Terpaksa Menjadi Purel

Terpaksa Menjadi Purel
Penjelasan


__ADS_3

Satu bulan berlalu, Jihan mulai jenuh dan berpikir bahwa Abbas memang benar-benar sengaja mengirimnya ke sini agar Rayhan tidak bisa mengetahui keberadaan nya.


"Jihan, lihat ini.."


Jihan yang sedang menikmati sarapan pagi segera bangkit dari tempat duduknya begitu mendengar sang Ibu berteriak menyuruhnya untuk datang.


Jihan segera menghampiri sang ibu yang sedang berada di depan televisi.


"Ada apa, Bu?" tanya Jihan.


"Lihat itu." ucap Ibu sambil menunjuk ke arah televisi yang sedang memberitakan tentang pertunangan putra keluarga Sultan dengan Putri Sultan juga.


Jihan terkejut melihat Rayhan sedang dalam proses pertunangan dengan putri sultan bernama Diandra Gautama Jackson.


Jihan langsung terduduk lemas. Dia sudah menduga ada sesuatu di balik dia yang dipaksa pergi meninggalkan rumah mewah itu.


"Jihan, apa kamu baik-baik saja?" tanya Ibu.


"Bu, sebaiknya kita pindah dari sini agar tidak terjadi masalah di kemudian hari," ucap Jihan.


"Jihan, Bukankah Tuan Abas sudah memberikan rumah ini dan segala fasilitasnya kepada kita. Jadi untuk apa kita meninggalkan semua fasilitas mewah ini dan juga segala yang memang patut kita nikmati."


"Tidak, bu. Jihan akan segera mencari pekerjaan dan juga rumah sementara untuk kita tinggali sebelum Jihan mendapatkan pekerjaan yang jauh lebih baik."


Ibu terlihat kesal mendengar rencana yang dikatakan Jihan, Ibu kamu dia memilih meninggalkan jihad dan masuk ke dalam kamar.


"Tidak apa-apa, Bibi mengerti kekecewaannya dirasakan oleh ibu kamu. Tapi apa yang kamu ingin lakukan sudah merupakan tindakan yang benar. Kita tidak bisa terus tinggal di tempat ini mengingat rumah dan segala fasilitas yang kita nikmati bukan milik kita. Kecuali memang Tuan Abas sudah memberikannya kepada kamu." ucap Bibi Santi.


"Terima kasih, Bibi. Bibi selalu bisa menenangkan kegundahan hatiku dari dulu hingga sekarang."


"Nak, kamu sudah seperti anak ibu sendiri. Ibu bahagia karena Ibu bisa memberikan sesuatu yang dapat membuat kamu mengambil keputusan dengan tepat. Maaf, karena Ibu tidak bisa membantu apapun selain hanya memberikan nasehat dan juga saran."

__ADS_1


"Tidak apa apa, seperti itu saja sudah membuat aku merasa bahagia."


"Begini saja, untuk sementara waktu kita tinggal di rumah lama Ibu saja. Ibu yakin rumah itu masih layak untuk ditempati walaupun ibu sudah tidak pernah pulang selama 1 tahun ini."


"Apa itu tidak akan membuat orang tua Bibi Santi kerepotan?"


"Rumah itu ditempati oleh keponakan bibi, karena kedua orang tua Bibi sudah meninggal dunia dan Bibi yakin jika kita tinggal sementara di sana selama beberapa bulan, keponakan bibit tidak akan keberatan."


Tiga hari kemudian, Abas datang seperti biasa untuk memberikan jatah bulanan bagi Jihan dan juga keluarganya.


"Jihan, maafkan aku karena aku terlambat memberikan uang ini kepada kamu. Ini aku sudah membuatkan kamu kartu rekening beserta ATM dan pin-nya sudah ada di dalam catatan ini, jadi untuk kedepannya Aku tidak akan lagi datang ke sini untuk memberikan uang bulanan kepada kamu."


"Maaf, tuan Abas. Sepertinya saya tidak bisa lagi menerima uang ini dari anda."


"Kenapa?"


"Tidak, Saya rasa tugas saya sudah selesai dan biarkan saya menjalani kehidupan saya sendiri tanpa bantuan dari orang lain."


"Bisakah anda memberikan aku penjelasan, Kenapa ada membohongi aku dan tidak mengatakan yang sejujurnya kepadaku?" tanya Jihan.


"Maafkan aku, Jihan. sebenarnya aku ingin sekali mengatakan yang sebenarnya kepada kamu, hanya saja aku takut ibu kamu bertindak gegabah dan datang menemui Tuan Rayhan."


"Tidak mungkin, Ibu tidak akan pernah tahu di mana tempat tinggal tuan muda itu."


"Kamu salah, Apa kamu pernah ingat saat kamu pergi ke rumah sakit untuk melakukan tes DNA terhadap orang yang mengaku sebagai ayah dari anak kamu, Alika?" ucap Abas yang dibalas anggukan kepala oleh Jihan.


"Saat itu, ibu kamu secara diam-diam masuk ke dalam mobil dan ikut aku saat aku akan mengantarkan berkas penting ke rumah Tuan Rayhan."


Jihan kemudian mengerti kenapa sang ibu terus mengatakan bahwa juga mempunyai hak atas harta kekayaan Rayhan, karena Jihan sudah seringkali tidur dengan Rayhan.


"Untung saja saat itu aku mengetahui keberadaan ibu kamu yang hampir saja berbicara mengenai hubungan kalian kepada orang tua Tuan Rayhan," lanjut Abas.

__ADS_1


"Jihan, aku tidak bermaksud untuk membohongi kamu. Semua yang aku lakukan ini semata-mata untuk melindungi kamu dari hal-hal yang tidak diinginkan. Aku bekerja dengan keluarga tuan Rayhan sudah hampir 10 tahun dan aku mengenal bagaimana mereka ketika ada hama kecil yang menyerang ketenangan keluarganya. Sekalipun yang bersangkutan menginginkan apa yang menjadi keinginannya. Tapi yang mempunyai kuasa atas segalanya adalah keluarga mereka."


"Sekali lagi maafkan aku, Jihan."


Jihan hampir saja menangis, namun dia berusaha untuk menahan air matanya agar tidak keluar mengingat inilah yang memang seharusnya terjadi. Jihan seharusnya mengerti bahwa status sosial tidak akan membuat mereka bisa bersama.


"Tetaplah tinggal di sini, anggap saja ini adalah upah karena selama ini kamu sudah membuat bahagia tuan Rayhan. Tidak peluk kamu pergi kemana-mana karena aku sudah membalik nama rumah ini menjadi namamu dan sertifikatnya akan segera aku berikan begitu aku sudah menyelesaikannya."


"Jihan, ini adalah kali terakhirnya aku datang. Jangan khawatir, aku akan tetap memberikan uang bulanan kepada kamu. Sampai beberapa bulan ke depan untuk memastikan bahwa kamu tidak akan hamil anak tuan muda."


"Tidak perlu lagi, Tuan Abas. Aku sudah sangat berterima kasih dan apa yang sudah diberikan Anda kepada saya sebagai upah karena saya sudah menyenangkan tuan muda selama beberapa bulan itu, sudah cukup. Anda tidak perlu lagi memberikan saya tunjangan hidup karena saya bisa menghidupi keluarga saya sendiri."


"Tidak, Jihan. Sebelum saya memutuskan apakah saya akan berhenti untuk memberikan tunjangan hidup kepada kamu. Saya harus memastikan bahwa kamu tidak hamil anak tuan muda dan sekalipun kamu akan hamil Kamu tidak akan melakukan sesuatu yang akan membuat kekacauan."


Jihan tersenyum kecut, beginilah wanita yang sebelumnya bekerja sebagai purel. Dia tidak akan dipandang benar dan akan selalu dipandang miring dengan hal-hal negatif dan juga buruk yang mungkin saja dia lakukan.


"Baiklah, lakukan apapun yang ingin anda lakukan," ucap Jihan sebelum akhirnya Abbas memilih untuk pergi meninggalkan Jihan.


Jihan melihat uang yang ada di amplop coklat dan juga kartu rekening yang dibuat atas nama dirinya.


Jihan melihat ke belakang dan memastikan bahwa ibunya tidak ada di sana untuk mendengarkan pembicaraan yang baru saja dia lakukan bersama dengan Abas.


Ibu, kenapa sekarang ibuku menjadi seorang yang gila harta dan kekayaan?. Tidak, Aku tidak akan membiarkan ibu berlama-lama dikendalikan oleh sifat serakah. Aku akan tetap pada pendirianku untuk pindah dan memulai kehidupan yang baru.


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2