Terpaksa Menikahi Anak Pembantuku

Terpaksa Menikahi Anak Pembantuku
Selingkuhan Sania


__ADS_3

Akhyar tak menduga akan bertemu dengan Sania di bioskop. Setahunya, Sania tidak akan pernah pergi ke mana pun sendirian. Wanita itu harus ditemani minimalnya satu orang. Di belakang Sania sekarang, Akhyar tak melihat satu pun sahabat dekat wanita itu.


“Papa tiba-tiba mau ketemu temannya yang baru datang dari luar kota. Jadi, kami memutuskan untuk nonton.” Andina yang menjawab karena melihat Akhyar kebingungan untuk merespons.


Sania mendengkus kesal. “Bisa-bisanya. Aku nggak percaya dengan apa yang kamu katakan, Din. Biarkan Akhyar yang menjawab. Dia beda sama kamu.”


Andina memalingkan wajah.


“Apa yang dikatakan Andina, benar. Kami memang sudah di tengah jalan tadi,” kata Akhyar, mengukuhkan alasan yang diberikan oleh Andina sebelumnya.


Sania menggeleng, tidak percaya begitu saja.


“Sayang, mereka teman-teman kamu?” Seorang pria mengenakan jaket berbahan jins menghampiri Sania. Pria itu langsung melingkarkan tangan ke ke bahu Sania seolah mereka sudah sangat dekat.


Mata Sania seketika melebar, tidak menyangka kehadiran pria itu. Ia menoleh pada pria yang lebih tinggi lima senti darinya.


“Halo, namaku Andina.” Andina mengulurkan tangan.


Pria yang baru datang itu menyambut tangan Andina seraya berkata, “Namaku Reza.”


“Dan, ini suamiku. Akhyar.”


Reza dan Akhyar kemudian saling berjabat tangan.


“Kamu pacaran dengan Sania?” tanya Andina, sembari melirik wanita yang disebut.


“Iya. Kami sudah tiga tahun. Minggu depan, kami akan merayakan anniversary keempat.”


Itu adalah kabar yang mengejutkan, terlebih lagi untuk Akhyar yang pernah menjalin hubungan dekat dengan Sania. Jika Sania dan Reza sudah punya hubungan spesial sejak empat tahun lalu, berarti Akhyar selama ini berstatus sebagai selingkuhan?


Hampir saja Akhyar tertawa mengetahui hal ini. Ia tak tahu betapa lihainya Sania bersandiwara. Bahkan, Sania sampai meneror Andina karena ia tinggalkan. Untuk apa Sania melakukan itu semua? Ada Reza di sampingnya. Dari penampilan, Reza terlihat seperti orang dari keluarga berkecukupan.


“Boleh kami duduk di sini?” tanya Reza. “Jarang aku bertemu dengan teman-temannya Sania.”

__ADS_1


“Kita ke meja yang lain saja, Za. Aku nggak mau ganggu mereka.”


Andina berdiri. Ia menarik tangan Sania untuk duduk. “Kami nggak merasa terganggu, kok. Justru, kami sangat senang kalau kalian bergabung.”


Tak bisa dipungkiri, Andina benar-benar puas dengan semua ini. Ia berpikir kalau Sania akan mempersulit mereka karena ketahuan menonton. Namun, ternyata malah mereka yang mengetahui rahasia Sania.


“Iya. Jarang-jarang aku bertemu dengan teman kamu.” Reza duduk di samping Akhyar. “Kalian udah pesan makan?”


“Belum. Kami baru sampai.”


“Kita pesan makan dulu, yok.”


Mereka kemudian memesan makanan. Andina sesekali melirik Sania ketika sedang memilih menu. Sudut bibirnya baik, melihat Sania tampak tidak nyaman.


“Ceritain dong bagaimana kalian bertemu,” kata Andina setelah memesan.


“Kami ketemu waktu ada konser. Nggak sengaja senggolan, terus kenalan, ngobrol, terus dekat. Ya, beberapa kali kami bertengkar, tapi kembali lagi.”


Andina mengangguk seolah rasa penasarannya terjawab. Padahal, yang menjadi pertanyaan besar di kepalanya adalah kenapa Sania bisa berpacaran dengan dua orang sekaligus.


“Aku baru diangkat jadi manajer di department store keluargaku. Sebenarnya, aku ingin jadi travel vlogger. Tapi, Mama sama Papa nggak setuju.”


Andina menoleh pada Akhyar. Ia berharap Akhyar sadar kalau selama ini Sania hanya mempermainkan pria itu. Tidak perlu lagi Akhyar merasa tidak enak pada Sania.


“Kalian tampak serasi.” Akhirnya, Akhyar berbicara setelah sejak tadi ia hanya diam. Senyumannya kemudian mengembang lebar.


Awalnya, Akhyar sempat terkejut dengan kehadiran Reza. Namun, perlahan ia sadar. Dirinya tak pernah berarti untuk Sania. Ia hanya salah satu mainan wanita itu. Tidak menutup kemungkinan masih ada pria lain yang menjadi koleksi Sania.


Akhyar bernapas lega sekarang. Ia tak membutuhkan alasan lagi untuk menolak ajakan Sania. Tak ada lagi yang mengikatnya. Perasaan bersalah atau apa pun yang tersisa di hatinya, bisa disingkirkan tanpa beban apa pun.


Mereka pun mengobrol sembari sesekali bercanda. Namun, Sania hanya diam dan merespons dengan senyum simpul. Ia ingin pergi dari tempat itu sekarang juga.


Sania memang berjanji untuk bertemu dengan Reza setelah Akhyar menolak ajakannya. Sayang kalau tiket nontonya terbuang percuma. Ia juga bosan di rumah seharian. Sialnya, ia tidak menyangka Reza akan datang secepat itu.

__ADS_1


“Aku ke kamar mandi bentar,” ujar Sania, tidak tahan dengan obrolan tiga orang di depannya. Apalagi, Andina bersikap seperti sudah mengenal lama Reza, membuatnya benar-benar muak.


Sania pergi begitu saja. Sebelum Sania sampai di kamar mandi, tiba-tiba Akhyar berjalan di sampingnya.


“Aku yang keberapa?” ujar Akhyar dengan senyum lebar. Tak ada niat untuk menyindir. Ia benar-benar senang dengan kebenaran yang diketahuinya.


“Apa maksudmu?” Sania berhenti. Ia menatap tajam pada Akhyar.


“Aku cukup terkejut dengan apa yang dikatakan Reza tadi. Tapi, aku mengucapkan selamat padamu. Kamu berhasil dengan baik membuatku seperti orang bodoh. Aku sama sekali nggak nggak menyangka kalau aku cuma selingkuhanmu. Aku sama sekali nggak curiga.”


Sania memalingkan wajah. Ia tidak tahu bagaimana membantah ucapan Akhyar setelah Reza muncul tanpa aba-aba.


“Aku nggak akan menyalahkanmu, San. Aku berpikir kamu memang butuh bersenang-senang. Tapi, cukup sampai di sini. Semua berakhir di sini. Kita jalani hidup masing-masing mulai sekarang.” Akhyar menepuk lengan Sania. “Semoga kamu bahagia dengan Reza. Kalian sangat serasi.”


Akhyar kemudian pergi. Ia sudah mencurahkan apa yang memenuhi dadanya. Semua berakhir antara dirinya dan Sania. Wanita yang tampak polos di matanya, ternyata seorang ahli dalam memainkan hati seseorang.


Tangan Sania mengepal. Ia tidak akan melepaskan Akhyar. Semua yang menjadi miliknya, harus tetap menjadi miliknya. Tak ada yang boleh mengambil itu. Ia akan melakukan apa pun untuk mempertahankan semua yang pernah berstatus miliknya.


Sania tidak jadi ke kamar mandi. Dari awal ia memang tidak ingin buang air besar atau buang air kecil. Ia hanya ingin menjauh dari obrolan membosankan, Andina, Akhyar, dan Reza. Tanpa pamit pada Reza yang diajaknya ketemuan, ia meninggalkan mal.


Sementara itu, Akhyar sudah kembali duduk. Makanan yang dipesan sudah datang. Mereka menyantap makanan itu sembari lanjut mengobrol. Setelah makan nanti, mereka sepakat untuk menonton bersama.


Namun, hingga makanan yang mereka santap habis, Sania tak kunjung kembali. Reza menelepon Sania, tapi wanita itu tak mengangkat. Berapa kali pun Sania mencoba.


“Apa sesuatu terjadi pada Sania?” Reza berdiri. “Din, aku bisa minta tolong? Cek ke kamar mandi. Aku khawatir terjadi sesuatu pada Sania.”


Akhyar menggeleng. Ia khawatir Sania menyiapkan jebakan di kamar mandi untuk Sania.


“Jangan, minta orang lain saja,” tegas Akhyar.


“Kenapa? Aku cuma minta bantu cek ke kamar mandi.”


“Minta orang lain saja.” Suara Akhyar memelan. “Aku nggak mau Andina dekat-dekat dengan Sania.”

__ADS_1


Kening Reza mengerut. Sikap Akhyar yang tampak bersahabat sejak tadi, berubah dalam sekejap. “Apa ada sesuatu yang terjadi antara kalian dan Sania?” tanyanya, curiga.


__ADS_2