
Jihan sedang menangis di toilet, dia tidak menyangka bahwa hari ini merupakan hari terburuknya karena dia harus bertemu dengan mama Argan, mama Argan yang memintanya untuk menjauhi Argan Dengan memberikannya sejumlah uang membuat hati Jihan benar-benar sakit.
"Ya Tuhan, Kenapa sangat susah menjadi orang terbawa dan selalu di tindas, padahal dulu aku tidak pernah mengeluh walaupun aku harus membanting tulang untuk melahirkan dan membesarkan putriku sendiri."
Jihan menghapus air mata saat mendengar suara ketukan pintu.
"Niko?" ucap Jihan saat membuka pintu.
"Sepertinya kamu baru saja melalui hari yang buruk. Apa kamu mau ikut jalan jalan bersama dengan aku?" tanya Niko.
Jihan tersenyum dan menganggukkan kepala, tanda dia setuju untuk ikut Niko jalan jalan.
Niko segera meminta ijin kepada bos tempat di mana Jihan bekerja, karena memang memilih tempat dia bekerja merupakan teman akrab dari Niko.
"Niko, apa tidak apa-apa aku pergi saat masih dalam jam kerja? aku takut jika aku akan dibully oleh karyawan yang lainnya."
"Tidak akan ada yang berani membully kamu, tenang saja."
Jihan kemudian melihat ke arah Alika yang terlihat sangat bersemangat karena inilah kali pertamanya setelah dipaksa pergi dari negara tempat di mana sebelumnya Alika tinggal di rumah Rayhan. Alika bisa jalan-jalan dengan mobil lagi.
"Niko, apa mami Nurul tidak mengaktifkan kamu?" tanya Jihan.
"Kamu tahu dari mana?"
"Sintia."
Niko ketawa kecil kemudian menceritakan kejadian yang membuat dirinya dinonaktifkan dari pekerjaannya sebagai sopir purel pribadi.
Joko. Adalah orang yang memfitnah Niko, dengan mengatakan bahwa dia juga meniduri setiap purel yang di antar pulang.
"Jadi, sekarang apa yang kamu kerjakan?" tanya Jihan.
"Untung saja mami Nurul perbaiki dengan membiarkan aku tetap memiliki mobil yang selalu aku gunakan untuk mengantar setiap purel, Jadi Aku menggunakan mobil ini untuk menjadi sopir taksi online."
"Ah, itu artinya setelah ini aku harus membayar tarif sesuai aplikasi." kekeh Jihan.
Niko tersenyum, menikmati hari itu seperti sebuah keluarga. Niko mengajak Jihan dan Alika bermain permainan yang ada di salah satu mall di kota itu.
__ADS_1
Perjalanan mereka di tutup dengan menikmati keindahan pantai matahari terbenam.
Jihan melihat Alika yang tidur dalam pelukan Niko, seharian bermain seluruh permainan yang ada di dalam mall, rupanya membuat Alika kelelahan dan tanpa sadar semilir angin pantai membuatnya tertidur.
"Terima kasih, Niko. Kamu sudah bersedia mengajak aku dan Alika untuk berjalan-jalan dan membuat suasana hatiku yang awalnya sangat buruk sekarang menjadi jauh lebih baik."
"Sama sama, Bukankah aku sudah mengatakan kepada kamu bahwa kamu tidak perlu sungkan untuk meminta sesuatu dari aku. Aku akan berusaha untuk membantu kamu selama kamu terbuka kepadaku," ucap Niko yang membuat Jihan tersenyum.
"Menurut mu, apa yang harus aku lakukan agar aku tidak lagi dikejar-kejar oleh orang yang merupakan ayah dari Alika?"
"Jika memang Tuan Rayhan benar-benar sudah tidak membutuhkan kamu dan tidak ada perjanjian yang terjadi di antara kalian, aku rasa yang harus kamu lakukan adalah membina rumah tangga dan pergi dari kota ini menuju kota terpencil yang bahkan tidak akan pernah terpikirkan oleh orang untuk mencari kamu ke sana."
"Hmmm, sepertinya akan sulit bagiku untuk menemukan pasangan di saat ada seorang malaikat yang titipkan Tuhan di dalam rahimku,"
"Jangan katakan bahwa Tuan Rayhan menbuat kamu hamil?" tanya Niko.
"Aku sendiri tidak tahu jika aku sekarang sudah hamil, Jika saja aku mengetahui kehamilanku ini sejak awal. Mungkin aku sudah melakukan sesuatu, sayangnya kamilan ini sama seperti saat aku hamil Alika. Aku tidak mengetahuinya hingga usia kandungannya sudah 3 bulan. Itu membuat aku tidak bisa untuk menggugurkannya karena janin itu sudah sedikit berbentuk walaupun tidak sempurna."
Jihan tidak tahan lagi, dia menutup matanya dan menangis. Menangisi nanti dirinya yang harus kembali hamil tanpa adanya seorang pria yang akan menemaninya.
"Aku akan bertanggung jawab."
Deg !!
"Hai, Niko.
Niko membungkuk tanda dia hormat kepada Rayhan, kemudian berbisik kepada Jihan sebelum membawa Alika.
"Aku akan menunggu kamu di mobil bersama dengan Alika."
Jihan hanya bisa menatap nanar kepergian Niko dan juga Alika, ingin sekali rasanya Jihan lari dari hadapan Rayhan. Namun, Rayhan justru memegang tangan Jihan dan memeluknya.
"Jihan, Kenapa kamu pergi dari hidupku? bukan aku sudah mengatakan kepadamu bahwa kamu jangan pernah pergi sebelum aku sendiri yang memintanya untuk pergi,"
"Tuan, lepaskan. Rasanya sungguh tidak sopan Anda memeluk wanita lain di saat anda sudah memiliki tunangan dan akan menikah."
Rayhan melepaskan pelukannya dan menatap Jihan.
__ADS_1
"Jihan, kamu tahu aku terpaksa melakukan itu demi menuruti permintaan terakhir dari kakekku. Sekarang, kakekku sudah tiada dan tidak akan ada lagi orang yang mampu untuk mengatur jalan hidup yang aku ingatkan."
"Maafkan aku, karena aku tidak dapat membaca situasi yang terjadi saat Abas membuat aku sibuk sehingga aku melupakan ponselku dan aku...."
"Melupakan kamu." Rayhan tertunduk di hadapan Jihan.
"Tuan, jangan berlutut di hadapan ku," ucap Jihan yang mulai khawatir karena semua orang yang ikut mengawal kepergian Rayhan menatap ke arah nya.
"Maafkan aku, Jihan. Aku sudah membuat hidup kamu menderita selama beberapa bulan terakhir ini. Maafkan aku. Hari ini juga aku akan menikahi kamu. Aku tidak ingin anak yang berada di dalam kandunganmu ini bernasib sama seperti Alika."
Deg !!
"Da... dari mana anda mengetahui jika aku hamil?" tanya Jihan gugup.
Rayhan kemudian menceritakan bahwa dia menemukan alat pendeteksi kehamilan saat dia menghancurkan barang-barang yang ada di kamar tempat dimana Jihan pernah tinggal.
Jihan memejamkan mata saat dia mengingat bahwa dia menyembunyikan alat pendeteksi kehamilan itu di guci yang ada di meja dekat tempat tidurnya. Saat itu, Ibu Jihan yang tiba-tiba masuk membuat Jihan panik, sehingga reflek melemparkan alat pendeteksi kehamilan itu sehingga masuk ke dalam guci.
"Jihan, sekalipun dunia menantang kisah cinta kita. Aku akan melawannya. Aku tidak ingin menikahi wanita selain dirimu."
"Maafkan aku, Tuan Rayhan. Aku tidak bisa." ucap Jihan sambil berlinang air mata.
"Biarlah aku akan merawat bayi ini sendirian seperti aku merawat Alika dulu. Aku pasti bisa melakukannya."
"Tidak, Aku tidak akan membiarkan kamu merawat bayi ini sendirian. Aku setiap menganggap kamu dan Alika bahagia dari hidupku. Apa jadinya aku saat kalian berdua tidak ada disampingku."
Jihan semakin menangis, dia tidak tahu harus berbuat apa. Walaupun di dalam hatinya sangat bergejolak cinta dan juga rasa rindu yang ingin sekali memeluk pujaan Hati. Tapi jika mengingat kejadian tadi pagi yang menimpanya, membuat Jihan berusaha mati-matian untuk menahan hasrat cinta dan juga rasa ingin memeluk Rayhan.
"Tidak, Tuan Rayhan. Kasta kita sangat berbeda dan kita tidak mungkin untuk bersama. Pergilah, kembalilah ke negaramu dan jalani hidup kamu sebagaimana mestinya. Anggap saja kita tidak pernah bertemu."
Jihan kemudian memutuskan untuk pergi meninggalkan Rayhan.
"Jihan..."
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
...----------------...