
Bebi mengembuskan napas sepanjang-panjangnya. Ia tatap ayah mertuanya dengan air muka tenang. Lebih tepatnya dibuat tenang agar rasa malu itu segera hilang.
Lantas, ia beralih menatap Rico. Pria itu terlihat paling cemas di antara semuanya. Pasti Rico berpikir Bebi akan mengatakan kedustaan.
Dasar pria bodoh!
Kalau Bebi mengatakan Rico melakukan pemaksaan, yang ada Wicaksono akan marah dan memperketat hubungan mereka. Akhirnya Bebi juga yang ikut terkena imbas dari kejadian ini.
Maka Bebi membelokkan detail cerita tragedi anu-anu singkat tersebut. Dari yang tragis direvisi sedemikian rupa agar terdengar manis.
"Iya, kita baru melakukannya tadi siang," aku Bebi membenarkan. Suaranya begitu lirih. Namun terdengar sangat jelas di telinga semuanya. Ia pun mengulas senyum singkat. "Tapi yang kita lakukan tadi siang sama sekali tidak ada unsur keterpaksaan, kita melakukannya secara sukarela, sama-sama cinta dengan tujuan ingin memberikan cucu untuk Ayah."
"Benarkah seperti itu, Nak?" Wicaksono yang semula marah berubah sumringah. Bebi tersenyum ramah. Untung saja ia berhasil meredakan suasana kecanggungan tanpa harus banyak-banyak membuat drama untuk berkilah.
Rico tersenyum puas mendengar kebohongan Bebi. Dua buah jempol ia layangkan pada anak itu. Malah kalau bisa dua jempol kaki ia mutilasi untuk diberikan pada anak itu sebagai bentuk apresiasi.
Hei Bodoh! Apakah aku harus jujur kalau kita anu-anu di mobil? Sepertinya yang itu tidak harus di katakan, 'kan?
wanita itu memandang Rico penuh tanda tanya besar di kepala. Mereka diam, tetapi seperti memahami isi pikiran masing-masing.
__ADS_1
Rico menggeleng, memberi kode lewat kedipan mata bahwa penjelasannya sudah lebih dari cukup. Kini Giliran ia memberi pelajaran pada Eriska dan ayah kandungnya yang terlalu kepo pada hubungannya bersama Bebi.
"Apa kalian sudah dengar yang istriku katakan? Kita melakukannya dengan sukarela!" Rico menekankan nada bicaranya di akhir kalimat. Lantas matanya beralih pada Wicaksono yang sejak tadi diam seperti kehilangan kata-kata. "Dengarkan Yah? Kami ingin segera memberikan cucu untuk Ayah. Kami takut Ayah dipanggil Tuhan sebelum sempat melihat cucu Ayah."
"Kurang ajar kamu ya!" Wicaksono yang masih tidak mau kalah lantas menyergah. "Kalau benar melakukannya dengan suka rela kenapa Bebi bisa sampai iritasi begitu?"
Ck. Rico tertawa sumbang. "Tentu saja karena milikku sangat besar!"
Sontak kalimat itu membuat semuanya menatap jengah ke arah Rico. Kecuali Bebi yang tertunduk malu dengan wajah merah layaknya tomat yang akan membusuk di pohonnya.
"Sombong sekali kamu, Rico!"
"Memangnya bisa seperti itu Eriska? Kamu 'kan dokter, kenapa diam saja?" tanya Wicaksono pada gadis yang berdiri kaku di sampingnya.
Eriska tersenyum geli menahan malu. "Bisa jadi begitu si Tuan! Terlalu besar dan minimnya penetrasi dapat membuat milik wanita iritasi. Terlebih kalau keduanya sama-sama masih awam. Mengenai gejala tetanus, bisa jadi karena lupa membersihkan diri setelah melakukannya."
Kemudian Eriska menatap geram ke arah Rico.
Dasar Rico tidak tahu diri. Yang seperti itu kenapa diceritakan di hadapanku yang belum pernah merasakan langsung?
__ADS_1
Meskipun ada rasa kesal sedikit, kali ini Eriska tak membantah ucapan Rico sedikit pun. Menurut medis yang pria itu katakan terbilang masuk akal. Apalagi ini merupakan pertama kali untuk keduanya. Pasti selalu ada drama memalukan bagi setiap pasangan yang baru pertama kali buka warung, eh, untuk Rico mungkin lebih enak bobol ruko, pikir Eriska.
"Kalau begitu saya undur diri. Maaf atas kesalahpahaman yang terjadi. Yang penting obatnya jangan lupa di minum ya nona Bebi. Jangan melakukan itu dulu sampai keadaan nona sudah benar-benar pulih. Jika sudah tidak terlalu lemas, infusnya boleh dicopot."
Bebi menjawab wejangan Eriskan dengan anggukkan pelan.
"Baiklah! Sudah tidak ada yang ingin dibicarakan lagi, 'kan? Bisakah kalian pergi tinggalkan kita berdua? Kalau bisa sekalian tutup pintunya!" Rico naik ke atas ranjang. Duduk di samping Bebi sambil pura-pura membenarkan selimut anak itu.
Wicaksono melengos dengan ketus. Ia melangkah keluar kamar dengan bantuan Eriska dan juga tongkat sakti di tangan kanannya.
"Ayah!" panggil Rico pelan.
Sang ayah yang sudah berada di ambang pintu menoleh ke belakang. Rico berkedip melempar senyum tanda sengit.
"Jangan lupa suruh anak buahku kembali tidur. Bilang boneka santetnya sudah ketemu dan tidak perlu melakukan hal tidak berguna seperti itu." Sambil merangkul pundak Bebi. Kemudian berpura-pura mengecup puncak kepala anak itu agar hubungan mereka terlihat seperti pasangan suami istri sungguhan.
"Hmmm." Pintu ditutup oleh Wicaksono dengan kasar. Drama malam ini cukup melelahkan, Wicaksono butuh ekstra tidur agar kejiwaannya bisa kembali normal.
***
__ADS_1
Lagi gak? Masih ada stock nih. $?##. Jangan lupa kasih bunga dan kopi dulu. Wkkwkw.