
"Jawab. Apa yang dilakukan anakku terhadap Bebi, Eriska? Dia main santet kah?"
Sama halnya dengan Eriska, mata tuan Wicaksono pun belum beralih dari pandangannya terhadap Rico. Ia makin curiga tatkala gelagat Rico makin aneh dan terlihat canggung dengan situasi ini.
Rico yang sempat terpaku di tempat mulai menunjukkan gelagat panik. Matanya melirik-lirik, tidak berani membalas tatapan ayahnya dalam beberapa detik. Wajah pria makin berubah pucat pasi lantaran sudah paham apa yang terjadi dengan Bebi di atas sana.
"Kejadian ini tidak ada sangkut pautnya dengan unsur santet, Tuan!" Mata Eriska masih tertuju jelas kepada Rico.
Detik itu juga tubuh Rico melemas. Ah, sialan! Kenapa tersangka utamanya harus Dipsy si? Wicaksono pasti akan membunuh Rico hidup-hidup saat mengetahui alasannya nanti.
"Lalu kenapa? Kenapa menantuku sampai kena gejala tetanus, Er? Ini tidak masuk akal! Apa yang dilakukan Rico sampai Bebi seperti itu."
Wicaksono masih memandang heran ke arah wanita berparas manis itu. Tak mau ayah sampai tahu masalahnya dengan Bebi, Rico berpura-pura panik untuk segera menarik lengan Eriska agar kembali ke atas.
"Bagaimana keadaan istri saya Dokter Eriska yang cantik? Sebaiknya kita ke atas sekali lagi, ya. Takutnya Bebi masih membutuhkan bantuan Anda. Bagaimana kondisi jantungnya, pernapasannya, apa semuanya masih aman? Ah, sepertinya dia agak batuk-batuk juga, kan?"
Rico dengan cepat menuntun Eriska agar menjauh dari Wicaksono. Matanya berkedip, memberi sebuah isyarat bahwa dirinya sedang dalam mara bahaya.
Eriska sedikit memberontak saat Rico menarik lengannya dengan paksa. Namun, wanita itu tak bisa berbuat apa-apa karena tenaga Rico jauh lebih luar biasa dibandingkan dirinya yang kecil ibaratkan capung.
Wicaksono yang melihat Eriska dibawa ke atas mendengkus kesal lantaran ia belum selesai membicarakan keadaan Bebi dengan Eriska.
__ADS_1
Rico melirik ke bawah dan mendapati ayahnya sedang menatapnya dengan nada mengancam.
"Kurang ajar kamu ya, Rico! Ayah belum selesai bicara! Bawa Eriska turun atau kupenggal kepalamu!"
Pria itu sedikit meringis sungkan. "Sebentar Yah! Aku ingin memastikan dokter Eriska memeriksa Bebi dengan benar. Takutnya pemeriksaannya salah atau ada yang kelewat. Masa ia wanita secantik istriku kena tetanus."
Buru-buru pria itu menarik Eriska untuk mempercepat langkah. Sesampainya di atas, dokter Eriska langsung menyentak tangan Rico sambil melotot garang ke arahnya. "Lepaskan aku! Beraninya kamu menarik-narik lenganku setelah memfitnahku tidak becus memeriksa istrimu!"
"Tentu saja berani. Memangnya siapa yang takut pada dokter gadungan sepertimu!"
Plakk!
"Dasar pria tidak tahu diri kamu Rico! Kenapa kamu menarik-narikku? Takut aku membocorkan rahasiamu, hah? Gila ya, aku pasti akan memberitahu ayahmu soal kelakuanmu yang satu itu."
Membuat Rico panik dan menutup mulut gadis itu seketika. Dokter Eriska berdiri menghadap ke arah tangga, sedangkan Rico berdiri mengarah pada pintu kamar Bebi yang masih terbuka.
"Jangan bicara macam-macam pada ayahku Eriska! Kamu tahu sendiri kalau dia sering sakit-sakitan. Sebaiknya kamu beritahu keadaan istriku. Bagaimana Bisa dia terkena gejala tetanus. Awhkk!"
Rico menjerit saat dokter Eriska menginjak kaki pria itu dengan sepatu hak tinggi miliknya. Dengan nada sedikit berteriak, Eriska membalas ucapan Rico.
"Istrimu sampai pendarahan begitu, tahu. Tentu saja kondisinya tidak baik. Kau lihat ke dalam, bahkan aku sampai memasangkan selang infus karena kondisinya sangat lemah dan dia tidak mau dibawa ke rumah sakit."
__ADS_1
"Terus apa hubungannya denganku, Eriska?" Rico menunjuk diri sendiri dengan muka bodohnya yang amit-amit. Membuat Eriska makin geram dan ingin menyuntik mati pria itu detik ini juga. "Andaipun dia kena tetanus pasti karena anaknya jorok dan jarang mandi. Bukan salahku!"
"Gila kamu ya Rico! Bisa-bisanya kamu lempar batu sembunyi tangan setelah berhasil memperkosa istrimu."
"Mana ada aku memperkosa. Hey Eriska! Dia itu istriku, kita sama-sama mau melakukannya kok," kilah Rico berbohong demi membela harga dirinya yang sangat dijunjung tinggi.
Eriska tersenyum kecut. Bibirnya menyungging sinis sambil melihat Rico dari puncak kepala hingga ke bagian sensitif yang tertanam di antara tulang paha. Pandangan gadis itu lebih ke arah jijik. Lebih tepatnya jijik dengan kelakuan tidak senonoh Rico kepada istrinya sendiri.
"Jangan pikir aku tidak tahu ya Rico. Aku ini dokter, bisa tahu apa yang terjadi dengan pasienku tanpa mereka jelaskan. Istrimu mengalami pendarahan karena ulahmu. Jika kamu tidak melakukannya dengan cara memaksa, miliknya tidak mungkin iritasi sampai bengkak dan mengalami pendarahan seperti itu. Entah kamu mau menyebut itu bukan paksaan atau apa, yang jelas keadaan istrimu sudah lebih dari cukup menjelaskan bahwa kamu melakukannya dengan paksaan. Terlebih itu adalah pertama kalinya baginya. Jahat kamu Rico. Kamu kejam!"
Mata Eriska berapi-apa saat mengatakan semua itu kepada Rico. Sebagai sesama perempuan ia sangat tidak terima melihat Bebi diperlakukan seperti itu oleh Rico. Dan ... saat tak sengaja Eriska menoleh, ternyata tuan Wicaksono sudah berdiri di belakang punggung Rico.
"Jadi semua ini ulah anakku?"
Sontak Rico menoleh terkejut sambil menepuk jidatnya sendiri.
"Matiiiiiii!"
***
300 komen aku up lagi. Jangan lupa kirimin kopi yang banyak buat temen begadang. Jangan jahat-jahat nuntut up. Ini aja up nebeng Wifi tetangga.
__ADS_1