
Beberapa bulan berlalu, berkat bantuan Niko, Jihan dan keluarganya mendapatkan rumah sewaan sederhana.
Jihan bekerja di rumah makan, sebagai waiters. Ibu Jihan bener-bener menguji kesabaran Jihan karena terus mengomel dan menganggap Jihan bodoh karena pergi dari rumah yang memang sudah diberikan kepada nya.
"Tidak, Bu. keputusan yang sudah diambil Jihan merupakan keputusan yang terbaik. Lebih baik kita tidak memihak salah satu dari Tuan Rayhan ataupun Tuan Argan."
"Jihan, seharusnya kamu lebih pintar jadi seorang wanita. Jika memang Tuan Rayhan tidak menginginkan kamu setidaknya kamu bisa menerima ayah dari Alika untuk tetap menjadi pasangan hidup kamu sehingga kamu tidak perlu bekerja keras seperti ini."
"Bu, hidup susah melupakan kehidupan kita sejak. Bekerja keras adalah pekerjaan yang memang sudah menjadi rutinitas bagi Jihan. Ibu tenang saja walaupun sekarang kita hanya menempati rumah sewaan, tapi Jihan yakin kita tidak akan pernah kekurangan apapun karena Jihan akan berusaha keras untuk memenuhi kebutuhan kita."
"Iya, tapi lihatlah karena perbuatan dari kamu. Bibi Santi jadi memutuskan untuk tidak lagi bekerja pada keluarga kita dan itu benar-benar membuat Ibu kerepotan. Karena sekarang ibu harus menggantikan posisi Bibi Santi yang sebelumnya memasak untuk kita dan juga merawat Alika."
"Bu, jika memang Ibu keberatan merawat Alika tidak apa-apa. Aku bisa membawa Alika pergi bekerja lagi pula sebentar lagi Alika akan masuk sekolah dan kebetulan sekolahannya sangat dekat dengan tempat aku bekerja."
"Ya sudah itu terserah kamu."
Jihan hanya bisa menghela nafas panjang dan memandang kepergian ibunya yang langsung masuk ke dalam kamar dan sedikit membanting pintu.
Jihan tahu maksud ibu dari membanting pintu adalah bentuk protesnya karena Jihan memilih untuk pergi dan tidak menikmati properti yang diberikan oleh Abas.
Satu Minggu kemudian, Jihan sudah mendaftarkan Alika ke TK. Alika merasa sangat bahagia dan Jihan juga meminta izin kepada bos tempat dia bekerja untuk mengizinkan Alika berada di ruangan istirahat pegawai setelah dia pulang sekolah.
"Alika, Alika tidak apa-apa kan kalau harus menunggu di sini sampai Ibu selesai bekerja?" tanya Jihan.
"Tidak apa apa, Bu."
Jihan merasa sangat bahagia terutama setelah beberapa hari Alika berada di sana. Alika justru membantu pekerjaan di dapur seperti mencuci piring atau membuang sampah jika tempat sampah yang berada di dapur sudah penuh.
"Maafkan Ibu, Alika. sampai sekarang itu masih belum bisa memberikan kebahagiaan dan membiarkan kamu menikmati masa-masa keemasan menjadi seorang anak-anak." Lirihnya.
...----------------...
__ADS_1
Di tempat lain, Rayhan menghebohkan media dan juga keluarganya saat di hari pernikahannya, Rayhan dengan lantang membatalkan pernikahannya itu.
Rayhan sudah mengetahui jika selama ini Jihan tidak tinggal di rumah yang dia belikan untuknya. Rayhan juga mengetahui jika selama beberapa bulan terakhir ini, Abas tidak membantunya untuk membantu merubah penampilan Jihan agar dia pantas untuk bersanding dengan Rayhan di mata keluarga.
"Abas, Bukankah aku sudah mengatakan kepada kamu bahwa kamu harus mau buat jihad tampil berbeda dan membuatnya anggun sama seperti seorang Sultan. Tapi kenapa kamu justru membuatnya pergi dari kehidupanku?" ketus Rayhan.
"Maafkan aku, Tuan Rayhan. Aku lebih takut pada ancaman Tuhan besar yang mengatakan jika aku membiarkan Tuan Rayhan menikahi Jihan yang seorang purel. Beliau akan menghabisi keluarga ku dan juga..."
"Jadi kamu lebih takut ancaman dari papaku daripada kamu lebih takut untuk tidak menuruti perintah yang aku berikan kepada kamu?"
"Maafkan aku, Tuan. Tapi Tuan besar mengatakan bahwa dia tidak segan-segan akan menghabisi Jihan. Itulah alasan saya membawa Jihan pergi dari negara ini."
Rayhan segera meninggalkan pesta pernikahannya dan langsung menuju bandara setelah asisten pribadinya yang lain mengatakan bahwa pesawat pribadi milik tuan Rayhan sudah siap.
Rayhan segera kembali ke negara di mana Jihan berada. Abas juga ikut untuk memastikan bahwa semua keadaan aman terkendali mengingat Papa Rayhan memberikan kode agar Abbas mengikuti ke mana Rayhan pergi.
Rayhan kembali murka dan nyaris menghabisi Abbas tak kalah dia mengetahui bahwa rumah tempat di mana Jihan tinggal sudah kosong. Ditambah, Rayhan menemukan sejumlah uang tergeletak di meja ruang tengah.
Abas tidak kalah terkejut saat menghitung jumlah uang yang ada di sana adalah jumlah uang yang dia berikan setiap minggunya kepada Jihan.
Abas terdiam, karena memang sejatinya dia juga tidak mengetahui Kenapa Jihan bisa pergi.
"Maafkan aku, Tuan Rayhan. Tapi aku benar-benar terkejut saat melihat Jihan tidak ada di sini dengan sejumlah uang yang selalu aku berikan setiap minggunya. Percayalah, aku tidak mengatakan apapun aku justru mengatakan jika Jihan tetap berada di sini dan menikmati apa yang memang sudah pantas dia dapatkan."
Rayhan memejamkan mata, Rayhan memilih untuk pergi ke lantai atas. Rayhan menggeledah semua ruangan yang ada di sana, semua orang yang ikut juga menggeledah setiap ruangan yang ada di lantai atas tanpa tahu apa yang sebenarnya harus mereka cari dan mereka temukan.
Rayhan merebahkan diri di atas tempat tidur yang dulunya digunakan Jihan untuk beristirahat selama tinggal di sana.
"Maafkan aku, Jihan. Seharusnya aku bisa mengetahui Kenapa tiba-tiba Abbas membuat aku sibuk sehingga aku tidak sempat untuk menemui kamu dan menghubungi kamu untuk menggunakan ponselku."
"Argh...."
__ADS_1
Pyar...
Abas dan semua orang lainnya yang tengah sibuk mencari sesuatu menghentikan aktivitasnya setelah dia mendengar barang pecah.
Abas memerintahkan kepada orang-orangnya untuk turun dan menunggu Rayhan di lantai bawah.
Rayhan melampiaskan kekesalannya dengan memecahkan barang-barang yang ada di kamar itu, hingga kemudian dia menemukan satu buah alat pendeteksi kehamilan dengan garis 2.
"Apa ini?"
...----------------...
Argan baru mendapat informasi mengenai keberadaan Jihan, tanpa pikir panjang lagi Argan segera terbang ke negara itu untuk bertemu dengan Jihan.
Sayang nya, sebelum Argan sampai pada Jihan. Mama Argan, yang rupanya mengetahui keberadaan Jihan segera memutuskan untuk menemui Jihan terlebih dahulu dan mengancamnya agar dia tidak menuruti apa yang diinginkan oleh Argan.
"Maaf Nyonya, saya sadar akan posisi saya, jadi Nyonya tidak perlu khawatir karena saya tidak akan pernah mau untuk menikah dengan anak nyonya. Sekalipun tanpa Nyonya datang ke sini dan mengancam saya." Ucap Jihan sambil menggeser amplop merah yang tebal ke arah Mama Argan.
"Sudah terima saja uang ini dan menghilanglah dari dunia yang mungkin saja bisa ditemukan oleh putra saya. Aku tahu, tipe wanita miskin seperti kamu ini pastilah membutuhkan uang yang banyak untuk kebutuhan hidup. Ambillah."
"Nyonya, anda sudah cukup merendahkan harga diri saya. Tolong bawa kembali uang anda dan biarkan saya hidup dengan cara saya sendiri."
"Sombong sekali." Mama Argan kemudian memilih pergi dari hadapan Jihan dengan membawa kembali uang yang sudah dia siapkan namun ditolak oleh Jihan.
"Jihan, apa kamu baik-baik saja?" tanya Niko yang datang dengan niatan untuk mengajak Alika jalan-jalan.
"Aku baik."
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
...----------------...
.