
Ada banyak wanita yang baiknya melebihi Bebi di dunia ini. Tapi kenapa harus Bebi? Kenapa bisa-bisanya sang ayah menjodohkan Rico si manusia perfeksionis dengan gadis amit-amit sepertinya?
Inilah yang muncul di benak Rico sebelum tuan Wicaksno menjelaskan kronologinya.
Bisa dibilang, Rico dan Bebi adalah dua mahluk berbeda jenis tapi memiliki nasib sama buruk.
Kedua manusia itu sama-sama tidak mendapat kasih sayang dari orang tua lengkap. Bahkan bebi jauh lebih parah karena tidak pernah merasakan sosok ibu dari lahir hingga detik ini.
Sebenarnya bukan tanpa alasan juga kenapa Tuan Wicaksono dan ayah Bebi sepakat menjodohkan keduanya.
Dan hari ini, tepat sebelum Rico pulang ke rumah membawa ayahnya untuk menemui Bebi, Wicaksono mewakili ayah Bebi untuk menceritakan semua kisah gadis itu pada Rico.
Ah, kok gadis? Hampir saja lupa bahwa Bebi baru saja kehilangan kegadisannya, bahkan Rico belum sempat menenggak air putih setetes pun setelah melakukan kegiatan singkat yang tidak ada berkesannya sama sekali itu. Tanpa berniat mengikuti kemana Bebi pergi, Rico langsung memacu mobilnya kembali ke kantor setelah melakukan perdebatan memuakkan dengan perempuan itu.
"Kenapa ayah menjodohkanmu dengan gadis kecil model seperti itu? Itu 'kan yang ingin sekali kamu tanyakan pada ayah?"
Benar sekali, namun selama ini Rico memilih diam sambil sesekali memaki dalam hati.
Kenapa ia tidak membiarkan ayahnya mati saja agar ia tidak jadi menikahi Bebi? Itulah isi pikiran Rico setiap kali menghadapi tingkah Bebi yang aneh-aneh.
Ya, tetapi namanya darah daging, sebenci apa pun Rico tak akan tega membantah keinginan sang ayah yang saat itu hanya pura-pura sekarat agar anaknya mau menikah.
__ADS_1
"Meskipun tidak tahu persis seperti apa rumah tangga kalian, tapi sebenarnya ayah tahu seperti apa liarnya gadis kecil itu! Ayah tahu Bebi suka membantah. Ayah juga tahu kalau anak itu kecanduan game sampai parah."
Cuih!
Mendengar Wicaksono berkata seperti itu dada Rico sontak membuncah penuh amarah. "Lalu kenapa Anda masih nekad menjodohkanku dengan anak itu? Ingin membunuhku tanpa menyentuh biar keren?" sungutnya.
Tuan Wicaksono berusaha menghela sabar. Anaknya ini kalau bicara memang semaunya. Sebelas dua belas dengan Bebi yang notabene masih bocah ingusan di mata tuan Wicaksono.
"Karena kami para orang tua berharap kalian bisa saling melengkapi. Menikah dengan orang yang memiliki nasib sama pasti akan lebih mudah untuk mengerti satu-sama lain ke depannya."
Rico semakin geram. Bisa-bisanya Wicaksono memiliki pemikiran seperti itu. Di mana letak mengerti satu sama lain yang tua bangka itu maksud? Ingin rasanya Rico meneriaki Wicaksono saat ini juga andai pria tua itu bukan ayah kandunya.
Wicaksono tertawa sumbang.
"Kasih saja! Toh uangmu masih banyak. Kamu tidak akan jatuh miskin hanya karena memberi uang sepuluh juta perhari pada istrimu," ucap tuan Wicaksono santai sekali.
"Jadi ayah mendukung orang kecanduan game seperti itu? Ayah mendukung menantu Ayah berada di jalan yang sesat? Ayah tahu 'kan, dari kecil aku sangat membenci game!"
Wicaksono tersenyum penuh kemenangan saat Rico menyebutnya dengan panggilan ayah. Jarang-jarang Rico memanggilnya dengan sebutan ayah kalau tidak keceplosan seperti ini.
"Ayah tidak ada mendukung. Memangnya ada kata ayah yang menegaskan bahwa ayah mendukung kegiatan Bebi yang seperti itu?" jelasnya lebih rinci.
__ADS_1
Suasa di ruang kerja Rico semakin tegang. Asisten Wicaksono yang tengah duduk di pojok dekat pintu balkon berharap bisa tuli sejenak agar tidak mendengarkan perdebatan antar ayah dan anak itu.
"Tadi Ayah menyuruhku memberi uang sepuluh juta itu pada Bebi. Apa namanya kalau bukan mendukung?"
Wicaksono mengulangi perkataannya lebih tegas lagi. "Ayah tidak menyuruh. Ayah hanya berkata berikan saja uang sepuluh juta itu pada istrimu. Toh kamu tidak akan jadi miskin gara-gara uang segitu."
"Itu sama saja, Yah!"
"Ya mau diapa? Selama ini kamu hanya menuntut istrimu supaya menjadi pribadi yang baik. Tapi tidak ada keniatan sedikit pun untuk membimbing Bebi sampai detik ini. Kalau pun ada orang yang patut disalah itu kamu bukan Bebi! Kamu lebih tua, kamu lebih dewasa, kamu suaminya, tapi kamu tidak pernah melakukan usaha apa-apa selain menuntut Bebi menjadi apa yang kamu mau."
Jleb!
Rico seperti tertusuk panah tak kasat mata. Kalimat yang ayah ucapkan terdengar sangat menohok di telinganya. Setelah Doni, kini Wicaksono memberikan wejangan yang sama.
***
Up 2 Bab
Jangan lupa komen dulu sebelum scroll biar mbak otornya gak rajin crazy up.
Eh, kok aku ngrasa ada yang salah dengan kalimat di atas?
__ADS_1