
"Terus, kamu apain itu si Sumiati?"
Satu jitakkan melayang di kepala Bebi bersamaan dengan seringai tipis yang tersungging sinis dari bibir Rico.
"Kepo! Kamu pikir aku sudi menceritakan semua aibku kepadamu. Kisahku dan Sumiati cukup sampai di sini."
Rico mencibir, lantas menaikkan selimut hingga sebatas dada untuk memulai rutinitas tidur malam. Lebih tepatnya tidur dini hari si, karena jarum jam di dinding sudah menunjukkan pukul satu lewat.
"Hei, mau apa?" Merasa tidak terima, Bebi menarik selimut Rico. Di saat matanya baru saja mau terpejam, perempuan itu malah bangun dan mendudukkan diri dengan gerakkan kasar. "Jangan membuatku mati penasaran! Cepat ceritakan tentang si Sumiati itu!"
Ck. Membuat Rico mencibir sinis sekali lagi seraya menaikkan dua alisnya dengan angkuh. "Atas dasar apa kamu memaksaku menceritakan hal itu? Aku tidak bodoh ya, Babiana! Kamu pikir aku tidak tahu niat terselubung di balik semua rasa penasaranmu. Pasti ada maksud lain, yekan?"
"Idihhh! Bukannya tadi kamu bilang aku boleh minta apa saja? Jadi aku mau minta kamu cerita itu saja ke aku. Lagian cuma penasaran, tidak ada maksud apa-apa. Dasar pria negatif thingking!"
Bola mata Bebi yang berputar marah berhasil menghadirkan tawa keras di ruangan itu. Bebi memajukan mulutnya. Cemberut seraya menatap Rico lekat sekali.
"Hahaha! Yang aku maksud itu minta barang, bukan menceritakan masalah dan aib pribadiku. Itu cukup aku saja yang tahu," tolak pria itu bodo amat.
"Curang! Kalau konteksnya apa saja berarti aku boleh minta apa saja. Lagi pula aku cuma penasaran. Masih untung cuma tanya begitu. Daripada tanya kapan terakhir kamu mimpi basah, kan malu sendiri jawabnya!"
__ADS_1
"Hahaha!" Rico tertawa makin keras. "Kamu pikir aku tidak berani menjawab? Terakhir aku mimpi basah sekitar sebulan yang lalu! Saat malam pengantin kita di mana kamu menindih Dipsy-ku dengan kaki. Puas??"
"Isk!" Bukannya membuat Rico jadi malu, Bebi malah tersipu-sipu. Si gila yang satu itu memang titisan dakjal sialan! Berani-beraninya menceritakan hal se-intim itu kepada bocah masih polos sepertinya.
Sambil bersungut-sungut kesal, Bebi mandangi wajah puas Rico yang sedang tertawa lepas di sampingnya.
Sudut bibir Rico menyeringai. "Kenapa? Kamu malu?"
"Tidak!" sungut Bebi seraya kembali memposisikan diri untuk tidur. "Aku mau tidur aja, deh! Malas aku sama orang yang ceritanya setengah-setengah kayak kamu. Bikin muak aja!"
Kini Bebi memilih berbaring dengan kepala miring ke samping kanan agar tidak melihat wajah menyebalkan si Rico sialan.
Ah, sebel. Kenapa ia jadi penasaran dengan cerita Rico dan Sumiati begini, si?
"Ehemm!" Rico berdeham. Memperhatikan Bebi yang sudah terpejam tapi hanya pura-pura tidur. "Memangnya kamu beneran penasaran dengan apa yang aku lakukan pada Sumiati?"
"Ya iyalah!" jawab Bebi dengan ketus tanpa menoleh sedikit pun.
"Ok. Aku akan cerita, tapi janji dulu jangan mengejek atau memarahi kelakuanku. Itu hanya masa lalu yang sangat ingin kubur tapi susah sekali."
__ADS_1
Kontan Bebi menoleh. "Beneran mau cerita?"
"Iya!" jawab Bebi.
Pria itu sedikit mengernyit heran, memperhatikan raut wajah Bebi yang tampak girang seperti mendapat sekarung goni uang.
Sepenting itu kah sampai Bebi ingin tahu? Apa jangan-jangan dia sedang jatuh cinta dan cemburu? Ck. Bikin Rico salah paham saja anak satu ini.
"Aku cerita, tapi tidak gratis! Kamu harus membalasku dengan hal yang menyenangkan."
Bebi mengangguk yakin. "Bagaimana kalau aku izinkan kamu berpoligami dengan Sumiati? Barang kali saja suatu hari kamu berhasil menemukannya. Kuizinkan kamu menikah dengannya asal kamu mau cerita."
"Hoahaha! Yang kamu ucapkan tadi serius, wahai Petasan Bantin? Kamu mengizinkan aku menikah lagi?"
"Iya! Menikah saja sana dengan Sumiati! Aku tidak masalah."
"Keren-keren! Aku suka gaya istri yang seperti kamu. Oke, aku akan mulai cerita. Jadi Begini—"
***
__ADS_1
Besok baca ulang ya. Babnya panjang, tapi kepotong. besok muncul. Tunggu aja.