Terpana Asmara Tuan Perkasa

Terpana Asmara Tuan Perkasa
Bab 32


__ADS_3

"Bagaimana keadaanmu, Nak?"


"Sudah mendingan," kata anak itu sambil melirik wajah dokter Eriska yang tampak dipenuhi rasa bersalah. Melihat wajah dokter Eriska yang terkesan canggung, pasti sesuatu yang buruk sedang terjadi.


Dokter sialan itu tidak menceritakan hal yang tidak semestinya dia ceritakan, 'kan? Please jangan sampai membuatku mati kutu karena malu.


Dan belum hilang pikiran negatif Bebi, detik kemudian Wicaksono malah melayangkan pertanyaan yang membuat wanita itu ingin menghilang dari bumi selama-lamanya.


"Apa kalian baru saja melakukannya?"


Kontan darah di ujung jempol Bebi mengalir deras hingga ke puncak ubun-ubun. Dia tidak menjawab, hanya menatap dokter Eriska dengan pandangan memaki. Dokter sialan! Menyesal aku cerita padamu, heuh!


"Melakukan apa?" tanya Bebi kura-kura dalam perahu alias pura-pura tidak tahu.


"Bercinta," sela dokter Eriska penuh telak. Kontan Bebi mengalihkan pandangannya ke arah lain demi menutupi rasa malu.

__ADS_1


"Jangan takut, Nak! Jika Rico memaksamu melakukan itu katakan saja pada ayah. Biar ayah penjarakan anak itu sekalian. Meskipun statusmu adalah istrinya jika belum siap dipaksa tetap akan ada aturan hukum yang berlaku," kata Wicaksono sambil memandang sengit ke arah Rico.


Pria itu melipat dadanya dengan santai. "Katakan pada tua bangka itu yang sebenarnya!"


Nada bicara Rico terdengar menantang karena merasa paling benar. Yang membuat Rico melakukan adegan pemaksaan tanpa pemanasan ialah Bebi sendiri. Bebi yang memancing dengan mengatakan bahwa miliknya terlalu mini sampai tidak ada rasa apa-apa.


Dokter Eriska yang penasaran ikut menimpali. "Katakan saja jika Anda dipaksa Nona Bebi. Kami semua ada di pihakmu. Jika memang Tuan Muda yang satu itu memaksa, kami akan menindak lanjuti perbuatannya."


"Cuih! Kalian berdua sangat menjijikan!" kesal Rico geram.


"Gejala tetanus apanya? Pasti Eriska yang tidak becus memeriksa. Mana ada orang bercinta sampai kena tetanus!"


Mendengar Rico bicara seperti itu Eriska mulai meradang. "Tentu saja ada Tuan Muda Rico yang agung! Jika Anda bercinta dengan paksaan tanpa melakukan adegan permulaan, benteng takeshi yang masih original milik istri Anda akan terluka, luka yang terbuka di bagian sensitif akan memudahkan bakteri masuk, setelah bakteri berhasil masuk maka dia akan bermutasi dan menjadi tetanus jika tidak segera ditangani."


Rico mengangguk. "Oh, kalau konsepnya seperti itu bisa jadi dia yang jarang mandi dan jorok. Tidak ada hubungannya denganku! Mungkin ini hanya kebetulan semata. Iya 'kan, Beb?"

__ADS_1


Bebi mendengkus, tatapan begitu dingin dan mencekam. Ini memang salahku yang telah memancing buaya yang berkamuflase menjadi teletubbis, tapi aku kesal mendengar manusia itu mengata-ngataiku jorok dan tidak pernah mandi. Padahal aku rajin mandi tiga kali seminggu.


"Pria memang egois. Sudah salah malah menyalahkan perempuan!"


"Siapa yang egois. Dasar dokter palsu," ketus Rico makin menantang. Keributan antara Eriskan dan Rico membuat keduanya lupa dengan tujuannya ke kamar Bebi.


Wicakono melempar satu bantal hingga mengenai wajah Rico. "Sudah-sudah, jangan pada ribut di depan orang sakit kalian berdua!" Wicaksono beralih pada Bebi. "Abaikan saja dua orang itu, Sekarang langsung ke intinya saja. Apakah benar Rico telah memaksamu melakukan hubungan itu, Bebi?"


Bebi memandang Rico yang langsung menatapnya penuh arti.


Please, jangan berdusta kau Petasan Banting! Ingatlah sepuluh juta yang kukasih setiap hari padamu.


Begitulah sorot matan Rico berkata tanpa bicara.


***

__ADS_1


Hargai coretan tidak jelas ini dengan bunga dan kopi yang sangat banyak. Eaaaaaaa ๐Ÿ˜š๐Ÿ˜š


__ADS_2