Terpaksa Menjadi Purel

Terpaksa Menjadi Purel
Kamu adalah milikku


__ADS_3

Bukan Rayhan namanya jika dia membiarkan wanita yang sudah mampu mencuri hatinya, terutama wanita yang akan segera membuatnya berganti status menjadi seorang ayah, pergi begitu saja.


Rayhan segera menarik tangan Jihan dan membawanya ke dalam pelukan. Pelukan alat yang membuat Jihan merasakan kenyamanan yang luar biasa, merasakan ketenangan hati yang selama ini tidak pernah lagi dia rasakan.


"Aku mencintaimu, Jihan. Kamu adalah milikku. Selamanya kamu adalah milikku."


Jihan semakin menangis terutama saat Rayhan menciumnya. Abas memilih untuk mematikan telepon yang terus saja berdering dari orang tua Rayhan.


Abas juga memerintahkan kepada semua orang-orang yang ikut untuk mematikan ponsel dan membuang radar radio yang ada di telinga mereka.


Abas sudah memutuskan tidak akan mengikuti perintah dari tuan besar, Abas sadar, dia tidak bisa merapat hak seseorang untuk menentukan dengan siapa seseorang itu akan menjalani pernikahan dan hidup bahagia.


"Jihan, untukmu aku rela meninggalkan marga yang sekarang melangkah dalam namaku. Untukmu aku rela meninggalkan semua harta kekayaanku demi bisa mempersunting wanita seperti kamu."


"Apa kamu tidak malu mempunyai wanita yang dulunya bekerja sebagai purel? merupakan tidak suci lagi karena tubuhku ini sudah pernah dijamah oleh banyak pria."


"Itu adalah kisah dari masa lalu model bagian dari gelapnya kehidupan kamu. Sekarang, Aku ada di situ untuk menari Kamu dari sisi tergelap hidup kamu. Aku akan membawa kamu ke sisi dalam kehidupan ini."


"Tuan Rayhan..."


"Aku mencintaimu, Jihan."


Jihan melihat Abas yang mengangguk-anggukkan kepalanya. Jihan tersenyum kemudian memeluk Rayhan.


Niko yang melihat itu tanpa sadar meneteskan air mata dan tersenyum.


"Jihan, semoga Tuan Rayhan benar-benar mencintai kamu dan akan menjadikan kamu ratu sehingga setelah ini kehidupan kamu tidak akan pernah menyedihkan lagi."


Niko kekasih dan mengatakan bahwa dia akan menikahinya dalam waktu dekat.


"Maafkan aku karena aku selalu mengundur pesta pernikahan kita, sekarang aku yakin untuk melakukan pernikahan dengan kamu setelah aku melihat Jihan mendapatkan kebahagiaan."


...----------------...


Ibu Jihan yang awalnya merasa bahagia saat melihat kedatangan Rayhan, kini berbalik menjadi sangat maju tak kalah Rayhan mengatakan jika dirinya tidak akan pernah membawa Jihan dan juga ibunya untuk kembali ke negara tempat di mana dia berasal.


Rayhan yang mengatakan akan melepas semua gelar yang dia genggam selama ini dan juga akan memulai kehidupan yang baru dari bawah bersama Jihan, membuat Ibu Jihan menjadi sangat marah. Dia sangat kecewa pada Rayhan.


"Jihan, seharusnya kamu bisa membuat tuan muda kaya raya itu membawa kamu kembali ke negaranya. Jika memang dia benar-benar mencintai kamu dan ingin menjadikan kamu istri, sudah seharusnya dia membawa kamu dan memperkenalkan kamu kepada kedua orang tuanya."


"Bu, sebenarnya apa yang Ibu inginkan sehingga Ibu bersikap seperti ini? apa selama ini dia tidak pernah cukup untuk memenuhi segala kebutuhan yang Ibu inginkan?"


"Jihan, ibu itu hanya merasa kasihan terhadap kamu yang selalu saja dipermainkan oleh seorang pria, Ibu kasihan melihat kamu yang harus bekerja keras untuk menghidupi keluarga. Ibu ingin kamu mendapatkan seorang yang mapan dalam segi pekerjaan sehingga kamu tidak perlu lagi bekerja keras seperti ini."


"Bu, urusan jodoh dan rezeki itu sudah ada takarannya masing-masing. Sekalipun kita berusaha mengejar atau mendapatkan sesuatu yang mudah ditakdirkan untuk menjadi milik. Kita tidak akan mendapatkan nya."


"Huh, terserah kamu saja. Ibu tidak perduli. Mana sudi ibu mempunyai menantu yang sekarang jatuh miskin."

__ADS_1


Ibu kemudian memilih untuk keluar dari kamar dan menenangkan diri, Jihan membiarkan ibunya pergi ke sementara waktu. Namun siapa sangka. Di tengah jalan, ibunya berumur dengan Argan.


Melihat orang yang merupakan ayah kandung dari Alika, ide licik ibu tiba-tiba muncul.


Ibu mengatakan kepada Argan bahwa ini adalah ibu kandung jihad dan bisa mengantarkan Argan menemui Jihan dengan syarat setelah bertemu dengan Jihan, Argan harus segera menikahinya dan membawa Jihan kembali ke negara itu untuk menjadi keluarga Sultan.


Baru saja Ibu akan masuk ke dalam mobil setelah Argan setuju. Sebuah mobil lain tiba-tiba berhenti dan menarik Ibu Jihan agar dia tidak masuk ke dalam mobil Argan.


"Cih, tadi anaknya yang sok jual mahal tidak mau menerima uang dari aku agar dia tidak mendekati Argan. Rupanya dia menggunakan ibunya untuk merayu anakku."


"Mama..."


"Argan, cukup. Mama tahu kamu dulu melakukan kesalahan sehingga kamu memperkosa Jihan. Tapi bukan berarti kamu akan bertanggung jawab atas kehamilan yang pernah terjadi kepadanya. Mama sudah berbicara kepada Jihan dan Jihan mengatakan bahwa dia tidak akan pernah lagi mengganggu kamu dan tidak akan menuntut harta dari kamu."


"Ma, Argan harus bertanggung jawab dan menebus kesalahan yang sudah ada perbuat di masa lalu."


"Pulang, mama ingin kamu sekarang pulang. Jika kamu tidak ingin melihat mama...."


Brak !!


"Mama?"


Argan yang panik memilih untuk segera membawa ibunya kerumah sakit terdekat, rupanya cuaca ekstrem yang ada di Indonesia membuat mama Argan tidak bisa berlama-lama di bawah sinar matahari mengingat memang sang mama mempunyai penyakit yang membuat nya tidak bisa berlama-lama berada di bawah sinar matahari.


"Mama, ijinkan Argan untuk menikahi Jihan. Argan ingin bertanggung jawab atas kesalahan yang pernah Argan perbuat kepadanya."


Argan terdiam, sebenarnya dia juga berpikir hal yang sama. Perasaan bersalah yang terus menghantuinya membuat dia berpikir tidak menikahi jihan akan menjadi kan perasaan bersalah yang selama ini menghantuinya akan hilang.


"Pikiran ini baik-baik." ucap mama.


Tiga hari kemudian...


Argan berhasil menemukan keberadaan Jihan. Ibu merasa sangat senang melihat kedatangan Argan. Argan di sambut hangat oleh Ibu, itu Jihan sedikit tersinggung karena Ibu justru memperlakukan Argan dengan baik daripada Rayhan.


Namun, ibu gambar yang merasa kecewa saat Argan menyatakan maksud dari kedatangannya.


"Jihan, sebelumnya aku minta maaf karena aku pernah memaksa kamu untuk menerima aku dan kamu harus hamil."


"Tuan, Bukankah aku sudah berulang kali mengatakannya kepada anda bahwa anda tidak perlu lagi mengungkit masalah ini."


"Jihan, ketahuilah bahwa selama 6 tahun terakhir ini aku tidak bisa hidup dengan tenang karena aku selalu dibayang-bayangi perasaan bersama. Maafkan aku, aku akan memberikan uang untuk biaya pendidikan Alika sampai dia menikah. Maaf, karena ternyata aku tidak akan bisa untuk memintamu menjadi milikku. Aku sendiri tidak mempunyai perasaan apapun terhadap kamu selain perasaan bersalah dan ingin bertanggung jawab atas Alika."


"Tuan, seseorang memang pernah melakukan kesalahan. Beberapa di antara kesalahan itu ada yang tidak perlu untuk bertanggung jawab jika memang pihak yang lain merasa tidak dirugikan. Aku akan baik-baik saja, anda tidak perlu memberikan apapun untuk Alika. Anggap saja, kita tidak saling mengenal dan apa yang terjadi enam tahun lalu itu adalah sebuah kecelakaan."


"Tapi, Jihan..."


"Pulanglah, Tuan Argan. Tempat anda bukan disini."

__ADS_1


Argan menghela nafas panjang, Dia kemudian pergi dari Jihan. Kali ini, dia sudah tidak lagi merasa bersalah karena sebelumnya dia telah memaksa Jihan untuk melayaninya.


Argan menoleh ke arah Jihan yang tersenyum dan menganggukkan kepala tanda bahwa keputusannya untuk memilih melupakan kejadian dulu sudah benar dan paten.


Argan kembali ke negaranya bersama sang ibu, dan bersiap untuk memulai hidup yang baru bersama dengan wanita yang sudah sejak lama di kagumi Argan. Hanya karena perasaan bersalah itulah yang membuat Argan tidak kunjung meminang wanita pujaannya.


...----------------...


Satu bulan berlalu, Rayhan benar-benar serius dengan ucapannya yang akan meninggalkan semuanya demi bisa menikahi Jihan.


Abas dan orang-orang yang sudah dinonaktifkan dari pekerjaan yang untuk mendampingi Rayhan.


Rayhan tidak mendapat perlakuan yang baik dari ibu karena sekarang Rayhan benar-benar menjadi rakyat biasa seperti Jihan dan juga ibunya.


"Rayhan, Apa kamu yakin akan menjalani kehidupan seperti ini?"


"Bersama dengan wanita yang aku cintai, aku siap menjalani kehidupan seperti apapun."


Pernikahan sederhana yang di lakukan beberapa minggu lalu, menjadi awal kehidupan Rayhan dan Jihan.


Abas menutup segala akses bagi orang orang jahat yang ingin menemukan keberadaan Rayhan dan Jihan.


Abas tetap menjadi asisten Rayhan, yang bertugas untuk memastikan keamanan dan juga kesejahteraan dari Rayhan.


Abas yang saat itu sudah kembali ke negaranya, terkejut saat melihat kedatangan dari tuan besar yang mengatakan bahwa dia harus tetap kembali bekerja untuk Rayhan.


"Aku akan mengendalikan orang-orang yang sudah kecewa karena Rayhan membatalkan pernikahannya. Aku juga meminta kepada kamu agar kamu tetap mengawasi Rayhan, beri bantuan apapun yang dia perlukan tanpa membuatnya merasa curiga. Aku akan melihat seberapa kuat cinta yang dimiliki Rayhan untuk wanita itu."


"Tuan besar?" Abas memandang dengan pandangan tidak percaya.


"Pergilah, dan pastikan bahwa kehidupan putra dan juga menanti ku baik-baik saja."


Dan disinilah kehidupan Jihan berakhir, walaupun sang ibu tidak bersikap baik pada Rayhan karena tidak jadi menbuat mereka kembali merasakan kehidupan seorang Sultan. Lambat laun mulai berubah, melihat begitu besarnya cinta dan juga perhatian dari Rayhan kepada Jihan. Hati ibu mulai luluh. Ibu kembali menyayangi Rayhan.


"Ibu bisa melihatnya kan? Walaupun memang benar uang di atas segalanya. Tapi uang juga tidak menjamin seseorang akan merasakan bahagia."


"Untuk apa kita akan hidup sebagai seorang Sultan Jika ternyata kehidupan kita tidak akan pernah tenang mengingat akan banyak sekali orang yang berusaha untuk menghancurkan kebahagiaan kita. Lebih baik, kita hidup dalam kesederhanaan namun mendapatkan kebahagiaan yang melebihi kebahagiaan seorang Sultan," ucap Jihan sambil tersenyum dan melihat Rayhan dan Alika yang sedang bermain di taman.


"Kamu benar, maafkan ibu Jihan, karena sebelumnya ibu sudah meracuni pikiran kamu dengan harta dan kekuasaan." Jihan tersenyum dan memeluk Ibunya.


-Selamat berbahagia untukmu, Jihan.-


...----------------...


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2