
Ditinggalkan ataupun meninggalkan menjadi dua hal yang selalu datang beriringan. Meski terasa sulit, keadaan tertentu menuntut untuk pergi menjauh dari seseorang.
Jihan, tidak tahu apakah orang-orang ini benar-benar orang suruhan Rayhan atau Abas, mengingat beberapa hari sebelum ada orang-orang ini. Abas berkata bahwa Jihan harus mencari cara untuk pergi dari kehidupan Rayhan, jika ingin dia dan putrinya bisa hidup dengan tenang dan bahagia seperti sebelumnya.
Jihan ingin melakukan itu tapi perasaan cinta dan juga balas budi yang besar terus menghampirinya. Jihan tidak tahu mana yang lebih besar dari rasa balas budi dan juga perasaan cinta yang dia miliki terhadap Rayhan.
kepergian selalu memicu rasa sedih ataupun rasa sakit. Sebab segala bentuk perpisahan akan selalu menorehkan luka akibat kehilangan seseorang. Ini bisa terjadi pada siapa saja baik kepergian orang tua, sahabat, saudara, ataupun rekan.
Itulah yang sedang dirasakan Jihan saat orang-orang itu mengatakan bahwa dia adalah utusan dari Rayhan, untuk membawa Jihan dan Alika pergi berlibur ke tempat yang lebih nyaman.
"Meski terasa berat melepaskan diri untuk pergi dari seseorang, menerima dengan ikhlas menjadi cara terbaik yang perlu di lakukan," ucap Bik Santi saat mengetahui bahwa Jihan tengah bimbang dengan apa yang harus dia lakukan.
"Bibi, Aku tidak tahu apakah mereka benar-benar orang suruhan dari Tuan Rayhan atau bukan. Mengingat Tuan Rayhan pernah mengatakan bahwa jangan pernah pergi sebelum dia sendiri yang mengabari aku bahwa dia akan pergi."
"Apa kamu sudah coba menghubungi Tuan Abbas? Bukankah beliau adalah kaki tangan dari Tuan Rayhan?" tanya Bik Santi.
"Aku tidak yakin, mengingat Dia juga menginginkan aku pergi dari kehidupan Tuan Rayhan."
Jihan tertunduk dan itu membuat Santi merasa iba, Santi mendekati Jihan dan duduk di dekatnya sambil mengelus lembut bahu Jihan.
"Ya sudah, aku tahu memang seseorang yang memiliki derajat tinggi dan jauh di atas kita, bedakan pernah bisa menerima Upik abu untuk dijadikan pasangan bagi tuannya. Bersabarlah, jika memang Tuan Rayhan itu memang jodoh kamu yang dikirimkan Tuhan, kalian pasti akan dipersatukan melalui cara Tuhan sendiri."
"Bagaimana dengan orang yang merupakan ayah kandung dari Alika? Bagaimana jika ternyata dia bisa mendapatkan hati ibu dan juga Alika setelah ini?"
"Jihan, aku rasa sebaiknya memang kita harus pergi untuk mengasingkan diri sementara waktu, aku rasa kamu sudah mengetahui jika ibu kamu sudah terlena dengan segala kemewahan yang diberikan oleh tuan Rayhan."
"Bibi benar, Aku merasa seperti tidak lagi mengenali sosok ibuku yang ramah dan sederhana."
"Jihan, kamu harus membuat keputusan. Bibi harap, keputusan kamu adalah yang terbaik."
Bibi Santi kemudian memilih untuk pergi meninggalkan Jihan agar Jihan bisa berpikir dengan tenang.
Setelah Jihan mendapatkan jawaban nya, dia keluar dari kamar. Betapa terkejutnya Jihan saat mengetahui bahwa Abas sudah ada di sana.
__ADS_1
"Tuan Abas?"
"Jihan, Apa kamu sudah mengemasi barang-barang milik kamu dan juga keluarga kamu?"
"Sudah, tapi bolehkah aku bertanya kenapa ini sangat mendadak?"
"Begini, Aku sedang merencanakan sebuah pesta kejutan untuk Tuan muda. Aku rasa dengan melibatkan kamu akan membuat pesta kejutan ini semakin meriah. Jadi untuk sementara waktu kamu harus pergi dan mematikan ponsel kamu agar tuan muda tidak bisa melacak keberadaan kamu. Aku akan mengirimkan seseorang untuk menyusul kamu saat pesta kejutan itu sudah dimulai."
Walaupun Jihan merasa ada sesuatu yang janggal dari keterangan yang diberikan oleh Abbas. Jihan tidak bisa melakukan apapun selain menuruti perintah dari Abas.
Abas kemudian memerintahkan kepada orang-orangnya untuk membantu membawakan barang-barang milik keluarga Jihan.
Jihan dan keluarganya memasuki mobil berjenis MPV, di mana ketika semua orang sudah masuk ke dalam, tidak bisa melihat keluar jendela. Itu membuat Jihan tidak bisa mengetahui ke mana orang-orang itu akan membawa Jihan pergi.
"Bandara?"
Jihan tentu saja terkejut saat mereka tiba di bandara dan langsung dikirim untuk memasuki jet pribadi yang akan segera lepas landas.
"Nona Jihan, Aku hanya bisa mengantarkan Anda dan keluarga sampai di sini. Jangan khawatir, ada dan keluarga akan dibawa ke tempat yang aman dan nyaman. Mereka adalah orang-orang terpercaya dan tidak akan pernah menyakiti anda dan keluarga."
"Jihan, kita mau kemana?" tanya Ibu Jihan.
"Jihan sendiri juga tidak tahu ke mana kita akan pergi, bu. Lebih baik sekarang kita diam dan mengikuti ke mana mereka akan membawa kita."
Sepertinya mereka sedang melakukan perjalanan yang jauh sehingga membuat Jihan dan keluarganya tertidur, mereka dibangunkan ketika sudah sampai di bandara.
Jihan mengetahui bahwa mereka sudah kembali pulang ke Indonesia namun bukan ke tanah kelahirannya.
Jihan tidak berani bertanya karena memang tidak ada satupun dari orang-orang itu yang Jihan kenal. Akhirnya Jihan hanya bisa diam hingga mereka membawa Jihan ke sebuah rumah modern berlantai 2.
Jihan tidak mengatakan apapun saat beberapa orang membawakan masuk barang-barang milik mereka dan mereka pergi begitu saja setelah mengantar Jihan.
"Ini dimana?" tanya Jihan sambil melihat keluar jendela untuk memastikan bahwa orang-orang itu sudah pergi.
__ADS_1
"Sepertinya ini di kota J," ucap Bibi Santi.
"Jika memang benar kita berada di kota J, Bukankah itu artinya kita berada di kota kelahiran Bibi Santi?"
"Beristirahat lah, besok kita akan mencari tahu sebenarnya di mana kita dikirim."
Jihan tersenyum kemudian melihat Alika dan ibunya yang sudah lebih dulu masuk ke dalam kamar karena lelah dalam perjalanan.
Pagi harinya..
Jihan mendapatkan informasi dari Bibi Santi yang mengatakan bahwa mereka benar-benar berada di tanah kelahiran Bibi Santi. Hanya saja, jarak dari tempat tinggal Jihan sekarang dengan rumah bibi Santi masih cukup jauh, sekitar 2 jam perjalanan.
"Apa yang akan kamu lakukan sekarang?" tanya Bibi Santi.
"Aku tidak tahu, Aku tidak mempunyai ponsel jadi aku tidak bisa menghubungi siapapun di sini."
Tak lama berselang, sudah telepon rumah yang ada di sana berdering dan Jihan langsung mengangkatnya.
"Nona Jihan, untuk sementara waktu tinggallah di sana dan nikmati hari-hari dengan. Setiap minggu akan ada orang yang datang untuk mengirimkan bahan makanan dan juga kebutuhan lainnya."
"Baiklah, Terima kasih sebelumnya."
Panggilan berakhir, Jihan merasa bahwa ada sesuatu yang tersirat dibalik ucapan yang baru saja dikatakan oleh Abbas.
Jihan kemudian mengingat nomor ponsel Niko. Tanpa pikir panjang lagi Jihan segera menghubungi Niko melalui telepon rumah yang ada di sana.
Jihan mengetahui bahwa ternyata cafe tempat mami dulu digusur dan sekarang mereka pindah di kota J.
Apakah Jihan akan kembali menjadi purel? atau akan mencari pekerjaan yang jauh lebih baik dari sebelumnya?
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
...----------------...
...----------------...