Terpana Asmara Tuan Perkasa

Terpana Asmara Tuan Perkasa
Bab 18


__ADS_3

"Sini ... sini!" Wicaksono tersenyum ramah saat perempuan itu muncul dari balik pintu. Bebi tampak bersikap anggun dengan rambut ungu yang sudah disisir rapi barusan.


"Duduk di samping ayah!"


Perempuan itu baru saja hendak mengempaskan punggungnya di samping Rico. Namun Wicaksono begitu sigap menarik tangan Bebi agar duduk di sampingnya saja.


Rico mengernyit, memperhatikan langkah Bebi yang terlihat susah sekali sedari tadi.


Apakah itu karena ulahnya saat di mobil tadi? Masa sih? Bukannya Bebi bilang tidak ada rasanya sama sekali? Itu artinya tidak sakit, bukan?


Rico yang benar-benar awam soal wanita pun hanya dapat menebak-nebak sambil sesekali menggerutu. Ia tidak pernah tahu kalau wanita memiliki sikap sedikit lebih aneh dari kaum pria.


Ketika wanita bilang A, hal yang dia maksud adalah B. Dan saat ia bilang B, yang sebenarnya ia inginkan adalah A. Duh, teori seperti itu memang belum bisa Rico pahami sepenuhnya. Maklum, sampai menikah dengan Bebi statusnya adalah jomlo abadi.


"Ada apa Paman?"


Tumben dia bisa bersikap seperti wanita sungguhan.


Kalimat pertama yang muncul di kepala Rico adalah tumben. Ia sendiri lupa bahwa dirinyalah yang menyuruh Bebi berpura-pura menjadi manusia ketika bertemu ayah nanti. Kalau tidak seperti itu Rico yang akan repot karena harus disalahkan atas kesalahan-kesalahan Bebi.


Bebas boleh, tapi harus tahu aturan saat di depan Ayah. Catat!


"Belum bisa memanggil ayah, ya?" Tuan Wicaksno manggut-manggut tidak masalah.

__ADS_1


"A-ada apa, Ayah?" Sambil setengah tergugu Bebi mengatakannya. Abaikan Rico yang memasang wajah bingung karena tak tahu hal apa yang akan disampaikan oleh ayahnya.


"Lumayanlah," ujarnya. Beliau menjentikkan jarinya pada sekretaris yang berdiri di pojok ruangan. "Bawakan aku gawai!"


Sekretaris wanita itu langsung sigap. Mengambil gawai tuan Wicaksono dari dalam tas lantas melangkah lebar untuk memberikannya. Tentu saja setelah itu ia akan kembali ke tempat semula. Berpura-pura menjadi patung yang tidak tahu apa-apa.


Mau apa sih, dia?


Lagi-lagi Rico melirik dengan pandangan kesal saat tuan Wicaksono terlihat sedang menggeser-geser layar ponselnya.


"Sini!" Wicaksono menarik pundak Bebi agar mendekat padanya. Jarak duduk mereka sangat dekat layaknya sepasang kekasih. Rico sampai mengernyit, curiga tua bangka itu ternyata diam-diam menyukai menantunya.


Tak heran, bukan? Hal seperti ini memang sering kali terjadi di belahan bumi mana pun.


"Ini apa?" Perlahan tapi pasti. Bebi membulatkan matanya. Terfokus pada gambar yang menampilkan ruangan seperti di dalam rumah sakit. Di mana ayahnya tengah berbaring kaku dan perlahan ditutupi selimut hingga ke atas kepala.


Kenapa dengan ayahnya?


Rico memasang wajah was-was sambil menunggu cerita berikutnya. Saat buliran air mata langka bebi keluar dari sang peraduan, Rico tak tahan lagi untuk menjadi batu keramat yang sejak tadi hanya diam saja tanpa melakukan apa-apa.


"Kenapa dengan ayahnya, Yah?" tanya pria itu sedikit dibuat panik dalam intonasi pertanyaannya.


"Meninggal," jawab Wicaksono sambil mengusap-usap punggung anak itu.

__ADS_1


Kok bisa?


Pertanyaan Rico hanya dapat ia tahan dalam hati. Pria itu masih belum tahu harus melakukan apa saat melihat Bebi sudah berubah meraung-raung di pelukan Wicaksono.


Mau ikut menenangkan? Sungguh, ia tidak memiliki kemampuan semacam itu.


“Ayah kamu meninggal, satu minggu setelah kalian menikah," ucap Wicaksono sendu.


“Kenapa nggak ada yang ngabarin aku? Kenapa semuanya pada tega?” Suara Bebi terdengar tidak jelas, namun semuanya dapat memahami apa yang ditanyakan gadis itu.


"Maaf, ini adalah permintaan terakhir ayahmu, Nak."


Wicaksono sedikit tidak enak pada menantunya itu. Tapi mau diapa? Dirinya melakukan ini karena keinginan Dianu ayah Bebi. Katanya tidak ingin acara bahagia anaknya terganggu karena kabar sakit yang dideritanya.


“Pulang dari acara pernikahan kalian waktu itu, ayahmu sempat jatuh di kamar mandi, saat di larikan ke rumah sakit sempat sadar beberapa menit, lalu kembali koma dan tidak sadarkan diri. Dua hari kemudian baru sadar, namun kondisinya semakin memburuk hingga akhirnya mengembuskan napas terakhir. Tapi selama sadar, ayahmu sudah berusaha untuk tetap hidup, sayangnya Tuhan lebih menyayangi ayahmu.”


“Ayah Bebi sakit apa?” tanya Rico menyergah.


“Jantung dan komplikasi. Ada riwayat darah tinggi juga. Intinya penyakit yang diderita oleh kebanyakan orang tua,” ucap Wicaksono.


"Kamu yang sabar, ayahmu sudah tenang, sudah bertemu ibu seperti apa yang beliau inginkan semasa hidupnya."


Bebi semakin terisak-isak. "Kenapa ayah tidak bilang kalau sakit? Apa ayah masih membenciku karena aku cuma anak pembawa sial?" Pertanyaan menyayat Bebi lolos dari bibirnya begitu saja.

__ADS_1


***


Tunggu ke bab berikutnya.


__ADS_2