
Rayhan dan Jihan yang sudah berganti pakaian segera pergi menuju rumah sakit. Untung saja Abas sudah stand by sehingga saat Rayhan membutuhkannya, Abas sudah siap untuk menjemput majikannya itu.
Abas sedikit terkejut saat Rayhan dan Jihan kompak mengatakan bahwa mereka harus pergi ke rumah sakit saat Abas menanyakan kemana mereka akan pergi.
Jihan baru mendapatkan kabar bahwa ibunya kritis dan harus segera dilakukan operasi.
Sepanjang perjalanan Jihan menangis dan terus menghubungi Mami Nurul.
"Letakkan saja ponsel mu. Nurul tidak akan sempat untuk mengangkat panggilan darimu karena dia sedang menikmati uang yang baru saja aku transfer," ucap Rayhan dengan santai.
"Jika Mami Nurul tidak mengaktifkan ponselnya. Darimana aku akan mendapatkan uang untuk biaya operasi ibuku?"
"Apa kamu lupa jika sekarang kamu sudah memiliki kekasih kaya raya?"
Abas melongo mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Rayhan.
Kekasih? bos tidak mungkin kan benar-benar melamar purel itu,
Sesampainya di rumah sakit, Jihan segera turun dari mobil dan bertemu dengan dokter.
"Nona Jihan, maafkan saya. Ibu anda."
"Jangan macam-macam jika tidak ingin saya kebiri."
Refleks dokter itu memegang miliknya.
Hmm, Aku tidak menyangka jika kekasihku ternyata bisa beralih dari mode cantik ke mode galak. Ini cocok untukku.
"Nona Jihan, Ibu anda..."
Jihan yang sudah tidak tahan dengan perkataan dokter yang berbelit-belit, segera mengambil ancang-ancang untuk menjelang senjata pamungkas milik dokter itu.
"Ibu anda sudah sadar." Ucap dokter itu sambil tersenyum.
Deg !!
"Dokter tolong anda jangan bercanda, 2 jam lalu Anda mengatakan bahwa ibu saya koma dan keadaannya sangat kritis sehingga harus segera dioperasi. Kenapa sekarang ada mengatakan bahwa Ibu saya sudah sadar? Apa anda sedang mencoba untuk mempermainkan saya?" ketus Jihan.
Dokter itu kemudian menceritakan bagaimana Abas menelpon dokter spesialis jantung yang ada di pusat, untuk mencarikan jantung yang pas dengan Ibu Jihan. Begitu mereka mendapatkannya, tim medis segera mentranspartasi jantung ibu Jihan.
Jihan langsung menatap Rayhan, Rayhan tersenyum penuh kebanggaan seolah-olah dia ingin mendapatkan pujian atas tindakan yang sudah dia lakukan.
"Apa anda yang melakukannya?" tanya Jihan.
"Bukankah sudah aku katakan bahwa sekarang kamu memiliki kekasih kaya raya, dan mulai dari kamu dinobatkan menjadi kekasih ku, semua permasalahanmu menjadi permasalahanmu juga."
Jihan segera menabrakkan bibirnya ke bibir Rayhan.
"Terima kasih, aku akan membalas kebaikan kamu nanti malam." Bisik Jihan yang membuat Rayhan meleleh.
__ADS_1
Dokter yang melihat juga melongo, namun saat dokter itu melihat Abbas. ingatannya kembali beberapa jam lalu.
Abas mengingatkan bahwa jika Jihan sampai di rumah sakit namun kondisi ibunya masih belum stabil, Abas menuntut rumah sakit itu sebagai rumah sakit mal praktek.
Ketegangan tentu saja terjadi dan membuat gempar hampir seluruh dokter yang ada di rumah sakit itu, Bagaimana bisa dalam waktu 1 jam pasca operasi, pasien akan langsung sadarkan diri.
Beruntung, detik-detik saat Jihan datang. Ibunya menunjukkan tanda-tanda bahwa dirinya akan sadar dan membuka mata walaupun belum sempurna.
Jihan segera masuk ke dalam ruangan Ibunya dan melihat ibunya sudah membuka mata.
"Ibu..."
Ibu yang baru sadar setelah sekian lama koma, hanya bisa menggerakkan kepalanya untuk melihat ke arah Jihan.
Jihan merasa sangat bahagia karena untuk pertama kalinya dia mendapati bahwa Ibunya sudah sadar.
Dokter menyarankan agar ibu dibiarkan sendiri untuk menormalkan kondisi tubuhnya pasca operasi.
Jihan keluar dari ruangan ibunya setelah merasa lega menemaninya. Jihan mencari keberadaan Rayhan. Jihan menemukan Rayhan sedang duduk di kursi tunggu
"Tuan..."
"Ehemm...,"
"Maksudnya, sayang..."
Rayhan tersenyum dan langsung memberikan kode agar Jihan mendekat padanya.
"Jihan, Apa yang kamu lakukan? Aku meminta kamu untuk duduk di sebelahku bukan duduk di hadapanku seperti ini."
Bukannya menuruti Rayhan, Jihan justru semakin bersimpuh di kaki Rayhan sambil menangis.
"Tuan, hiks hiks. Aku tidak tahu lagi harus dengan cara apa aku berterima kasih kepada anda karena sudah membantu menyelamatkan nyawa ibu saya."
"Aku benar-benar tidak mempunyai apapun untuk diberikan kepada anda."
"Ada, punya sesuatu yang dapat kamu berikan kepadaku sebagai gantinya."
"Apa itu?" tanya Jihan.
"Hati kamu."
Jihan terkejut.
"Jadi anda memberikan jantung kepada ibu saya dan Anda mengharapkan hati saya?"
Rayhan tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepala.
"Tapi saya belum siap mati, tuan."
__ADS_1
"Ha?"
Rayhan tentu saja terkejut dengan penuturan Jihan yang mengatakan bahwa dia akan mati jika hatinya diberikan kepada Rayhan.
"Jihan, aku hanya meminta hatimu dan aku yakin itu tidak akan membuat kamu meninggal."
"Tuan, Tentu saja aku meninggal jika hati yang ada di dalam hatiku yang berfungsi menjadi struktur organ di dalam tubuhku diambil oleh Tuan."
Rayhan menepuk dahinya karena mengira Rayhan meminta bagian hati yang sesungguhnya.
Rayhan mengangkat tubuh Jihan dan membawanya untuk duduk di sebelahnya.
"Aku bukan menginginkan hati kamu untuk dikeluarkan dari tubuhmu, tapi aku ingin hati kamu diberikan kepadaku dan aku akan memiliki kamu seutuhnya."
"Kenapa?"
"Karena aku mencintaimu dan kamu sudah menerima cairan milikku, aku bukanlah pria yang mudah memucratkan cairanku kemana-mana. Hanya mereka yang beruntung yang dapat menerimanya, dan siapapun yang menerimanya tidak peduli derajat dan martabatnya. Itulah yang aku inginkan untuk menjadi pendamping hidupku."
Abas yang baru saja datang setelah berkonsultasi kepada dokter perihal Ibu Jihan, tentu saja terkejut saat mendengar pernyataan yang baru saja dikatakan oleh bosnya itu.
Mati aku, bos benar-benar melamar Purel itu untuk menjadi pasangannya. Ya Tuhan, Bagaimana kata keluarga besar ketika mereka mengetahui bahwa tuan muda yang selalu mereka bangga-banggakan melamar Purel.
"Bos, apa aku tidak salah dengar? dia purel." Ucap Abas.
"Iya, saya purel," imbuh Jihan.
"Lalu kenapa jika Purel," tanya Rayhan dengan santai.
Abas kemudian membisikkan sesuatu kepada Rayhan.
"Kenapa kamu peduli tentang pendapat dunia dan keluargaku jika aku sendiri yang akan menjalani bahtera rumah tangga?" tanya Rayhan.
Abas menepuk dahinya sendiri kemudian membawa Jihan pergi.
"Woy sandal jepit. Mau di bawa kemana kekasihku?" teriak Rayhan.
"Gawat.."
Abas segera berlari kencang sambil memegang tangan Jihan. Beruntung, ada lift yang hampir tertutup. Abas segera membawa Jihan masuk ke dalam dan pintu lift tertutup begitu mereka berdua sudah masuk.
"Tuan, Kenapa Anda membuka saya lari dari tuan kaya raya itu?"
"Maaf, karena saya harus berbicara empat mata terhadap kamu. Apa kamu juga menyukai Tuan Rayhan?"
"Ya bagaimana ya? aku adalah purel. Pekerjaanku yang memang seperti ini, harus membuat pelanggan senang. Tapi Aku tidak tahu apakah perkataan dari tuan kaya raya itu benar atau tidak."
Abas menepuk dahinya sendiri. Satunya bos bucin, wanita nya sedikit oon.
...----------------...
__ADS_1
...----------------...
...----------------...