan ditusuk pisau preman itu!” teriak Andina. “Tolong, Ma! Kalau nggak tahu apa-apa, jangan bicara sembarangan.”
Andina meraih pergelengan tangan Bu Nani. Mereka kembali naik.
Bu Rini yang terkejut dengan sikap Andina bergeming. Matanya melotot saat pintu tangga darurat itu tertutup.
“Akhyar benar-benar membawa pengaruh buruk untuk Andina,” geram Bu Rini.
Bu Rini bergegas naik. Ia tidak melihat Andina dan Bu Rini di bangku tunggu depan ruangan. Buru ia berlari ke ruang rawat Akhyar.
Akhyar belum sadar. Andina duduk di kursi yang diletakkan di samping ranjang. Infus yang masih terpasang ke tangannya sudah mendapat tiang yang baru.
Tak ingin membuat keributan, Bu Rini hanya berdiam diri di sofa ruangan itu. Ia menatap Bu Nani sembari menahan kemarahannya.
Tidak berapa lama, Pak Satrio yang dari toilet datang. Ia duduk di samping istrinya tanpa mengatakan apa pun. Tanpa bertanya, bisa ia lihat jelas sang istri sedang kesal.
“Aku masih mau di sini, Ma.” Andina menjawab masih dengan nada jengkel. “Kalau Mama nggak betah di sini, ya udah. Mama pergi aja. Aku juga nggak kenapa-napa, kok.”
Suara ketukan pintu menjeda percakapan itu. Alis Andina mengerut, melihat Sania datang. Wanita itu membawa satu keranjang buah.
“Maaf. Saya temannya Akhyar, Bu.” Sania menghampiri Bu Nani. Dari penampilan, ia bisa menebak yang mana ibunya Akhyar di antara dua wanita sepantaran yang ada di ruangan itu.
“Oh, silakan masuk.” Bu Nani berdiri. Ia mempersilakan Sania untuk duduk di kursi yang ditempatinya.
Sania memberikan keranjang buah yang dibawanya pada Bu Nani. Ia kemudian memeluk Bu Nani dengan lembut. Saat matanya beradu pandang dengan Andina, ia tersenyum lebar.
Andina tersadar. Seharusnya, tak ada yang tahu kejadian ini. Ia baru bangun dan orang tuanya atau Bu Nani tidak mungkin menghubungi teman-temannya mengenai apa yang menimpa Akhyar.
Andina bergeming di kursinya. Ia mengamati setiap gerakan Sania tanpa mengatakan apa pun. Semua ucapan yang terlontar dari mulut Sania ia dengar tanpa memberi respons.
__ADS_1
Tangannya kemudian spontan bergerak ketika Sania menggenggam tangan Akhyar. Ia menarik tangan Akhyar ke arahnya.
“Terima kasih, San. Kamu sudah meluangkan waktu menjenguk Akhyar.” Senyuman mengembang lebar di bibir Andina. Namun, tatapannya menunjukkan hal yang berbeda. Bola mata Andina seolah berteriak, menyuruh Sania meninggalkan ruangan itu sekarang juga.
“Sama-sama, Din. Aku berharap Akhyar segera bangun. Ada beberapa hal ingin aku bicarakan padanya.”
Andina mengangguk. “Oh ya, kemarin Reza bilang kalian mau ke luar kota bareng. Nggak jadi?”
Tentu saja apa yang dikatakan Andina tidak benar. Reza tak pernah mengatakan hal seperti itu. Kalimat yang diucapkan Andina adalah sinyal agar Sania segera angkat kaki.
“Nggak jadi. Dia ada urusan yang lain.” Sania mengikuti permainan Andina. Ia tak akan mau kalah begitu saja. “Kenapa bisa Akhyar sampai seperti ini, Din? Kalian ke mana? Kamu ngidam ke tempat-tempat aneh?”
Bukan hanya Andina yang berang dengan ucapan Sania, melainkan Bu Rini juga. Saat Bu Rini hendak menyergah Sania, Andina lebih dulu menarik tangan wanita itu keluar kamar.
“Aku ingin bicara berdua dengannya,” kata Andina agar tidak ada yang menyusul mereka.
Sania tertawa setelah mereka berada di luar. Ia mengikuti ke mana Andina menariknya. Raut wajah frustrasi wanita di depannya adalah kebahagiaan untuknya.
“Kamu yang menyuruh orang-orang itu mencegat kami semalam, ‘kan?” sergah Andina, di dekat tangga darurat.
“Iya. Aku yang menyuruhnya. Memangnya kenapa?”
“Kamu bertanya kenapa? Kamu benar-benar gila, ya? Sebenarnya, kamu mau apa, sih?” Andina mundur satu langkah. Ia harus menjaga jarak dari Sania. Wanita di depannya seperti bukan orang yang dikenalnya. Sania tampak berbeda setelah Andina mengetahui sifat asli wanita itu.
“Kamu sudah punya Reza, tapi kamu masih saja mengejar Akhyar. Apa yang kamu inginkan dari Akhyar? Kamu mau mempermainkannya?” Andina memegang tiang infusnya. Ia siap menghajar Sania dengan tiang infus itu jika wanita di depannya menyerang lebih dulu.
Tawa Sania pecah. Ia menutup mulutnya agar tidak mengganggu sekeliling. “Apa yang aku inginkan dari Akhyar, itu bukan urusanmu. Aku cuma mau kamu menjauh dari Akhyar. Jangan pernah dekat dengannya. Akhyar itu milikku. Semua yang berstatus milikku akan tetap menjadi milikku.”
“Perempuan sinting! Lalu, Reza? Kamu mau meninggalkannya?”
“Reza? Dia juga milikku.” Sania mengeluarkan ponsel dari saku. Dibukanya galeri foto. “Ini semua milikku.”
__ADS_1